Rekomendasi Harga Minyak 28 Agustus 2026

66

(Vibiznews – Commodity) – Harga minyak mentah dunia bergerak menguat tipis pada sesi perdagangan hari ini, Jumat (28/8/2026), setelah ditutup bervariasi pada malam sebelumnya. Minyak mentah WTI berhasil bangkit (rebound), sementara Brent tergelincir tipis, seiring respons pasar terhadap ketegangan geopolitik yang kembali meningkat di Timur Tengah serta proyeksi terbaru mengenai pasokan global.

Berdasarkan data perdagangan terbaru, kontrak berjangka minyak mentah acuan global jenis Brent ditutup turun tipis 0,10 dolar AS atau 0,1 persen ke level 87,83 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak acuan Amerika Serikat jenis West Texas Intermediate (WTI) ditutup naik 0,45 dolar AS atau 0,6 persen ke level 82,34 dolar AS per barel. Pergerakan yang bervariasi antara kedua patokan harga minyak dunia ini mencerminkan tarik-menarik sentimen antara faktor pasokan domestik AS dan kekhawatiran geopolitik yang belum sepenuhnya reda di kawasan Teluk.

Eskalasi konflik yang kembali meningkat di Timur Tengah menjadi faktor yang menahan harga minyak dari penurunan lebih dalam pada sesi ini. Para investor kembali memperhitungkan premi risiko terhadap jalur distribusi minyak mentah di Selat Hormuz, mengingat jalur maritim tersebut masih menjadi titik rawan utama bagi stabilitas pasokan energi global apabila ketegangan kembali memuncak dalam waktu dekat.

Penopang utama kenaikan harga minyak WTI datang dari data resmi Badan Informasi Energi AS (EIA) yang menunjukkan persediaan minyak mentah domestik Amerika Serikat menyusut melebihi perkiraan pasar. Penurunan stok yang lebih besar dari estimasi ini mengindikasikan permintaan domestik AS yang masih cukup solid, sehingga memberikan dorongan tersendiri bagi harga WTI di tengah pergerakan Brent yang justru sedikit melemah.

Di sisi lain, pergerakan harga minyak global secara keseluruhan cenderung terbatas karena pelaku pasar tengah bersiap mengantisipasi pidato Ketua Federal Reserve yang dijadwalkan berlangsung malam nanti dalam forum Jackson Hole. Arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat ke depan akan menjadi sinyal penting bagi prospek permintaan energi global, sehingga banyak investor memilih bersikap wait and see sebelum mengambil posisi lebih agresif menjelang akhir pekan.

Analisa Teknikal

Secara teknikal, minyak mentah WTI yang berhasil rebound ke level 82,34 dolar AS per barel menempatkan pivot point harian di kisaran level tersebut, setelah sebelumnya sempat tertekan pada sesi-sesi terdahulu. Selama harga mampu bertahan di atas pivot point, momentum penguatan berpeluang berlanjut menuju resistance 1 di kisaran 83,20 dolar AS per barel, dengan target lanjutan di resistance 2 pada area 84,50 dolar AS per barel apabila data penurunan stok AS kembali dikonfirmasi oleh rilis data lanjutan maupun eskalasi geopolitik yang lebih nyata. Sebaliknya, apabila pidato Ketua The Fed malam nanti cenderung hawkish dan menekan prospek permintaan, support 1 berada di kisaran 81,50 dolar AS per barel sebagai bantalan jangka pendek, dengan support 2 di area 80,30 dolar AS per barel sebagai lapisan pertahanan berikutnya.

Untuk minyak mentah Brent, dengan harga yang tergelincir tipis ke level 87,83 dolar AS per barel, pivot point harian berada di kisaran level tersebut. Selama harga tertahan di bawah pivot point, potensi konsolidasi lanjutan dapat mengarah ke support 1 di kisaran 87,00 dolar AS per barel, dengan support 2 di area 86,00 dolar AS per barel sebagai lantai pertahanan berikutnya jika sentimen risk-off kembali mendominasi. Sementara itu, resistance 1 berada di kisaran 88,60 dolar AS per barel, dengan resistance 2 di area psikologis 89,80 dolar AS per barel sebagai target apabila premi risiko geopolitik di Selat Hormuz kembali menguat.

Secara keseluruhan, arah pergerakan harga minyak dalam beberapa hari ke depan akan sangat bergantung pada isi pidato Ketua Federal Reserve dalam forum Jackson Hole malam ini terkait arah kebijakan suku bunga AS, perkembangan lanjutan ketegangan geopolitik di Selat Hormuz, serta rilis data resmi cadangan minyak mentah AS berikutnya dari Energy Information Administration (EIA) yang akan menjadi konfirmasi lebih lanjut atas tren pasokan domestik Amerika Serikat.