(Vibiznews – Commodity) Harga gula dunia ditutup melemah tajam pada perdagangan terakhir akhir pekan hari Jumat waktu AS, mengakhiri reli luar biasa sepanjang bulan Agustus yang sempat membawa harga komoditas pemanis ini menyentuh level tertinggi dalam 16,5 bulan terakhir, seiring aksi likuidasi posisi beli oleh para pelaku pasar setelah lonjakan yang dinilai terlalu cepat.
Harga kontrak berjangka gula mentah dunia atau raw sugar #11 di bursa ICE New York ditutup terkoreksi 3,51 persen ke level 17,55 sen dolar AS per pon, meski secara akumulatif masih mencatatkan kenaikan sekitar 21 persen sepanjang sebulan terakhir. Sejalan dengan pergerakan di bursa New York, harga gula putih atau white sugar #5 di bursa ICE London juga ikut terkoreksi ke level 525,50 dolar AS per metrik ton, meski dalam sebulan terakhir masih mencatatkan penguatan yang tajam.
Koreksi harga gula hari ini terutama dipicu oleh aksi ambil untung para pelaku pasar. Setelah harga gula melonjak hingga lebih dari 21 persen dalam sebulan terakhir, investor memanfaatkan momentum akhir pekan untuk mencairkan keuntungan. Penguatan nilai tukar dolar AS, menyusul pidato hawkish Ketua The Fed Kevin Warsh, turut menekan harga komoditas yang memang dinilai dalam mata uang dolar tersebut.
Meski terkoreksi tajam pada perdagangan hari ini, tren jangka panjang harga gula dunia masih didukung oleh ancaman pengetatan pasokan global. Lembaga analisis Green Pool Commodity Specialists memproyeksikan defisit gula global sebesar 3,2 juta metrik ton untuk musim 2026/2027. Sentimen ini diperkuat oleh proyeksi penurunan produksi Uni Eropa, di mana kawasan tersebut memperkirakan produksi gula mereka pada musim 2026/2027 akan anjlok hingga 19 persen secara tahunan menjadi hanya 13,4 juta metrik ton.
Selain itu, krisis pasokan gula di India turut menjadi sorotan pasar. Sebagai salah satu konsumen terbesar dunia, India terpaksa membuka keran impor raw sugar bebas bea masuk karena produksi tebu domestik mereka merosot akibat dampak cuaca buruk El Nino. Harga gula di pasar lokal India bahkan sempat melonjak hingga 40 persen sebelum akhirnya sedikit mereda.
Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya harga gula mentah berpotensi masih akan bergerak dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan koreksi lanjutan, seiring berlanjutnya aksi ambil untung pasca reli panjang sepanjang Agustus, meski tren bullish jangka menengah hingga panjang masih tertahan oleh sentimen defisit pasokan global. Harga gula mentah diperkirakan bergerak menguji kisaran Support 17,20-17,05. Namun, jika sentimen defisit pasokan kembali menguat dan memicu aksi beli lanjutan, pergerakan berpotensi mengarah pada pembalikan menuju kisaran Resistance 17,80-18,00.








