Anjloknya rupiah diawal perdagangan pagi berhasil diredam Bank Indonesia sehingga penurunan nilai rupiah Jumat siang (11/11) berkurang cukup banyak di tengah posisi dollar AS yang sedang tertekan. Rupiah anjlok oleh aksi jual seketika investor asing yang mendominasi pemegang obligasi pemerintah merespon tingginya yield obligasi Amerika Serikat.
Anjloknya yield obligasi Asia di picu oleh sentimen kebijakan Donald Trump yang memproteksi perdagangan internasional negara Amerika nantinya. Kondisi rupiah ini juga berdampak pada bursa saham, dimana modal asing keluar bursa melebihi arus masuknya sehingga tercetak net sell asing sebesar Rp1,6 triliun lebih. Dan tekanan jual yang dilakukan investor asing tersebut turut menekan IHSG hingga turun 3%.
Lihat: IHSG 11 November Sesi 1 Merosot Tergerus Pelemahan Rupiah
Pergerakan kurs rupiah di pasar spot siang ini bergerak negatif dengan posisi penurunan 1,46% dari perdagangan sebelumnya dan kini bergerak pada kisaran Rp13610/US$ setelah dibuka kuat pada level Rp13394/US$. Untuk kurs Jisdor dan kurs transaksi antar bank yang ditetapkan Bank Indonesia hari ini diperlemah dari perdagangan sebelumnya.
Kurs jisdor yang ditetapkan Bank Indonesia lebih lemah di 13350 dari perdagangan sebelumnya di 13118, demikian kurs transaksi antar bank juga diperlemah ke 13417 dari perdagangan sebelumnya 13184.
Dan untuk pergerakan kurs Rupiah di pasar spot hari ini berpotensi kuat tapi terbatas pada akhir perdagangan oleh dollar AS sedang bergerak lemah, sehingga Analyst Vibiz Research Center memperkirakan rupiah bergerak di kisaran support 13980 dan resistance di 13200.
Joel/VMN/VBN/Analyst-Vibiz Research Center Editor : Jul Allens



