(Vibiznews – Editor’s Note) – Pasar investasi domestik pada seminggu berlalu diwarnai dengan sejumlah isyu, di antaranya:
- Pasar keuangan di minggu lalu bergerak rally, perkasa mendekati 4 bulan terkuatnya.
- Menurut data BPS IHK Agustus mengalami kenaikan inflasi sebesar 3,19% (yoy).
- Neraca perdagangan Juli kembali mencatat surplus walau masih terbatas.
- S&P Global Manufacturing PMI Agustus terlihat dalam fase kontraksi: 49,8.
- Sentimen global saat ini masih sekitar prospek kenaikan suku bunga the Fed, serta tensi geopolitik Timur Tengah.
- Data ekonomi yang diperhatikan pasar pekan mendatang ini adalah data cadangan devisa Agustus pada hari Senin, rilis keyakinan konsumen Agustus di hari Rabu, serta data penjualan ritel pada hari Kamis nanti.
Minggu berikutnya, isyu prospek ekonomi dalam dan luar negeri, akan kembali mewarnai pergerakan pasar. Seperti apa dinamika pasar hari-hari ini? Berikut detail dari Vibiznews Domestic Market Review and Outlook 7-11 September 2026.
===
Minggu yang baru lewat IHSG di pasar modal Indonesia terpantau rally dan sempat mencapai 15,5 minggu tertingginya, atau hampir 4 bulan terkuatnya, lalu tertahan profit taking di hari terakhir, dalam kecenderungan uptrend selama 5 minggu terakhir. Sementara itu, bursa kawasan Asia pada seminggu ini umumnya mixed di tengah investor menduga arah kebijakan the Fed dari data inflasi dan tenaga kerja AS. Secara mingguan IHSG ditutup menguat cukup signifikan 1,88%, atau 122,485 poin, ke level 6.640,606.
Untuk minggu berikutnya (7-11 September 2026), IHSG kemungkinan akan diincar lagi profit taking pendek namun tetap uptrend, dengan mencermati sentimen bursa regional sepekan depan. Secara mingguan, IHSG berada antara resistance di level 6.787 dan 7.002. Sedangkan bila menemui tekanan jual di level ini, support ke level 6,373 dan bila tembus ke level 6,230.
Mata uang rupiah terhadap dollar AS pekan berlalu bergerak menguat di minggu kelimanya, juga mencapai level 15,5 minggu tertingginya, atau hampir 4 bulan terkuatnya, di antara penguatan mayoritas mata uang Asia seminggu ini. Rupiah secara mingguannya berakhir menguat 52 poin atau 0,29% ke level Rp17.633 per USD. Sementara, dollar global berupaya bangkit di hari terakhir dari level seminggu terendahnya oleh data NFP Amerika yang solid dan kembali mengangkat peluang kenaikan suku bunga the Fed di tahun ini.
Kurs USD/IDR pada minggu mendatang diperkirakan akan berupaya bangkit dari support-nya, atau rupiah kemungkinan sempat terkoreksi walau tetap bias uptrend, dalam range antara resistance di level Rp17.855 dan Rp17.932, sementara support di level Rp17.600 dan Rp17.460.
Harga obligasi rupiah Pemerintah Indonesia jangka panjang 10 tahun terpantau turun secara mingguannya, terlihat dari pergerakan fluktuatif naik dan berakhir ke level 7,102%. Sementara yields US Treasury terpantau melompat kuat.
===
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, IHK pada Agustus 2026 tercatat mengalami inflasi sebesar 0,21% (mtm), sehingga secara tahunan IHK mengalami inflasi sebesar 3,19% (yoy), naik dibandingkan IHK Juli yoy.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan Indonesia pada Juli 2026 mencatat surplus sebesar 0,12 miliar dolar AS, setelah mencatat defisit pada bulan sebelumnya sebesar 0,45 miliar dolar AS.
Berdasarkan laporan S&P Global, Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Agustus 2026 turun ke level 49,8, yang menandakan industri manufaktur nasional kembali ke zona kontraksi setelah sebelumnya berada di zona ekspansif 50,2 pada Juli 2026.
Penurunan ini terutama dipicu oleh penurunan output produksi dan penyerapan tenaga kerja yang bertambah lesu.
Pada Rabu, 2 September 2026, Ketua Mahkamah Agung, Prof. Dr. H. Sunarto, S.H., M.H. melantik Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia, Aida S. Budiman sebagai Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, dan Solikin M. Juhro sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia.
===
Dinamika pasar terus bergerak secara aktif, naik turun di pasar investasi. Ancaman datangnya inflasi global serta tensi panas geopolitik Timur Tengah telah mengkhawatirkan dunia, menyisakan kebingungan pasar untuk bagaimana menyikapinya. Sementara itu, momen dimulainya pengetatan kebijakan moneter the Fed dan bank-bank sentral global serta seberapa besar kecepatannya telah mengaburkan pilihan investasi yang cerdas.
Kalau Anda tidak punya waktu banyak kesempatan untuk mengikuti dan mengartikan pergerakan pasar demikian, Vibiznews.com dapat membantu Anda serta untuk keputusan investasi yang lebih akurat. Terima kasih telah bersama kami karena mengingat kami ada demi sukses investasi Anda, pembaca setia Vibiznews!
Alfred Pakasi/VBN/MP Vibiz Consulting







