(Vibiznews – Commodity) – Harga minyak mentah dunia diprediksi akan bergerak konsolidasi dengan kecenderungan melemah terbatas pada perdagangan pasar komoditas internasional hari Kamis (17/9/2026). Pergerakan harga komoditas energi ini mulai terpangkas dari level tertingginya seiring dengan meredanya kekhawatiran pasokan global serta menguatnya nilai tukar Dolar Amerika Serikat pasca pengumuman hasil rapat bank sentral.
Pada penutupan sesi perdagangan semalam, Rabu (16/9/2026), kedua kontrak acuan minyak mentah dunia kompak ditutup melemah signifikan sekitar tiga persen akibat maraknya aksi ambil untung oleh para investor. Minyak mentah acuan global jenis Brent ditutup anjlok 3,03 persen ke level 105,45 dolar AS per barel, merosot dari posisi puncaknya minggu ini yang sempat menyentuh level 108,75 dolar AS. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate acuan Amerika Serikat juga ditutup anjlok 3,65 persen ke level 101,97 dolar AS per barel, terkoreksi tajam dari kisaran tertingginya di 105,83 dolar AS per barel.
Tekanan jual yang memangkas reli harga minyak ini salah satunya dipicu oleh langkah mitigasi pasokan dari kawasan Timur Tengah. Kekhawatiran pasar atas gangguan distribusi akibat serangan terhadap jalur pipa Timur-Barat milik Arab Saudi mulai mereda setelah raksasa energi Saudi Aramco dilaporkan segera mengambil langkah alternatif. Perusahaan tersebut mengalihkan rute pengiriman ekspor melalui skema transfer antar kapal di Pelabuhan Sohar, Oman, guna memastikan kelancaran pasokan ke kilang-kilang di Asia. Langkah cepat ini berhasil menahan laju lonjakan premi risiko geopolitik lebih lanjut di pasar energi.
Dari sisi makroekonomi, penguatan tajam mata uang Dolar AS turut membebani pergerakan harga komoditas. Lonjakan indeks Dolar AS terjadi menyusul sikap hawkish dari Federal Reserve yang memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin dan mengisyaratkan akan terus mempertahankan kebijakan moneter yang ketat. Mengingat komoditas minyak diperdagangkan dalam denominasi Dolar, apresiasi mata uang ini secara otomatis membuat harga minyak terasa lebih mahal bagi para pembeli yang menggunakan mata uang lain, yang pada akhirnya menekan tingkat permintaan global.
Melengkapi sentimen negatif harian, fundamental pasokan domestik Amerika Serikat juga memberikan kejutan bagi para pelaku pasar. Laporan terbaru dari American Petroleum Institute menunjukkan bahwa stok minyak mentah komersial Amerika Serikat melonjak drastis sebesar 7,1 juta barel pada pekan lalu. Angka ini berbanding terbalik secara tajam dengan ekspektasi konsensus analis yang sebelumnya memperkirakan akan adanya penurunan cadangan sebesar 1,6 juta barel.
Fokus pasar pada perdagangan hari ini akan beralih sepenuhnya pada rilis data persediaan minyak resmi dari Energy Information Administration nanti malam untuk mengonfirmasi laporan data industri tersebut. Apabila data resmi mengonfirmasi adanya penumpukan pasokan domestik, tekanan terhadap harga minyak diyakini akan semakin membesar dan membawa harga menguji level dukungan teknisnya.
Untuk pergerakan selanjutnya, harga minyak mentah jenis Brent berjangka diperkirakan akan bertemu kisaran resisten di 107,20 – 108,80 dan support di 104,10 – 102,50. Sementara itu, untuk harga minyak mentah WTI berjangka diproyeksikan akan menemui kisaran resisten di 103,80 – 105,20 dan support di 100,50 – 98,80.








