(Vibiznews – Forex) Mata uang Euro ditutup turun pada akhir pekan hari Jumat tertekan penguatan dolar AS.
Pasangan mata uang EUR/USD ditutup turun 0,11% pada 1.1614.
Euro berada di bawah tekanan setelah dolar AS menguat setelah laporan data ketenagakerjaan AS bulan Agustus yang lebih kuat dari perkiraan.
Euro juga bergerak lebih rendah setelah data ekonomi hari Jumat menunjukkan penjualan ritel Zona Euro bulan Juli secara tak terduga turun paling tajam dalam dua tahun.
Penjualan ritel Zona Euro bulan Juli secara tak terduga turun -0,6% (m/m), lebih lemah dari perkiraan +0,2% (m/m) dan merupakan penurunan terbesar dalam dua tahun.
Namun penurunan Euro tertahan setelah pesanan pabrik Jerman bulan Juli naik lebih tinggi dari perkiraan.
Pesanan pabrik Jerman bulan Juli naik +2,5% (m/m), lebih kuat dari perkiraan +0,3% (m/m).
Pasar memperhitungkan peluang 100% untuk kenaikan suku bunga ECB sebesar +25 basis poin pada pertemuan kebijakan berikutnya tanggal 10 September.
Ketegangan AS-Iran kembali meningkat di akhir pekan setelah Teheran mengklaim adanya serangan baru terhadap kapal nirawak (drone boat) yang dioperasikan AS dan beberapa kapal komersial. Hal ini menambah ketegangan yang kian meluas di Selat Hormuz, menyusul serangan Washington terhadap tiga kapal tanker minyak Iran.
Sore nanti akan dirilis data GDP Growth Rate YoY 3rd Est Q2 Zona Euro yang diindikasikan meningkat.
Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya, mata uang Euro dapat bergerak turun terbebani penguatan dolar AS yang terdukung kenaikan data tenaga kerja AS dan ketegangan AS-Iran yang meningkat. Namun jika data GDP Growth Rate Q2 Zona Euro terealisir naik, akan menguatkan Euro. Pasangan mata uang EUR/USD diperkirakan bergerak dalam kisaran Support 1.1589-1.1564. Namun jika naik, akan bergerak dalam kisaran Resistance 1.1636-1.1658.








