(Vibiznews – Index) Bursa saham Korea Selatan berhasil bangkit pada penutupan perdagangan hari ini, Rabu, 16 September 2026. Indeks KOSPI ditutup melonjak tajam, berhasil memutus tren pelemahan beruntun selama empat hari berturut-turut.
Indeks acuan Korea Composite Stock Price Index (Kospi) ditutup naik 90,71 poin, atau menguat 1,37 persen, dan berakhir pada level 6.717,97. Bursa Seoul dibuka sedikit melemah di level 6.611,24 pada pagi hari, namun dengan cepat membalikkan arah dan mempertahankan momentum penguatannya secara konsisten hingga ditutup tepat di level tertinggi hariannya.
Kebangkitan masif hari ini didorong oleh aksi bargain hunting atau berburu saham murah pada sektor teknologi. Setelah ambruk sekitar 0,9 persen akibat kecemasan perlambatan AI global pada hari sebelumnya, investor menilai bahwa koreksi dalam pada KOSPI sudah terlalu berlebihan atau oversold. Para pemodal pun memanfaatkan momentum ini untuk melakukan aksi beli bersih massal pada saham-saham cip memori kelas berat.
Pergerakan naik bursa Seoul hari ini ditopang penuh oleh modal domestik. Di saat investor asing mencatatkan jual bersih sebesar 1,40 triliun won dan investor ritel melepas 1,69 triliun won, kelompok investor institusi melakukan aksi beli bersih sebesar 1,43 triliun won. Selain itu, perusahaan non-keuangan melakukan aksi beli bersih jumbo sebesar 1,66 triliun won, yang sebagian besar berasal dari aksi pembelian kembali atau buyback saham korporasi oleh emiten itu sendiri untuk menstabilkan harga pasar.
Raksasa semikonduktor nasional yang memegang bobot terbesar dalam indeks kompak melonjak tajam. Saham SK Hynix meroket 4,08 persen, sementara Samsung Electronics melesat 2,01 persen. Sektor baterai kendaraan listrik juga ikut menyokong bursa, dengan LG Energy Solution mencatatkan penguatan hampir 1 persen.
Meskipun KOSPI mencatatkan performa gemilang, volume pasar secara umum tetap dibayangi oleh sikap wait-and-see investor global yang menanti pengumuman suku bunga Federal Reserve malam nanti. Ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga acuan pertama AS dalam tiga tahun terakhir membatasi pergerakan portofolio yang lebih agresif sepanjang sesi.
Sentimen penguatan KOSPI sedikit terganjal oleh kekhawatiran biaya komoditas energi. Harga minyak mentah Brent bertengger di atas USD 108 per barel akibat gangguan pipa Arab Saudi dan ketegangan Timur Tengah. Bagi Korea Selatan yang berorientasi pada manufaktur ekspor dan bergantung pada impor energi murni, tingginya harga minyak ini menekan margin keuntungan bersih emiten non-teknologi, seperti saham otomotif Hyundai Motor yang melemah 1,36 persen pada penutupan perdagangan hari ini.








