(Vibiznews – Index) Indeks Nikkei Jepang ditutup bangkit pada perdagangan hari ini, Rabu, 16 September 2026, berhasil memutus tren penurunan tiga hari berturut-turut meskipun bursa saham AS ditutup melemah semalam.
Indeks Nikkei 225 ditutup menguat 438,90 poin, atau naik 0,69%, dan berakhir di level 63.923,00. Sepanjang sesi perdagangan hari ini, indeks sempat bergerak volatil dan tergelincir ke zona merah pada sesi pagi, namun aksi beli masif yang dipimpin oleh transaksi berjangka berhasil mendongkrak indeks hingga ditutup di level tertingginya hari ini.
Kebangkitan indeks acuan Tokyo hari ini didorong oleh pelonggaran tekanan komoditas energi serta rotasi perburuan saham di paruh kedua sesi. Sentimen pasar ekuitas mendapat ruang bernapas setelah harga minyak dunia sedikit melandai dari lonjakan tajamnya. Minyak mentah Brent turun 0,6% ke kisaran USD 108 per barel, menyusul laporan peningkatan tak terduga pada stok persediaan minyak mentah AS. Penurunan ini berhasil meredakan sebagian kecemasan inflasi bagi korporasi Jepang.
Aktivitas pasar secara umum dibatasi oleh volume transaksi defensif, karena pelaku pasar global menanti pengumuman kebijakan moneter Federal Reserve AS malam nanti. Pasar mengantisipasi kepastian arah suku bunga acuan pertama dalam tiga tahun terakhir, di tengah inflasi AS yang masih persisten. Sesi perdagangan pagi sempat melemah karena sektor kecerdasan buatan bergerak bervariasi akibat tertekan sentimen global. Namun, memasuki sesi siang, momentum emiten teknologi dan semikonduktor berbobot besar berbalik menguat tajam, menyeret keseluruhan indeks keluar dari zona merah.
Penguatan indeks Topix yang lebih luas ditopang kuat oleh kelompok saham siklikal dan energi domestik. Saham-saham dari sektor produk minyak bumi, batu bara, pertambangan, serta tekstil dan pakaian menjadi motor utama penggerak papan atas bursa hari ini. Di sisi lain, selain faktor Amerika Serikat, investor domestik juga membatasi pergerakan portofolio agresif demi mengantisipasi pertemuan kebijakan moneter BOJ akhir pekan ini, seiring pelaku pasar mencermati potensi kelanjutan langkah pengetatan moneter bank sentral Jepang.








