Rekomendasi EUR/USD Mingguan 11 – 15 April 2022: Adakah Harapan Naik?

1117

(Vibiznews – Forex) Euro mengalami minggu yang buruk pada minggu lalu, jatuh sampai ke level 1.0835 menghadapi dollar AS dan ditutup pada akhir hari Jumat di 1.0875. Dua faktor utama yang mendorong investor memburu dollar AS ketimbang euro adalah pendapat bahwa krisis Eropa Timur akan memakan waktu berbulan-bulan untuk bisa selesai dan sikap yang hawkish dari para bank sentral di seluruh dunia.

Pada minggu lalu ketegangan antara Barat dengan Rusia atas persoalan Ukraina meningkat. Pada akhir minggu sebelummnya, Ukraina menuduh Rusia melakukan pembunuhan masal terhadap penduduk sipil di kota Ukraina di Bucha. Sementara Rusia membantah telah melakukan kejahatan perang. Hal ini menyalakan kembali ketegangan antara Barat dengan Rusia dan memicu AS, Eropa dan Inggris untuk mengajukan tambahan sanksi terhadap Moskow.

Memasuki minggu perdagangan yang baru pada minggu lalu di 1.1048, EUR/USD terus tertekan dalam sebagian besar minggu lalu dan pada hari Jumat diperdagangkan di sekitar 1.0875.

Pada hari Senin, EUR/USD berjuang untuk bisa bertahan di perbatasan 1.1000, namun tekanan jual yang kuat membuat pasangan matauang ini turun ke bawah 1.1000. Dolar AS menguat, karena naiknya yields obligasi treasury AS.

Yields obligasi treasury AS benchmark 10 tahun berada pada level yang tertinggi dalam lebih dari 3 tahun di 2.62%, naik lebih dari 2% per hari.

Sementara itu, dollar AS terus berlanjut menguat menyambut laporan pasar tenaga kerja AS yang bagus dan komentar yang hawkish dari Presiden Federal Reserve San Fransisco Mary Daly yang meningkatkan ekspektasi kenaikan tingkat bunga sebesar 50 bps pada pertemuan the Fed bulan Mei.

EUR/USD melanjutkan penurunannya ke bawah 1.1000 dan diperdagangkan di sekitar 1.0915 pada hari Selasa. Matauang bersama Eropa berusaha mendapatkan permintaan di tengah meningkatnya keprihatinan bahwa ekonomi zona euro sedang meluncur ke resesi karena berkepanjangannya konflik Rusia – Ukraina.

EUR/USD terus melanjutkan penurunannya dan turun ke level terendah dalam hampir sebulan di 1.0874 pada awal hari Rabu dengan menguatnya kembali dollar AS karena naiknya kembali yields treasury AS. Sementara itu wakil kepala the Fed Lael Brainard meminta kenaikan tingkat bunga yang lebih tinggi dan pengurangan neraca pada bulan Mei, yang menambah kekuatan rally yields dan juga dollar AS.

Penurunan EUR/USD bertambah dengan keluarnya risalah pertemuan FOMC pada hari Rabu yang hawkish. Risalah pertemuan kebijakan FOMC bulan Maret pada hari Rabu menunjukkan bahwa para pembuat kebijakan cenderung memilih kenaikan tingkat bunga sebanyak 50 basis poin pada bulan Maret yang lalu dan bulan Mei akan menjadi waktu yang tepat untuk mulai mengurangi neraca.

Indeks dollar AS berada pada level tertinggi sejak Mei 2020, yang merefleksikan dampak yang positip dari sikap pengetatan the Fed yang agresif terhadap dollar AS.

Komentar the Fed yang hawkish bersamaan dengan data PMI jasa AS yang bagus meneguhkan kesepakatan akan kenaikan tingkat bunga sebesear 50 bps pada bulan Mei, dan menegaskan bertolak belakangnya kebijakan moneter antara the Fed dengan Bank of England.

EUR/USD sempat mendapatkan dorongan naik ke 1.0910 pada hari Kamis setelah ECB merilis risalah pertemuan kebijakan moneternya pada bulan Maret yang lalu. Risalah pertemuan kebijakan moneter ECB menunjukkan bahwa sejumlah besar anggota memandang level inflasi sekarang yang terus tinggi tanpa ada tanda-tanda turun memerlukan langkah segera ke arah normalisasi kebijakan.

Namun EUR/USD berbalik turun pada hari Jumat ke 1.0875 dengan masih jauhnya perbedaan kebijakan moneter the Fed dengan ECB. Presiden Fed St. Louis James Bullard mengatakan bahwa bank sentral AS perlu menaikkan tingkat bunga benchmark jangka pendek ke sekitar 3.5% yang menggerakkan indeks dollar AS naik ke level tertinggi sejak bulan Mei 2020 dan naiknya yields obligasi AS ke ketinggian selama tiga tahun.

Pada minggu ini para trader euro akan fokus kepada dua laporan penting yaitu laporan inflasi yang akan keluar pada hari Selasa dan keputusan tingkat bunga ECB pada hari Kamis.

Pada hari Selasa, Jerman dan AS akan mengeluarkan laporan inflasi bulan Maret.

Dengan akan keluarnya angka inflasi AS dan Jerma pada minggu ini, resiko turun pasangan matauang EUR/USD tetap tinggi.

Angka inflasi harga konsumen AS yang akan dirilis pada hari Selasa diperkirakan akan mengalami kenaikan disebablkan karena naiknya harga gasoline. Pada bulan Februari, harga gasoline nasional rata-rata sebesar $3.50 per gallon. Sementara pada bulan Maret sudah naik mencapai $4.19. Harga makanan juga mengalami kenaikan tajam dengan meningkatnya isu rantai supply, naiknya harga komoditi dan upah buruh.

Data inflasi yang tinggi akan memberikan tekanan terhadap kenaikan tingkat bunga oleh the Fed sebesar 50 basis poin pada bulan Mei.

Pada hari Kamis, ECB akan mengumumkan keputusan mereka mengenai tingkat suku bunga benchmark ECB yang akan diikuti dengan konferensi pers dari Presiden ECB Christine Lagarde.

Sekalipun risalah pertemuan kebijakan moneter ECB menunjukkan bahwa sejumlah besar anggota memandang level inflasi sekarang yang terus tinggi tanpa ada tanda-tanda turun memerlukan langkah segera ke arah normalisasi kebijakan.

Namun kepala ekonom European Central Bank (ECB), Philip Lane berpendapat bahwa penting bagi ECB untuk tidak bereaksi yang berlebihan dengan kenaikan yang terjadi atas inflasi.

Sementara para pejabat the Fed sebagian besar mendorong untuk the Fed melakukan pengetatan yang lebih agresif lagi untuk memerangi inflasi yang telah naik terlalu tinggi dalam waktu yang lama.

Hal ini membuat perbedaan kebijakan moneter antara ECB dengan the Fed terus melebar, ditambah lagi dengan ekonomi Eropa menghadapi kenaikan resiko resesi di tengah terus berlanjut krisis Rusia – Ukraina.

Kondisi ini membuat pasangan matauang EUR/USD semakin sulit untuk bisa bangkit.

Selain laporan inflasi dan keputusan tingkat bunga ECB, pada hari Rabu, Uni Eropa juga akan mengeluarkan data ekonomi Industrial Production YoY & MoM untuk bulan Februari.

Sementara itu dari AS selain akan dikeluarkan data yang paling penting saat ini yaitu angka Consumer Price Index (CPI) AS pada hari Selasa, pada minggu ini akan diikuti oleh data Producers Price Index (PPI) pada hari Rabu.

Para analis memperkirakan inflasi AS di bulan Maret akan mencapai ketinggian empat dekade yang baru di atas 8%.

Dan pada hari Kamis AS akan merilis data Retail Sales, weekly Jobless Claims dan Preliminary Michigan Consumer Sentiment yang akan membuat para trader GBP tetap sibuk sekalipun data dari Inggris tidak ada.

Terlepas dari data-data makro ekonomi yang akan dirilis pada minggu ini, komentar dari para pejabat the Fed, dan update berita yang akan datang dari krisis Ukraina akan menggerakkan sentimen pasar pada minggu ini.

“Support” terdekat menunggu di 1.0850  yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke 1.0805 dan kemudian 1.0750. “Resistance” terdekat menunggu di 1.0900 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke 1.0965 dan kemudian 1.1020.

Ricky Ferlianto/VBN/Head Research Vibiz Consulting

Editor: Asido