Rekomendasi Harga Kakao 17 September 2026

42

(Vibiznews – Commodity) Harga kakao di bursa komoditi berjangka global ditutup menguat terbatas pada sesi perdagangan hari Rabu waktu setempat, berupaya bangkit setelah sebelumnya sempat tertekan ke titik terendah dalam dua minggu terakhir akibat sentimen melimpahnya pasokan jangka pendek.

Pergerakan kontrak acuan kakao di bursa ICE New York untuk pengiriman bulan Desember 2026 ditutup menguat 0,95 persen atau bertambah 56 dolar AS, menetap di level 5.949,69 dolar AS per metrik ton. Sepanjang sesi perdagangan, harga terpantau bergerak konsolidasi setelah sempat menyentuh area psikologis 5.900 dolar AS. Tren pemulihan serupa juga terjadi pada bursa ICE London, di mana kontrak pengiriman Desember 2026 ditutup naik 1,46 persen atau bertambah 63 pound sterling ke kisaran 4.370 pound sterling per metrik ton.

Katalis utama yang mempercepat kenaikan harga kakao, khususnya di bursa London, adalah merosotnya nilai tukar pound sterling terhadap dolar AS hingga menyentuh level terendah dalam satu setengah bulan terakhir. Mengingat kontrak kakao di bursa London diperdagangkan dalam mata uang sterling, pelemahan mata uang Inggris ini secara otomatis membuat harga komoditas menjadi relatif lebih murah bagi para pembeli yang memegang valuta asing lainnya, yang pada akhirnya sukses memicu aksi beli di pasar.

Meskipun mendapat dorongan sentimen positif dari pasar valuta asing, laju kenaikan harga kakao cenderung tertahan karena pasar saat ini sedang dibanjiri oleh pasokan fisik. Persediaan kakao bersertifikat yang tersimpan di gudang bursa ICE dilaporkan terus merangkak naik ke level tertinggi dalam dua tahun terakhir, mencapai sekitar 3,42 hingga 3,44 juta kantong. Kondisi pasokan jangka pendek yang sangat longgar ini juga diperkuat oleh total pengiriman kakao dari Pantai Gading sebagai produsen terbesar dunia menuju pelabuhan domestik, yang sepanjang tahun pemasaran berjalan telah melonjak hingga 18 persen mencapai 2,14 juta metrik ton.

Namun di sisi lain, kejatuhan harga yang lebih dalam ke zona merah berhasil dicegah oleh sentimen kekhawatiran ancaman defisit pasokan untuk musim panen baru 2026/2027 yang dimulai pada bulan September ini. Hasil survei awal di lapangan menunjukkan bahwa pembentukan buah kakao muda atau cherelle di Pantai Gading berada di bawah tingkat rata-rata historis akibat dampak lanjutan dari cuaca ekstrem. Temuan fundamental ini telah mendorong para analis untuk memangkas perkiraan surplus global secara drastis untuk proyeksi ketersediaan tahun depan.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya, pergerakan harga kakao berpotensi bergerak dalam fase konsolidasi merespons tarik-menarik antara sentimen melimpahnya stok harian dan kecemasan atas menyusutnya output musim depan. Harga kakao diperkirakan akan mencoba menguji area support di sekitar level psikologis 5.900 dolar AS per metrik ton jika tekanan jual kembali mendominasi. Namun, apabila pelemahan mata uang eksternal terus memicu aksi beli teknikal, pergerakan harga berpeluang melanjutkan penguatan menguji level resistance di atas area penutupan terbarunya.