Rekomendasi Emas Mingguan 13 – 17 Juni 2022: Inflasi vs Kenaikan Tingkat Bunga

860

(Vibiznews – Commodity) Pasar emas tertawan di dalam peperangan antara naiknya tingkat bunga dengan inflasi. Namun momentum kelihatannya bergerak ke sisi bullish dengan harga emas mengakhiri minggu lalu di puncak dari rentang perdagangan di $1,871 per ons.

Harga emas telah bertengger di sekitar $1,850 selama tiga minggu terakhir.

Memulai minggu perdagangan yang baru pada minggu lalu di $1,863, harga emas turun ke $1,842 pada hari Senin, mengikuti turunnya harga minyak mentah. Pada hari Selasa berhasil naik kembali ke $1,850 karena aksi beli “perceived bargain hunting”, dan bergerak stabil pada hari Rabu. Pada hari Kamis bergerak turun ke $1,843 karena mulai menguatnya kembali USD sampai pada hari Jumat sehingga emas terbebani dan sempat diperdagangkan di sekitar $1,831 sebelum akhirnya berhasil bangkit dan naik ke $1,871. Setelah tekanan jual yang hebat pada hari Jumat pagi, emas mengalami rebound yang dramatis dengan harga emas bangkit dari support sedikit di atas $1,825 per ons.

Harga emas naik pada awal perdagangan sesi AS hari Senin,  mengikuti naiknya harga minyak mentah berjangka WTI di bursa Nymex yang sempat naik ke atas $120 per barel dalam perdagangan semalam. Namun dalam jam perdagangan selanjutnya harga emas kembali turun, mengikuti berbalik turunnya harga minyak mentah WTI ke sekitar $117. Berbalik menguatnya dollar dan yield treasury AS memulai minggu perdagangan yang baru juga menjadi faktor yang mendukung turunnya harga emas.

Emas berjangka kontrak bulan Agustus turun $21.20 ke $1,842.10 per troy ons.

Harga emas naik pada awal perdagangan sesi AS hari Selasa dengan masuknya para pembeli yang melakukan “perceived bargain hunting” setelah penurunan harga emas baru-baru ini. Melemahnya pasar saham AS dan masih tingginya harga minyak mentah juga bekerja mendukung kenaikan harga emas dengan meningkatnya ketakutan akan inflasi yang problematik.

Emas berjangka kontrak bulan Agustus naik $8.10 ke $1,850.50 per troy ons.

Harga emas naik sedikit pada awal perdagangan sesi AS hari Rabu. Pada pertengahan minggu ini, harga emas relatip stabil ditengah tarik menarik antara elemen bullish dengan aspek bearish. Elemen bullish bagi emas adalah naiknya harga minyak mentah dan masih goyahnya pasar saham AS. Sementara aspek bearish bagi emas adalah naiknya yields obligasi AS dan reboundnya indeks dollar AS belakangan ini.

Emas berjangka kontrak bulan Agustus naik $8.20 ke $1,858.30 per troy ons.

Harga emas turun pada awal perdagangan sesi AS hari Kamis, dan melanjutkan penurunannya setelah selesainya pertemuan kebijakan moneter regular dari European Central Bank (ECB) dengan berbalik menguatnya dollar AS.

ECB tetap mempertahankan kebijakan moneternya tidak berubah namun mengatakan kemungkinan akan menaikkan tingkat bunga mulai bulan Juli. Kebanyakan pasar saham global telah stabil pada minggu ini. Hal ini juga merupakan faktor negatip bagi pasar emas.

Emas berjangka kontrak bulan Agustus turun $15.00 ke $1,843.10 per troy ons.

Harga emas turun solid dan menyentuh kerendahan selama 3 minggu pada awal perdagangan sesi AS hari Jumat, di tengah-tengah laporan inflasi AS yang tinggi dan problematik. Inflasi yang tinggi ini menunjukkan bahwa yields obligasi dan indeks dollar AS akan terus naik.

Emas berjangka kontrak bulan Agustus sempat turun $12.60 ke $1,831.80 per troy ons.

Harga emas turun solid dan menyentuh kerendahan selama 3 minggu pada awal perdagangan sesi AS hari Jumat, di tengah-tengah laporan inflasi AS yang tinggi dan problematik. Inflasi yang tinggi ini menunjukkan bahwa yields obligasi dan indeks dollar AS akan terus naik.

Emas berjangka kontrak bulan Agustus sempat turun ke $1,831.80 per troy ons, sebelum akhirnya berhasil bangkit dan naik $23.80 ke $1,871.

Setelah sebelumnya turun menyentuh kerendahan selama 3 minggu, tiba-tiba harga emas berbalik naik dan menyentuh ketinggian selama 4 minggu.

Kebangkitan harga emas yang tajam disebabkan karena terjadinya aksi jual yang besar di pasar saham AS setelah munculnya angka CPI AS yang terpanas di dalam lebih dari 40 tahun. Angka CPI AS terbaru ini menghantui pasar saham dan memicu arus safe-haven masuk ke dalam pasar emas.

Data – data ekonomi AS yang mengecewakan termasuk data consumer sentiment index dan data inflasi yang lebih tinggi daripada yang diperkirakan, memberikan momentum bullish yang baru bagi emas. Pada saat yang bersamaan melemahnya pasar saham lebih jauh memperbaiki minat terhadap emas yang safe-haven.

Emas dipandang dengan sebagaimana seharusnya. Investor sekali lagi memandang emas sebagai assets lindung nilai dan safe-haven.

Sentimen pasar secara umumnya berbalik negatip pada hari Jumat setelah Departemen Tenaga Kerja AS mengatakan bahwa Consumer Price Index (CPI) naik sebesar 8.6% per tahun pada bulan Mei. Harga konsumen telah menyentuh ketinggian 41 tahun yang digerakkan oleh naiknya harga-harga makanan dan energi. Sementara CPI AS diperkirakan pasar hanya akan naik menjadi 8.2% per tahun, setelah kenaikan menjadi 8.3% per tahun pada bulan April.

Selain itu pada hari Jumat, Universitas Michigan mengatakan bahwa consumer sentiment index AS jatuh ke 50.2, level terendah dalam 50 tahun.

Aksi jual yang terjadi pada pasar saham dan rally yang terjadi pada emas menunjukkan bahwa pasar mulai menyadari bahwa tidak ada yang bisa dilakukan oleh Federal Reserve untuk menjinakkan inflasi.

Meskipun bank sentral AS ini akan terus menaikkan tingkat suku bunganya, namun kenaikan tingkat suku bunga the Fed tidak sebanding dengan tingginya angka inflasi.

Inilah sebenarnya kondisi lingkungan yang diinginkan oleh emas yang akan bisa mendorong naik harga emas.

Naiknya harga-harga konsumen meningkatkan resiko kesalahan kebijakan yang dilakukan bukan saja oleh bank sentral AS, Federal Reserve, melainkan juga oleh bank sentral lainnya di seluruh dunia.

Meskipun sekarang ini momentum berpihak kepada emas, pasar masih menghadapi badai yang menantang dari Federal Reserve AS yang diperkirakan akan menaikkan tingkat suku bunga lagi sebesar 50 bps pada minggu ini.

Kondisi ini membuat emas berada pada posisi netral dan investor tidak tahu kemana arah pasar. Untuk bisa aman membeli emas, harga emas harus sudah naik ke atas $1,875.

Harga emas masih bisa turun kembali ke bawah $1,850 per ons pada minggu ini setelah selesainya pertemuan kebijakan moneter bank sentral AS the Fed. Dalam jangka pendek, naiknya tingkat suku bunga masih merupakan faktor yang negatip bagi emas. Meskipun demikian masih tergantung seberapa tekad dari Federal Reserve dalam menjinakkan inflasi dan apakah mereka akan mengambil resiko yang bisa mendorong ekonomi AS jatuh ke dalam resesi.

Dari data ekonomi, investor harus menaruh perhatian kepada angka konsumsi, selain angka inflasi. Karenanya angka Penjualan Ritel yang akan keluar pada minggu ini akan menjadi fokus pasar juga. Jika inflasi terus memakan korban terhadap konsumen, melemahnya konsumsi akan membawa kepada turunnya pertumbuhan ekonomi.

Pasar tenaga kerja yang kuat dan meningkatnya tabungan sebegitu jauh pada tahun ini telah membantu mendukung para konsumen, namun tabungan telah menurun nilainya karena melemahnya daya beli akibat tingginya inflasi.

“Support” terdekat menunggu di $1,850 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke $1,833 dan kemudian $1,800.

“Resistance” terdekat menunggu di $1,878 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke $1,895 dan kemudian $1,926.

Ricky Ferlianto/VBN/Head Research Vibiz Consulting

Editor: Asido