(Vibiznews – Forex) GBP/USD diperdagangkan diatas 1.39, disekitar 1.3953, naik karena turunnya angka coronavirus menaikkan ekspektasi akan segera dibukanya ekonomi Inggris Kembali. Dolar AS turun dari ketinggiannya bersamaan dengan turunnya imbal hasil.
Jangan pernah menganggap rendah konsumsi orang Amerika, lompatnya penjualan ritel AS di bulan Januari yang jauh diatas daripada yang diperkirakan sudah membuktikannya, sehingga mengangkat naik dollar AS. Apakah dollar AS akan terus naik? Tidak secepat itu dan belum tentu apabila menghadapi Poundsterling.
Naiknya penjualan ritel AS secara signifikan menunjukkan bahwa orang Amerika masih memiliki banyak uang untuk berbelanja. Hal ini mengakibatkan usulan paket stimulus dalam jumlah yang besar akan menghadapi perjuangan untuk bisa lolos, paling tidak jumlahnya akan harus berkurang banyak. Akibatnya imbal hasil treasury AS bisa turun dari ketinggiannya dan dengan demikian membuat dollar AS menjadi kurang menarik.

Sementara itu, pendekatan dari the Fed yang memandang setiap kenaikan harga sebagai inflasi yang sementara dan bahkan baik bagi AS yang bertentangan dengan keprihatinan dari pasar saat ini. Jika investor dapat diyakinkan sepenuhnya bahwa kenaikan tingkat bunga AS dan pengurangan pembelian obligasi masih lama, hal ini bisa membebani dollar AS.
Sementara itu di Inggris, turunnya kasus coronavirus secara tajam telah menaikkan ekspektasi bagi cepatnya dibuka kembali ekonomi Inggris. Selain itu, cepatnya pendistribusian vaksin yang telah mencapai hampir seperempat dari populasi memberikan tekanan kepada PM Boris Johnson untuk melonggarkan restriksi.
Secara keseluruhan, GBP/USD masih memiliki ruang untuk naik.
“Support” terdekat menunggu di 1.3825 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke 1.3770 dan kemudian 1.3750. “Resistance” terdekat menunggu di 1.3900 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke 1.3950 dan kemudian 1.40.
Ricky Ferlianto/VBN/Managing Partner Vibiz Consulting
Editor: Asido



