(Vibiznews-Forex) GBP/USD sempat diperdagangkan jauh dibawah 1.25, turun lebih dari 100 pips, sebelum akhirnya naik kembali ke atas 1.25. Penurunan matauang ini sebagian disebabkan karena menguatnya dolar AS secara luas pada paruh pertama perdagangan sebagai akibat dari jatuhnya pasar saham. Selain karena menguatnya USD, kejatuhan Sterling disebabkan karena kasus coronavirus, masalah kapan selesainya “lockdown” dan kerusakan ekonomi akibat wabah coronavirus.
Meningkatnya angka kematian di Inggris sebanyak lebih dari 4000 orang sehingga membuat lebih dari 12.000 orang mengalami kematian dan hampir 100.000 orang tertular, membebani pounsterling. Ketidak cocokan diantara para menteri Inggris dalam hal kapan waktunya “lockdown” selesai, apakah tangal 3 Mei atau 7 Mei, juga memberi tekanan terhadap pounsterling selain juga kerusakan ekonomi dimana Office for Budget Responsibility (OBR) mempublikasikan skenario dimana ekonomi Inggris diperkirakan akan menciut sampai 35% pada kuartal kedua dan untuk keseluruhan tahun 2020 GDP Inggris akan turun sebanyak 13%.
Pasangan matauang GBP/USD tertolong naik kembali setelah Amerika Serikat merilis data makro ekonomi yang negatif. Penjualan Ritel bulan Maret turun sebesar 8.7%, lebih buruk daripada yang diperkirakan sebesar -8%. Sementara Indeks manufaktur Fed New York tumbang ke – 78.2, lebih buruk daripada yang diperkirakan penurunan sebesar – 3.8. Dolar AS mengalami penurunan dengan keluarnya angka makro ekonomi AS yang negatif ini sehingga menyebabkan pasangan matauang GBP/USD terdorong naik kembali.
Momentum kenaikan dari GBP/USD memudar dengan “support” terdekat menunggu di 1.2490 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke 1.2385 dan kemudian 1.23.52. Sedangkan pergerakan naik akan berhadapan dengan “resistance” terdekat di 1.2580 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke 1.2645 dan kemudian 1.2720.
Ricky Ferlianto/VBN/Managing Partner Vibiz Consulting
Editor: Asido



