(Vibiznews – Commodity) Harga kakao di bursa komoditi berjangka New York ditutup melonjak drastis pada perdagangan akhir pekan hari Jumat waktu Amerika Serikat, atau Sabtu pagi waktu Indonesia, berhasil mencetak level tertinggi dalam 11 bulan terakhir. Lonjakan luar biasa ini dipicu oleh kekhawatiran hebat atas ancaman gagal panen serta penurunan kualitas biji kakao di kawasan Afrika Barat untuk musim mendatang.
Kontrak kakao acuan dunia di ICE New York ditutup melesat 7,50 persen ke level 6.636 dolar AS per metrik ton, sekaligus membukukan performa mingguan yang mengesankan dengan kenaikan mencapai 9,98 persen. Sementara itu, kontrak kakao di bursa London turut ditutup menguat 1,16 persen ke level 4.261 poundsterling per metrik ton, dengan performa mingguan naik 1,04 persen.
Lonjakan harga yang cukup ekstrem hari ini didorong oleh wabah penyakit akibat cuaca buruk yang melanda kawasan produsen utama. Kurangnya paparan sinar matahari di Pantai Gading dan Ghana memicu penyebaran masif penyakit busuk buah atau black pod disease, yang merusak kualitas buah serta menurunkan standar biji kakao yang siap dipanen.
Kekhawatiran pasar semakin diperparah oleh prediksi ambruknya produksi Ghana. Badan regulator kakao Ghana, COCOBOD, merilis hasil survei lapangan yang memperkirakan produksi musim 2026/2027 akan anjlok 13 persen menjadi hanya 650.000 metrik ton, dibandingkan dengan 750.000 metrik ton pada musim sebelumnya. Prospek yang tidak kalah suram juga membayangi Pantai Gading selaku produsen kakao terbesar dunia, di mana survei awal menunjukkan pembentukan buah muda atau cherelle berada di bawah rata-rata akibat dampak fenomena cuaca El Nino. Total produksi negara tersebut untuk musim yang dimulai bulan September diperkirakan merosot 18 persen menjadi 1,8 juta metrik ton.
Sentimen bullish pasar turut diperkuat oleh pemangkasan proyeksi surplus global yang dilakukan lembaga broker komoditas StoneX, yang memangkas perkiraan surplus kakao global musim 2026/2027 secara drastis dari estimasi awal 149.000 metrik ton menjadi hanya 25.000 metrik ton, mengindikasikan neraca pasokan dunia yang semakin ketat.
Sementara itu dari pasar domestik Indonesia, merespons tren kenaikan harga di pasar global, Kementerian Perdagangan Republik Indonesia secara resmi telah menaikkan Harga Referensi biji kakao sebesar 36,66 persen untuk periode Agustus 2026 menjadi 5.424,96 dolar AS per metrik ton. Langkah ini berimplikasi pada penetapan Bea Keluar dan Pungutan Ekspor masing-masing sebesar 7,5 persen, sebagai upaya mendorong hilirisasi industri cokelat premium di dalam negeri.
Analyst Vibiz Research Center memperkirakan pergerakan harga kakao pada perdagangan awal pekan selanjutnya masih berpotensi volatil tinggi di tengah kekhawatiran mendalam terhadap ancaman gagal panen di Afrika Barat serta menipisnya proyeksi surplus global. Apabila momentum penguatan berlanjut, harga kakao berpotensi menguji kisaran resistance di 6.700 hingga 6.850 dolar AS per metrik ton. Namun, apabila terjadi aksi ambil untung mengingat lonjakan tajam yang telah terjadi dalam sepekan terakhir, harga berpotensi terkoreksi menguji kisaran support di 6.400 hingga 6.200 dolar AS per metrik ton.








