(Vibiznews – Commodity) Memulai minggu perdagangan yang baru pada minggu lalu di $114, minyak mentah WTI sempat naik mendekati $121 namun akhirnya turun lagi ke $116. Pada hari Selasa mulai bergerak naik ke $117 dan pada hari Rabu melonjak ke $120 karena kekuatiran akan berkurangnya supply secara signifikan akibat embargo terhadap minyak Rusia oleh negara-negara Uni Eropa. Pada hari Kamis bertahan di $120 sebelum akhirnya pada hari Jumat turun ke $118.50 karena menguatnya dollar AS.
Harga minyak mentah berjangka benchmark Amerika, West Texas Intermediate (WTI) di bursa Nymex pada hari Senin sempat naik ke ketinggian selama tiga bulan dekat $121 namun kemudian turun tajam ke $116.81 per barel.
Kenaikan harga minyak mentah WTI disebabkan karena ada berita pada akhir minggu lalu bahwa Arab Saudi menaikkan Harga Jual Resmi atau Official Selling Price (OSP) ke banyak pelanggan Asia.
Selain itu ada pengumuman pada akhir minggu lalu bahwa kota-kota utama di Cina akan terus mengurangi lock down sehingga mendorong naik permintaan minyak dari Cina sebagai pengimpor minyak terbesar ke dua di dunia.
Sementara itu penurunan harga minyak mentah disebabkan karena kesadaran para investor akan fakta bahwa mayoritas bank sentral utama dunia akan segera menaikkan tingkat bunganya pada bulan Juni. Dimulai dari Federal Reserve AS dan selanjutnya Bank of Canada, Bank of England dan European Central Bank sampai kepada Reserve Bank of Australia di Asia Pasifik. Tiap – tiap bank sentral diperkirakan akan mengumumkan kenaikan tingkat bunga sekitar 50 bps.
Naiknya tingkat bunga akan menurunkan volume aktifitas ekonomi dan permintaan minyak mentah dari korporasi.
Selain itu, kenaikan kuota OPEC+ akibat prospek menghilangnya output minyak mentah Rusia ternyata disebar merata ke semua produsen minyak mentah anggota OPEC+, termasuk kepada Rusia, dan bukannya dialokasikan kepada negara-negara produsen minyak mentah yang benar-benar masih memiliki kelebihan kapasitas produksi seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan Irak. Dengan demikian para analis mengambil kesimpulan bahwa OPEC+ tidak akan bisa menambah output yang dijanjikan selama beberapa bulan ke depan.
Harga minyak mentah berjangka benchmark Amerika, West Texas Intermediate (WTI) di bursa Nymex pada hari Selasa bergerak sideways dalam rentang yang sempit di sekitar $117 dan saat ini diperdagangkan di sekitar $117.46 per barel.
Penurunan lebih lanjut dari harga minyak mentah WTI tertahan dan berbalik naik dengan adanya momentum yang mendukung kenaikan dengan dibukanya kembali Cina setelah lockdown yang menyakitkan selama 2 bulan di Beijing dan Shanghai telah mendorong harapan akan pulihnya kembali permintaan minyak.
Pemerintah Cina telah mengekang pergerakan dari manuisa, material, dan mesin-mesin untuk menahan penyebaran dari Covid-19. Langkah lockdown yang zero-tolerance telah membawa kepada penurunan drastis di dalam demand agregat dan akhirnya dalam penggunaan minyak mentah.
Sekarang dengan dibukanya kembali Cina setelah lockdown yang keras, harga minyak mentah mendapatkan dukungan naik. Sebagai negara pengimpor minyak terbesar di dunia, pulihnya demand minyak mentah dari Cina membawa dampak yang signifikan terhadap harga minyak mentah.
Di sisi lain, keterbatasan akan supply diperkirakan berkurang dengan OPEC+ telah berjanji untuk memproduksi lebih banyak minyak mentah masuk ke supply minyak mentah global. Untuk memperbaiki ketidakseimbangan di dalam mekanisme demand-supply, OPEC+ telah mengumumkan akan menambah lebih banyak output minyak mentah di bulan Juli dan Agustus sebesar 648.000 barel.
Harga minyak mentah berjangka benchmark Amerika, West Texas Intermediate (WTI) di bursa Nymex pada hari Rabu bergerak naik dan saat ini diperdagangkan di sekitar $120.36 per barel.
Kenaikan harga minyak sebagian disebabkan karena komentar dari kepala the International Energy Agency’s (IEA) Fatih Birol yang mengumandangkan suara keprihatinan akan naiknya harga minyak mentah secara umumnya.
Langkah-langkah efisiensi energi saat ini diperlukan dan kritikal untuk mengatasi krisis energi global sekarang. Apabila datang musim dingin yang keras dan lama, maka negara-negara Barat akan menghadapi kekurangan energi. Pemerintah perlu mencari cara-cara untuk mengurangi permintaan terhadap energi.
Harga minyak mentah berjangka benchmark Amerika, West Texas Intermediate (WTI) di bursa Nymex pada hari Kamis bertahan di dekat level resistance psikologis di sekitar $120.00 per barel karena meningkatnya keprihatinan akan supply.
Minyak mentah WTI mengalami momentum naik yang tajam setelah berhasil melewati ketinggian harga pada tanggal 24 Maret di $115.64.
OPEC+ berjanji untuk menambah 648.000 barel minyak mentah pada bulan Juli dan Agustus ke dalam supply minyak global. Namun, janji OPEC+ untuk memompa lebih banyak supply minyak mentah telah gagal mendukung penurunan harga minyak mentah. Harga minyak mentah mengarah naik setelah tink – tank di dalam komunitas investasi percaya bahwa tambahan output yang dijanjikan oleh kartel minyak terbesar di dunia ini tidak akan bisa menutupi jumlah yang biasa diekspor oleh Rusia. Larangan pembelian minyak dari Moskow oleh para pemimpin Barat tidak diikuti dengan suppliers penggantinya. Karenanya keterbatasan supply akan terus ada dan harga minyak akan terus naik.
Sementara itu, persediaan minyak mentah menurut Energy Information Administration (EIA) pada hari Rabu tanpa terduga naik sebanyak 2.025.000 barel, jauh lebih besar daripada yang diperkirakan penurunan sebesar – 1.917.000 barel dan daripada angka sebelumnya di – 5.068.000 barel.
Harga minyak mentah berjangka benchmark Amerika, West Texas Intermediate (WTI) di bursa Nymex pada hari Jumat melemah ke $118.65, karena sentimen pasar yang memburuk yang membuat turunnya harga saham secara signifikan dan menguatnya dollar AS.
Meskipun demikian, tren naik kelihatan utuh dengan kurangnya minyak mentah di dalam supply global karena larangan impor minyak mentah dari Rusia tidak akan bisa ditutupi oleh penambahan output minyak mentah yang dijanjikan oleh OPEC+. Kartel minyak terbesar di dunia ini menjanjikan penambahan sebanyak 648.000 barel di bulan Juli dan Agustus, yang mana jumlahnya terlalu sedikit dibandingkan dengan supply minyak mentah yang besar yang disediakan oleh Moskow.
Selain itu perkiraan naiknya permintaan minyak mentah di AS karena musim panas yang akan datang, akan membuat harga minyak mentah tetap tinggi ke depannya.
Minggu ini, berita negatip dari Cina pada akhir minggu lalu akan mempengaruhi harga minyak mentah WTI. Baik Shanghai dan Beijing kembali dalam kondisi berjaga-jaga Covid – 19 dengan kasus baru mulai naik lagi. Bahkan sebagian dari Shanghai telah kembali kepada lockdown dan mulai melakukan test massa kembali. Kondisi di Cina dengan kebijakan zero – Covid-nya menjadi ancaman utama terhadap permintaan minyak mentah pada minggu ini yang menekan turun harga minyak mentah WTI.
Pada hari Selasa kalender ekonomi relatip sibuk dengan Inggris akan mempublikasikan data employmentnya, sementara Amerika Serikat akan merilis angka Producer Price Index (PPI).
Pada hari Kamis, Amerika Serikat akan merilis angka penjualan ritelnya dan juga keputusan kebijakan moneter dari bank sentral AS the Fed melalui pertemuan FOMC nya.
The Fed kemungkinan akan menaikkan tingkat bunga sebesar 50 bps pada pertemuan kebijakan moneter bulan Juninya sebagaimana yang telah dijanjikan. Selain itu, tanda-tanda mengenai tidak adanya kenaikan tingkat bunga the Fed pada bulan September akan diamati dengan seksama untuk mengadakan valuasi atas nilai dollar AS yang akan berdampak terhadap harga minyak.
“Support” terdekat menunggu di $118.39 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke $117.70 dan kemudian $116.38. “Resistance” yang terdekat menunggu di $120.82 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke $122.15 dan kemudian $123.63.
Ricky Ferlianto/VBN/Head Research Vibiz Consulting
Editor: Asido.


