Rekomendasi Harga Minyak 11 Agustus 2026 : Naik Terpicu Ketidakpastian Pembukaan Selat Hormuz

110

(Vibiznews – Commodity) – Harga minyak mentah dunia melonjak tajam sekitar 5 persen pada perdagangan awal pekan dan masih bergerak kuat di zona hijau pada perdagangan hari ini, Selasa (11/8/2026). Kenaikan signifikan ini dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian politik internasional serta ancaman gangguan jalur distribusi minyak global yang kembali membayangi pasar energi dunia.

Berdasarkan penutupan bursa berjangka terbaru, kontrak berjangka minyak mentah acuan global jenis Brent melonjak ke kisaran 87,55 hingga 87,72 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak acuan Amerika Serikat jenis West Texas Intermediate (WTI) naik tajam dan bertengger di level 82,13 dolar AS per barel. Penguatan agresif pada awal pekan ini melanjutkan tren bullish yang telah berlangsung dalam beberapa hari terakhir, mengonfirmasi bahwa premi risiko geopolitik di pasar energi kembali membesar secara signifikan.

Faktor terbesar yang mendorong kenaikan harga minggu ini adalah memudarnya harapan pasar akan pembukaan kembali Selat Hormuz. Perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran dilaporkan mengalami jalan buntu, setelah Iran menuntut pencabutan blokade ekonomi secara total serta ganti rugi perang dari Amerika Serikat. Mengingat wilayah tersebut merupakan jalur vital bagi sepertiga transportasi minyak laut dunia, pasar kini mengantisipasi risiko kemacetan pasokan yang berpotensi berkepanjangan, sehingga premi risiko yang tadinya sempat menyusut kembali melebar dengan cepat.

Kekhawatiran atas pasokan semakin diperparah oleh eskalasi konflik fisik baru di kawasan Timur Tengah. Milisi Houthi mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap kilang minyak Jazan milik Arab Saudi. Selain itu, sebuah kapal tanker minyak yang dioperasikan oleh perusahaan nasional Abu Dhabi (ADNOC) dilaporkan turut diserang di wilayah Selat Hormuz pada akhir pekan lalu. Rentetan serangan terhadap infrastruktur dan jalur pelayaran energi ini semakin memperkuat sentimen bahwa ancaman gangguan pasokan fisik bukan lagi sekadar risiko wacana, melainkan kejadian yang terus berulang di lapangan.

Dari sisi fundamental Amerika Serikat, pasokan internal turut mengetat seiring merosotnya Cadangan Minyak Strategis (Strategic Petroleum Reserve/SPR) milik pemerintah AS hingga di bawah 300 juta barel, level terendah sejak tahun 1983. Minimnya cadangan penyangga tersebut membuat Amerika Serikat semakin rentan terhadap kejutan pasokan global, sekaligus mengurangi ruang bagi pemerintah untuk melakukan intervensi pasar apabila harga energi kembali melonjak tajam.

Selain faktor geopolitik dan pasokan, pelaku pasar saat ini juga tengah memantau rilis data inflasi Amerika Serikat (Consumer Price Index) yang dijadwalkan pada pertengahan pekan ini. Indeks Dolar AS (DXY) yang bertahan di level rendah sekitar 99,81 turut memberikan dukungan bagi penguatan harga komoditas. Pelemahan dolar membuat pembelian minyak mentah menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang asing, sehingga turut mendorong permintaan dan memperkuat momentum kenaikan harga secara keseluruhan.

Analisa Teknikal

Secara teknikal, minyak mentah WTI yang bertengger di level 82,13 dolar AS per barel menempatkan pivot point harian di kisaran level tersebut, setelah mengonfirmasi breakout dari zona konsolidasi sebelumnya di bawah level 80 dolar AS per barel. Selama harga mampu bertahan di atas pivot point, momentum bullish berpeluang berlanjut menuju resistance 1 di kisaran 83,20 dolar AS per barel, dengan target lanjutan di resistance 2 pada area 84,50 dolar AS per barel apabila eskalasi konflik di Timur Tengah kembali memanas. Sebaliknya, apabila terjadi aksi ambil untung, support 1 berada di kisaran 81,00 dolar AS per barel sebagai bantalan jangka pendek, dengan support 2 di area 79,60 dolar AS per barel sebagai lapisan pertahanan berikutnya jika tekanan jual mendadak muncul.

Untuk minyak mentah Brent, dengan harga bergerak pada kisaran 87,55 hingga 87,72 dolar AS per barel, pivot point harian berada di sekitar level 87,60 dolar AS per barel. Penembusan resistance 1 di kisaran 88,80 dolar AS per barel berpotensi membuka jalan menuju resistance 2 di area 90,00 dolar AS per barel, level psikologis penting yang terakhir kali diuji pasar beberapa pekan lalu. Sementara itu, support 1 berada di kisaran 86,30 dolar AS per barel, dengan support 2 di area 85,00 dolar AS per barel sebagai batas pertahanan apabila muncul sinyal de-eskalasi mendadak dari perundingan AS-Iran.

Secara keseluruhan, arah pergerakan harga minyak dalam beberapa hari ke depan akan sangat bergantung pada perkembangan lanjutan negosiasi AS-Iran terkait status Selat Hormuz, intensitas serangan terhadap infrastruktur energi di kawasan Teluk, serta rilis data inflasi AS pertengahan pekan ini yang berpotensi memengaruhi arah Indeks Dolar dan turut menentukan minat beli terhadap aset komoditas dalam jangka pendek.