IHSG Jumat Ditutup Menguat 0,95% ke Level 5.439; Bursa Asia Tertekan

107
Vibizmedia Photo

(Vibiznews – IDX) – Dalam perdagangan bursa saham, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) penutupan Jumat sore ini (23/10), terpantau menguat 51,35 poin (0,95%) ke level 5.439,26 setelah dibuka naik ke level 5.397,34.

IHSG melanjutkan rebound untuk hari keempat berturut-turut dan mencatat kenaikan tertinggi di antara indeks saham utama Asia, sementara bursa kawasan Asia sore ini umumnya tertekan, mencermati Wall Street yang berakhir tertekan semalam akibat aksi jual saham berbasis teknologi serta kenaikan kembali harga minyak dunia. Dengan penutupan hari ini, IHSG naik sekitar 4,90% sepekan dibandingkan penutupan akhir pekan lalu di level 5.185.

Rupiah berpotensi tertekan sentimen risk-off global akibat kekhawatiran terhadap kecerdasan buatan (AI), eskalasi geopolitik di Timur Tengah, dan memburuknya kondisi fiskal di Prancis. Tekanan juga datang dari lonjakan harga minyak mentah Brent yang menembus US$ 111 per barel dan kekhawatiran investor terhadap isu reklasifikasi MSCI. Sepanjang 2026, rupiah tercatat melemah 7,70% terhadap dollar AS.

Siang ini IHSG menguat 58,84 poin (1,09%) ke level 5.446,74 di akhir sesi pertama, setelah sempat tertekan ke titik terendah harian di 5.366,29 pada menit-menit awal perdagangan.

IHSG kemudian sempat terkoreksi ke kisaran 5.395 pada sesi II sebelum kembali bangkit dan mencapai level tertinggi harian di 5.455,21, lalu ditutup menguat 51,35 poin (0,95%) ke level 5.439,26.

Tercatat saat ini 477 saham naik, 187 saham turun dan 129 saham stagnan, dengan nilai transaksi sekitar Rp 16,19 triliun dari 43,93 miliar saham yang diperdagangkan.

Seluruh indeks sektoral kompak menguat, dengan kenaikan terbesar dicatat sektor barang konsumen siklikal yang naik 3,13%, perindustrian naik 3,12% dan energi naik 2,48%. Saham top gainers LQ45 antara lain AKRA, UNTR dan DEWA. Pada sesi pagi, reli IHSG ditopang saham-saham komoditas batu bara, di antaranya PTBA yang menguat 5%. Kemarin, investor asing tercatat melakukan jual bersih (net sell) senilai Rp 1,49 triliun.

Pelaku pasar juga mencermati kebijakan BEI, di mana mulai 2 November 2026, saham berkategori High Shareholding Concentration (HSC) tidak lagi masuk perhitungan IHSG.

Analis Vibiz Research Center melihat pergerakan bursa kali ini berakhir positif, dengan IHSG memperpanjang rebound empat hari beruntun dan bergerak berlawanan dengan mayoritas bursa kawasan Asia, di tengah tekanan saham teknologi global, kenaikan harga minyak, dan rupiah yang masih bertahan di atas Rp 18.000.

Berikutnya IHSG kemungkinan akan melanjutkan rebound-nya secara terbatas, namun rawan aksi ambil untung setelah penguatan empat hari beruntun, dengan mencermati sentimen global, harga minyak, arus dana asing, serta isu MSCI. Resistance mingguan saat ini berada di level 5.490 dan 5.600. Sedangkan bila menemui tekanan jual di level ini, support ke level 5.366 dan bila tembus ke level 5.185.