Rekomendasi Harga Gula 11 Agustus 2026 : Naik Terpicu Defisit Pasokan Global

61

(Vibiznews – Commodity) Harga gula dunia melonjak tajam hingga menyentuh level tertinggi dalam 10 bulan terakhir pada perdagangan hari Selasa, melanjutkan reli kuat akibat kekhawatiran mendalam atas pengetatan pasokan global untuk musim tanam 2026/2027.

Harga kontrak berjangka gula mentah dunia atau raw sugar NY-11 di bursa ICE Futures terpantau diperdagangkan kokoh pada kisaran 16,45 hingga 16,46 sen dolar AS per pon, setelah sempat menguji batas atas di level 16,50 sen dolar AS, yang merupakan rekor tertinggi sejak Oktober tahun lalu. Sejalan dengan pergerakan di bursa New York, harga gula putih berjangka kontrak acuan di bursa London atau white sugar #5 juga bertahan tinggi di sekitar 504 dolar AS per metrik ton, setelah sempat menyentuh level 505,40 dolar AS per metrik ton, yang merupakan level tertinggi sejak Mei 2025.

Kenaikan agresif harga gula dunia sepanjang pekan ini didorong oleh akumulasi sejumlah faktor kritis. Sentimen pertama datang dari cuaca ekstrem yang mengikis produksi di kawasan Eropa dan Asia. Lembaga riset pangan mencatat adanya penurunan tajam proyeksi hasil panen di wilayah Uni Eropa dan Inggris akibat gelombang panas serta kekeringan ekstrem, dengan produksi gula di kawasan tersebut diperkirakan menyusut menjadi 14,98 juta metrik ton, level terendah dalam 11 tahun terakhir. Di saat bersamaan, risiko fenomena iklim El Nino turut mengancam pemulihan produksi tebu di negara produsen utama Asia seperti Thailand dan India.

Selain itu, pergeseran alokasi industri di Brasil selaku eksportir gula terbesar dunia turut berdampak masif bagi pasar. Akibat melonjaknya harga minyak mentah dunia imbas ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran di Selat Hormuz, pabrik-pabrik penggilingan tebu di Brasil lebih memilih mengalihkan alokasi tebu mereka untuk memproduksi etanol ketimbang gula mentah, seiring margin keuntungan di sektor energi yang dinilai jauh lebih menarik.

Faktor lain yang turut menopang penguatan harga adalah proyeksi defisit pasokan global. Lembaga perdagangan komoditas internasional seperti Czarnikow dan USDA secara resmi merevisi neraca gula global untuk musim 2026/2027, dari yang semula diproyeksikan surplus berbalik menjadi defisit bersih. Konsumsi gula dunia diproyeksikan terus naik mendekati rekor 180 juta metrik ton, sementara total produksi global justru melorot hingga 6,5 persen secara tahunan. Pengetatan neraca fisik inilah yang pada akhirnya memicu aksi beli spekulatif besar-besaran di pasar berjangka.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya harga gula mentah masih berpotensi melanjutkan tren penguatan seiring belum meredanya sentimen defisit pasokan global dan gangguan produksi di sejumlah negara produsen utama. Harga gula mentah diperkirakan bergerak menguji kisaran Resistance 16,60-16,80. Namun, jika muncul aksi ambil untung dari para pedagang setelah reli panjang yang membawa harga ke level tertinggi dalam 10 bulan, pergerakan berpotensi terkoreksi menuju kisaran Support 16,20-16,00.