(Vibiznews – Commodity) – Perdagangan minyak mentah dunia di akhir pekan ditutup melemah pada penutupan sesi terakhir, Jumat waktu Amerika Serikat atau Sabtu (12/9/2026) pagi waktu Indonesia. Meski demikian, kedua harga acuan minyak mentah dunia sukses mempertahankan posisinya di atas level psikologis 100 dolar AS per barel, sekaligus mencatatkan lonjakan performa mingguan sebesar lebih dari 8 persen akibat ketatnya pasokan global sepanjang pekan ini.
Berdasarkan data penutupan sesi Jumat, kontrak berjangka minyak mentah acuan global jenis Brent turun 2,81 persen atau melemah 3,02 dolar AS ke posisi 104,61 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak acuan Amerika Serikat jenis West Texas Intermediate (WTI) turun 2,37 persen atau melemah 2,43 dolar AS ke level 100,05 dolar AS per barel. Sebelum berbalik turun akibat aksi ambil untung menjelang penutupan, kedua tolok ukur komoditas energi tersebut sempat terbang menyentuh level tertinggi intraday mereka sejak pertengahan Mei lalu.
Koreksi harga minyak pada sesi Jumat dipicu oleh upaya mendinginkan tensi di kawasan Teluk, seiring para investor yang mulai mempertimbangkan sinyal upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan seputar Selat Hormuz. Sejumlah menteri luar negeri negara-negara Teluk dijadwalkan bertemu dengan perwakilan Iran di Oman pada hari Senin mendatang. Sinyal negosiasi terkait pengelolaan jalur air strategis ini memberikan ruang bagi pasar untuk menarik napas, setelah lonjakan harga yang eksponensial terjadi pada hari-hari sebelumnya.
Meski sempat mereda di akhir sesi, kecemasan pasar terhadap suplai jangka panjang tetap berada pada level yang tinggi. Citra satelit mendeteksi adanya asap tebal di sekitar infrastruktur krusial East-West Pipeline milik Arab Saudi, mengonfirmasi bahwa pasokan minyak Saudi telah anjlok ke titik terendah dalam lebih dari tiga dekade akibat serangan Houthi. Lumpuhnya sebagian pasokan minyak dari salah satu produsen utama dunia ini menjadi landasan kokoh mengapa harga Brent tetap nyaman bertengger di atas level 104 dolar AS per barel meski tengah terkoreksi.
Ketatnya pasokan global juga tercermin nyata pada sisi hilir, di mana harga rata-rata bahan bakar diesel di Amerika Serikat resmi melesat melewati angka 6 dolar AS per galon untuk pertama kalinya sepanjang sejarah. Rekor tertinggi harga diesel ini menjadi bukti bahwa hambatan logistik global dan ketatnya pasokan bahan bakar telah merembet jauh ke tingkat konsumen, tidak hanya terbatas pada harga minyak mentah di pasar berjangka.
Di sisi lain, Badan Energi Internasional (IEA) ikut meredam laju reli harga minyak dengan merilis pemangkasan tajam terhadap proyeksi permintaan energi global. Lembaga tersebut secara signifikan menurunkan proyeksi permintaan minyak, dengan memperkirakan kontraksi sebesar 2,5 juta barel per hari sepanjang tahun 2026. Revisi ke bawah ini turut memberikan sedikit penyeimbang terhadap sentimen bullish yang selama ini didominasi oleh kekhawatiran pasokan dari sisi geopolitik.
Analisa Teknikal
Secara teknikal, minyak mentah WTI yang terkoreksi ke level 100,05 dolar AS per barel berhasil mempertahankan posisinya tepat di atas level psikologis 100 dolar AS per barel, menempatkan pivot point harian di kisaran level tersebut. Selama harga bertahan di atas pivot point saat pasar kembali dibuka pekan depan, potensi rebound berpeluang membawa harga menguji resistance 1 di kisaran 101,80 dolar AS per barel, dengan target lanjutan di resistance 2 pada area 103,50 dolar AS per barel apabila pertemuan diplomatik di Oman hari Senin gagal menghasilkan terobosan berarti. Sebaliknya, apabila level psikologis 100 dolar AS per barel tertembus ke bawah, tekanan bearish berpotensi berlanjut menuju support 1 di kisaran 98,50 dolar AS per barel, dengan support 2 di area 96,80 dolar AS per barel sebagai lapisan pertahanan berikutnya jika sinyal de-eskalasi Hormuz semakin menguat.
Untuk minyak mentah Brent, dengan harga terkoreksi ke level 104,61 dolar AS per barel setelah sempat menyentuh level tertinggi intraday sejak pertengahan Mei, pivot point harian berada di kisaran level tersebut. Penembusan resistance 1 di kisaran 106,50 dolar AS per barel berpotensi membuka jalan menuju resistance 2 di area psikologis 109,00 dolar AS per barel, apabila krisis pasokan Arab Saudi akibat kerusakan East-West Pipeline terus memburuk. Sementara itu, support 1 berada di kisaran 102,80 dolar AS per barel, dengan support 2 di area psikologis 100,00 dolar AS per barel sebagai batas pertahanan krusial apabila pertemuan diplomatik di Oman membuahkan hasil positif dan revisi permintaan IEA mulai memengaruhi sentimen pasar secara lebih luas.
Secara keseluruhan, arah pergerakan harga minyak saat pasar kembali dibuka pekan depan akan sangat bergantung pada hasil pertemuan menteri luar negeri negara-negara Teluk dengan perwakilan Iran di Oman pada hari Senin, tingkat kerusakan lanjutan pada infrastruktur East-West Pipeline Arab Saudi, perkembangan harga produk olahan seperti diesel yang telah mencetak rekor tertinggi, serta respons pasar terhadap revisi tajam proyeksi permintaan minyak global dari IEA untuk tahun 2026.








