(Vibiznews – Forex) GBP/USD diperdagangkan mendekati 1.3100 di sekitar 1.3080, berbalik naik karena penurunan dollar AS akibat aksi ambil untung menjelang dikeluarkannya risalah pertemuan FOMC. Namun bertolak belakangnya kebijakan moneter BoE dengan the Fed, keengganan terhadap resiko dan sanksi-sanksi baru terhadap Rusia menahan pergerakan naik GBP/USD lebih jauh.
Sebelumnya pada hari Selasa, GBP/USD telah kehilangan daya tariknya karena menguatnya dollar AS. GBP/USD melanjutkan penurunannya ke kerendahan beberapa minggu yang baru di 1.3045 selama jam perdagangan sesi Asia pada hari Rabu pagi. Namun, pasangan matauang ini berhasil berbalik naik ke arah 1.3100 pada awal perdagangan sesi Eropa meskipun kesulitan mempertahankan momentum naiknya kecuali level 1.3100 berhasil ditembus dan berubah menjadi garis support.
Dolar AS menguat terhadap rival-rivalnya pada paruh pertama minggu ini di tengah naiknya yields obligasi treasury AS. Data dari AS menunjukkan bahwa aktifitas bisnis di sektor jasa berkembang dengan kecepatan yang lebih kuat pada bulan Maret. Selain itu, komentar yang hawkish dari the Fed telah meningkatkan ekspektasi akan kenaikan tingkat bunga sebesar 50 basis poin pada bulan Mei.
Yields obligasi treasury AS benchmark 10 tahun berada pada level yang tertinggi dalam lebih dari 3 tahun di 2.62%, naik lebih dari 2% per hari. Indeks dollar AS membukukan sedikit kerugian di bawah 99.50 setelah sempat melompat ke level tertinggi sejak bulan Mei 2020 di 99.75 sebelumnya.
Di tengah absennya data makro ekonomi yang dirilis dari Inggris, valuasi dollar AS akan terus menjadi penggerak pasangan matauang GBP/USD.
“Support” terdekat menunggu di 1.3050 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke 1.3000 dan kemudian 1.2050. “Resistance” terdekat menunggu di 1.3120 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke 1.3160 dan kemudian 1.3200.
Ricky Ferlianto/VBN/Head Research Vibiz Consulting
Editor: Asido.



