Emas Oktober 2026 Anjlok ke Level Terendah Setahun, Kinerja Tahun 2026 Masih Negatif

101

(Vibiznews – Commodity) Harga emas menutup Oktober 2026 dengan koreksi tajam. Emas spot berakhir di sekitar US$3.875 per ons troy pada Jumat, 30 Oktober, sementara emas berjangka AS (COMEX) kontrak Desember ditutup di US$3.898,90. Keduanya berada di level terendah sejak Oktober 2025 dan menandai penurunan bulanan kedua berturut-turut. Dibandingkan rekor tertinggi Januari 2026 di kisaran US$5.590, harga emas kini sekitar 30% lebih rendah, dan sepanjang tahun berjalan emas sudah turun sekitar 10%.

Angka kunci

Indikator Emas spot Emas berjangka AS (COMEX)
Penutupan 30 Oktober sekitar US$3.875,19 US$3.898,90 (Desember); US$3.885,70 (kontrak bulan terdekat)
Perubahan 30 Oktober sekitar -3,5% -3,29% (Desember)
Perubahan sepanjang Oktober sekitar -6,5% hingga -7% -6,49% (kontrak bulan terdekat)
Rekor 2026 sekitar US$5.590–5.595 (28–29 Januari) US$5.318,40 (penyelesaian, 29 Januari)
Kinerja tahun berjalan (YTD) sekitar -10,4% -10,17%

Pergerakan emas spot sepanjang Oktober

Awal bulan: bertahan di atas US$4.100. Emas spot menutup September di US$4.157,14 dan diperdagangkan sekitar US$4.177 pada 1 Oktober. Pada 9 dan 12 Oktober harganya masih di kisaran US$4.163–4.169, sehingga hingga pertengahan bulan emas praktis bergerak mendatar mendekati posisi awalnya.

Pertengahan bulan: tekanan data inflasi. Setelah rilis inflasi konsumen AS September (naik 0,6% bulan ke bulan, dengan inflasi energi tahunan sekitar 20%), emas sempat turun sekitar 1,3% pada hari rilis, ke kisaran US$4.095. Harga kemudian pulih dan ditutup di US$4.168 pada 16 Oktober. Pada 20 Oktober emas masih berada di sekitar US$4.133–4.145.

Pekan ketiga: tembus ke bawah US$4.000. Kenaikan harga minyak dan meningkatnya risiko di Timur Tengah membebani emas. Pada 22 Oktober harga turun ke sekitar US$4.050–4.066, terendah sejak awal Agustus. Pada 23 Oktober emas jatuh di bawah US$4.000 dengan titik terendah sekitar US$3.975.

Pekan keempat: gagal bertahan di US$4.000. Emas sempat rebound ke sekitar US$4.016 pada Senin, 26 Oktober, saat harga minyak turun. Setelah The Fed menahan suku bunga pada 28 Oktober, harga hanya bergerak sekitar US$4.035–4.040 dan sulit bertahan di atas US$4.000.

Penutup bulan: aksi jual tajam. Pada Jumat, 30 Oktober, emas spot anjlok sekitar 3,5% ke sekitar US$3.875, level terendah sejak Oktober 2025. Dalam sepekan emas turun 3,74%.

Sumber : diolah dari berbagai sumber

Emas berjangka AS (COMEX)

Kontrak Desember 2026 (GCZ6), yang paling aktif diperdagangkan, bergerak sejalan dengan harga spot:

  • 13 Oktober: ditutup di US$4.177,3.
  • 23 Oktober: ditutup di US$4.007,9 (-1,29%), dengan titik terendah intraday US$3.989,1.
  • 30 Oktober: dibuka di US$4.033,6, sempat menyentuh US$3.879,3 dan ditutup di US$3.898,90 (-3,29%) dengan volume sekitar 230 ribu kontrak.

Untuk kontrak bulan terdekat, data yang dilaporkan menunjukkan emas turun 6,49% sepanjang Oktober dan ditutup di US$3.885,70, level terendah sejak 3 Oktober 2025. Harga itu 26,94% di bawah rekor penyelesaian US$5.318,40 yang dicetak pada 29 Januari 2026.

Apa yang menggerakkan emas?

  1. Siklus pengetatan The Fed. Pada September The Fed menaikkan suku bunga 25 basis poin ke kisaran 3,75%–4,00%, kenaikan pertama sejak 2023. Pada 28 Oktober bank sentral menahan suku bunga dengan suara 10-2, tetapi pasar memperkirakan peluang kenaikan lagi pada pertemuan 9 Desember (sekitar 89% menurut CME FedWatch yang dikutip sebelum pertemuan). Suku bunga tinggi menaikkan biaya peluang memegang emas yang tidak memberi imbal hasil.
  2. Inflasi yang dipicu energi. Kenaikan harga minyak memperkuat kekhawatiran inflasi dan membuka peluang pengetatan lanjutan, yang menekan emas.
  3. Level teknikal US$4.000. Emas berulang kali gagal bertahan di atas US$4.000 pada pekan terakhir, dan tembusnya level ini mempercepat aksi jual.
  4. Perak jatuh lebih dalam. Perak turun sekitar 14% sepanjang Oktober, sehingga rasio emas-perak naik dari 68,8 menjadi 78,7 dan memperlihatkan melemahnya selera risiko di pasar logam mulia secara umum.

Menariknya, imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun justru turun dari 5,29% menjadi 4,94% selama Oktober, dan dolar sempat melemah setelah keputusan The Fed, namun emas tetap tertekan. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan emas dengan imbal hasil dan dolar sedang tidak biasa.

Kinerja emas sepanjang 2026

Emas memulai 2026 di kisaran US$4.323 (penutupan akhir 2025 untuk harga spot). Penyelesaian pertama emas berjangka pada 2 Januari 2026 berada di US$4.314,40.

Periode Perkembangan
Januari Emas menembus US$5.000 dan mencetak rekor sepanjang masa. Harga spot mencapai sekitar US$5.589 (28 Januari) hingga US$5.595 (29 Januari), tergantung penyedia data. Reli didorong tensi geopolitik, pembelian bank sentral, dolar yang lemah, dan arus masuk ke ETF. Pada puncaknya, emas spot naik sekitar 29% sejak awal tahun.
Februari Pada 10 Februari emas berjangka menetap di US$5.071,60, naik 17,25% secara YTD.
Maret Setelah serangan AS-Israel ke Iran pada 28 Februari, emas justru turun lebih dari 9% hingga 19 Maret karena dolar menguat dan The Fed bernada hawkish.
April–Mei Emas turun ke sekitar US$4.620 pada 28 April dan sekitar US$4.467 pada 20 Mei, ketika imbal hasil obligasi AS 10 tahun berada di level tertinggi lebih dari satu tahun.
Juni–September Harga bergerak di bawah level rekor. Menurut satu sumber, Agustus mencatat kenaikan bulanan sekitar 13%. Pada akhir September emas berada di kisaran US$4.157–4.344, di tengah kenaikan suku bunga The Fed.
Oktober Emas jatuh kembali di bawah US$4.000 dan menutup bulan di sekitar US$3.875, terendah dalam setahun.

 

Kesimpulan kinerja: Hingga 30 Oktober, emas spot turun sekitar 10,4% sejak awal tahun (berdasarkan penutupan akhir 2025 di US$4.323), dan kontrak berjangka bulan terdekat turun 10,17% (US$439,90). Emas berjangka kini sekitar 27% di bawah rekor Januari. Secara tahunan, harga emas juga sedikit di bawah level setahun lalu (sekitar -3%).

Sumber : diolah dari berbagai sumber

Prospek November–Desember 2026

Emas memasuki dua bulan terakhir 2026 dalam posisi tertekan, dan arah harganya sebagian besar ditentukan oleh data ketenagakerjaan AS dan keputusan The Fed pada 9 Desember. Untuk menutup tahun tanpa kerugian, emas spot perlu naik sekitar 11,6% dari US$3.875 ke level akhir 2025 di US$4.323.

Agenda yang menentukan:

  • Pemilu sela AS (Selasa, 3 November) dan laporan nonfarm payrolls pekan ini. Menurut FXStreet, peluang kenaikan suku bunga Desember masih sekitar 80%, dan data tenaga kerja yang kuat bisa menguatkan ekspektasi tersebut.
  • Rapat The Fed 9 Desember. Pasar sudah memperhitungkan kenaikan 25 basis poin. Kenaikan yang terjadi sesuai ekspektasi cenderung menekan emas, sedangkan sinyal jeda bisa mendorong pemulihan.
  • Harga energi dan inflasi. Harga minyak yang turun sempat membantu emas rebound pada 26 Oktober, sementara kenaikan minyak menekan emas pada 22 Oktober.

Skenario yang bisa dipantau

Skenario Pemicu Level yang dipantau
Tekanan berlanjut Data tenaga kerja kuat, kenaikan suku bunga Desember dipastikan Support sekitar US$3.800–3.900
Bergerak mendatar Data campuran, pasar menunggu rapat 9 Desember Kisaran sekitar US$3.800–4.000
Pemulihan Data lebih lemah, harga minyak turun, peluang kenaikan suku bunga menyusut Resistance US$4.000, lalu sekitar US$4.075

 

Target bank besar jauh di atas harga saat ini. Per September 2026, Goldman Sachs menargetkan US$4.900 untuk akhir tahun, Commerzbank US$5.000, UBS US$4.600, dan J.P. Morgan serta Bank of America sekitar US$6.000. Target itu disusun sebelum penurunan Oktober dan banyak di antaranya sudah dipangkas sepanjang tahun, termasuk Goldman Sachs pada Juni dan Wells Fargo. Dengan harga sekarang, pencapaian target-target tersebut membutuhkan kenaikan sekitar 19% hingga lebih dari 50% dalam dua bulan, sehingga kemungkinan besar akan direvisi.

 

Kesimpulan: selama pasar masih memperkirakan suku bunga naik, emas cenderung sulit bangkit dengan cepat. Risiko terbesar bagi pandangan ini adalah data ekonomi AS yang melemah tajam atau eskalasi geopolitik, yang dua-duanya bisa menggeser ekspektasi The Fed dengan cepat.