(Vibiznews – Commodity) Memulai minggu perdagangan yang baru pada minggu lalu di $94.79, harga minyak mentah WTI berhasil naik dan sempat mencapai ketinggian $101.00 sebelum akhirnya terkoreksi kembali ke $97.62. Kenaikan harga minyak mentah WTI selain disebabkan karena Arab Saudi sedang mempertimbangkan untuk menaikkan harga minyak mentah yang dijualnya ke Asia pada bulan September, terutama disebabkan karena melemahnya USD secara signifikan seusai pertemuan FOMC the Fed pada hari Kamis dan setelah keluarnya GDP AS kuartal ke dua yang terkontraksi 0.9%.
Pergerakan Harga Minyak Mentah WTI Minggu Lalu
Setelah sempat tertekan turun ke $93.00 pada jam perdagangan sesi Asia, harga minyak mentah berjangka benchmark Amerika, West Texas Intermediate (WTI) di bursa Nymex pada hari Senin berhasil bangkit naik pada jam perdagangan sesi AS dan diperdagangkan di sekitar $95.57 per barel.
Memasuki minggu perdagangan yang baru harga minyak WTI berada di bawah tekanan dan turun karena kekuatiran akan turunnya demand minyak mentah WTI di tengah prospek resesi ekonomi global yang semakin meningkat.
Data dari S&P Global Market Intelligence pada hari Jumat minggu lalu menunjukkan bahwa aktifitas sektor manufaktur dan jasa AS jatuh ke level terendah dalam dua tahun. PMI manufaktur AS bulan Juli muncul di 52.3, turun dari sebelumnya di 52.7 dan lebih lemah dibandingkan dengan yang diperkirakan di 52.5. PMI jasa AS bulan Juli muncul di 47.0, lebih lemah dibandingkan dengan yang diperkirakan di 52.1.
Penurunan aktifitas yang sama terjadi juga di Eropa. S&P Global menunjukkan bahwa aktifitas bisnis di sektor swasta Jerman terkontraksi pada awal Juli. Penurunan aktifitas sektor swasta, manufaktur dan jasa baik di Jerman maupun AS menunjukkan terjadinya perlambatan atas ekonomi dunia yang mengancam kepada terjadinya resesi global. Hal ini menjadi faktor bearish bagi harga minyak mentah WTI.
Faktor bullish bagi harga minyak mentah WTI pada hari Senin adalah melemahnya dollar AS, di tengah kembalinya arus resiko yang membebani dollar AS yang safe-haven dengan berat. Setelah mengalami rally dalam beberapa minggu belakangan dan sempat mencapai 109.00, indeks dollar AS pada hari Senin melanjutkan penurunannya yang telah berlangsung dari sejak minggu lalu. Indeks dollar AS turun dari 96.500 pada awal perdagangan ke 96.300 pada jam perdagangan sesi AS. Indeks dollar AS kelihatannya sudah kelelahan setelah mengalami rally terus menerus selama beberapa minggu lamanya.
Minyak mentah WTI memulai minggu perdagangan yang baru dengan catatan yang positip menjelang pertemuan FOMC Federal Reserve dimana pasar mengantisipasikan the Fed akan menaikkan tingkat bunga sebesar 75 bps.
Setelah pada hari Senin berhasil naik ke $95.57, harga minyak mentah berjangka benchmark Amerika, West Texas Intermediate (WTI) di bursa Nymex pada hari Selasa sempat berhasil melanjutkan kenaikannya AS dan diperdagangkan di sekitar $97.50 per barel.
Namun dalam jam perdagangan sesi AS selanjutnya, harga minyak mentah WTI berbalik turun dan diperdagangkan di sekitar $95.24 per barel.
Minyak mentah WTI memulai minggu perdagangan yang baru dengan catatan yang positip menjelang pertemuan FOMC Federal Reserve pada hari Rabu dimana pasar mengantisipasikan the Fed akan menaikkan tingkat bunga sebesar 75 bps.
Retorika dari the Fed untuk memadamkan dampak dari inflasi yang sangat merusak kelihatannya dengan pasti akan membawa kepada perlambatan ekonomi. Perlambatan ekonomi di AS, negara dengan ekonomi terbesar di dunia, normalnya akan memberikan tekanan jual terhadap minyak mentah dengan menurunnya permintaan terhadap minyak mentah.
Naik turunnya harga minyak mentah WTI masih akan tergantung kepada kekuatan dari sisi supply dan demand. Apabila kekuatiran dari sisi supply lebih kuat dibandingkan dengan ketakutan dari sisi demand, maka harga minyak mentah WTI akan mengalami kenaikan yang berarti tekanan bullish-nya lebih kuat.
Pada awal minggu ini, keprihatinan akan keterbatasan akan supply sempat lebih kuat daripada ketakutan akan berkurangnya demand karena perlambatan ekonomi. Hal ini membuat harga minyak mentah WTI sempat terdorong naik.
Keprihatinan akan ketatnya supply minyak mentah pada awal minggu ini dipicu juga oleh pembicaraan bahwa Rusia bisa memangkas supply gas ke zona euro setiap waktu, kapan saja Rusia mau. Pada hari Senin perusahaan gas dan minyak Rusia Gazprom mengumumkan bahwa mereka akan memperlambat aliran gas ke pipa Nord Stream 1. Sejak tanggal 27 Juli, Gazprom akan juga menghentikan pipa gas ke Jerman sehingga akan mengurangi aliran gas ke Jerman tinggal hanya tinggal 20% dari kapasitas dimana sekarang ini masih 40%.
Namun pada jam perdagangan selanjutnya harga minyak mentah WTI berbalik turun kembali ke $95.24 per barel karena ketakutan akan berkurangnya demand karena perlambatan ekonomi berbalik lebih besar daripada keprihatinan akan ketatnya supply minyak mentah.
Harga minyak mentah berjangka benchmark Amerika, West Texas Intermediate (WTI) di bursa Nymex pada hari Rabu naik ke $96.74 per barel, level tertinggi dalam perdagangan harian.
Kenaikan harga minyak mentah WTI terutama disebabkan oleh berita yang mengatakan bahwa eksportir minyak mentah top dunia Arab Saudi sedang mempertimbangkan untuk menaikkan harga minyak mentah yang dijualnya ke Asia pada bulan September meskipun permintaan fisik sedang melemah.
Saudi Aramco akan mulai merilis harga jual resmi untuk bulan September pada minggu depan. Perhitungan kenaikan harga minyak mentah Arab Saudi ini mendorong naik harga minyak mentah.
Namun tekanan turun tetap berat dengan the Fed diperkirakan akan menaikkan tingkat bunga kuncinya sebesar 75 bps lagi pada hari Kamis ini. Dan akan ditambah dengan kenaikan-kenaikan pada bulan – bulan selanjutnya. Selain itu, ketakutan akan terjadinya resesi terus menaungi, memburuknya krisis gas di Eropa, lock down yang tidak berhenti di Cina dan kebijakan pengetatan dari para bank sentral utama dunia, bisa menekan harga minyak mentah kembali turun.
Sebelum FOMC the Fed, harga minyak mentah berjangka benchmark Amerika, West Texas Intermediate (WTI) di bursa Nymex pada hari Rabu naik ke sekitar $96.74 per barel, level tertinggi dalam perdagangan harian.
Setelah FOMC the Fed pada hari Kamis, harga minyak mentah WTI melanjutkan kenaikannya ke sekitar $97.48 per barel karena turunnya indeks dollar AS secara signifikan.
Hasil pertemuan FOMC the Fed memutuskan untuk menaikkan tingkat bunganya sebesar 75 bps sebagaimana dengan yang telah diantisipasikan secara luas sebelumnya. Komentar ketua FOMC the Fed yang berhati-hati mengenai kenaikan tingkat bunga berikutnya memicu aksi jual beli terhadap dollar AS selama jam perdagangan sesi AS yang membawa indeks dollar AS turun ke bawah 106.50. Federal Reserve AS memperkirakan akan meneruskan pengetatan kebijakan moneternya pada tahun ini, namun mengakui adanya perlambatan ekonomi AS.
Kenaikan harga minyak mentah WTI terutama disebabkan oleh berita yang mengatakan bahwa eksportir minyak mentah top dunia Arab Saudi sedang mempertimbangkan untuk menaikkan harga minyak mentah yang dijualnya ke Asia pada bulan September meskipun permintaan fisik sedang melemah.
Saudi Aramco akan mulai merilis harga jual resmi untuk bulan September pada minggu depan. Perhitungan kenaikan harga minyak mentah Arab Saudi ini mendorong naik harga minyak mentah.
Namun tekanan turun tetap berat dengan the Fed diperkirakan akan menaikkan tingkat bunga kuncinya sebesar 75 bps lagi pada hari Kamis ini. Dan akan ditambah dengan kenaikan-kenaikan pada bulan – bulan selanjutnya. Selain itu, ketakutan akan terjadinya resesi terus menaungi, memburuknya krisis gas di Eropa, lock down yang tidak berhenti di Cina dan kebijakan pengetatan dari para bank sentral utama dunia, bisa menekan harga minyak mentah kembali turun.
Hari Jumat, harga minyak mentah WTI mendapatkan dorongan naik kembali dengan keluarnya data inflasi AS yang lebih tinggi daripada yang diperkirakan pasar. Departemen Perdagangan AS pada hari Jumat mengatakan bahwa secara basis bulanan, indeks core Personal Consumption Expenditures (PCE) bertambah menjadi 0.6% pada bulan lalu. Data inflasi ini lebih tinggi daripada yang diperkirakan pasar kenaikan sebesar 0.5%. Secara basis tahunan core PCE meningkat 4.8% dari angka bulan sebelumnya di 4.7%.
Harga minyak mentah WTI sempat naik menembus level psikologis kunci di $100.00 ke $101.00, sebelum akhirnya terkoreksi turun kembali ke $97.62.
Bagaimana dengan Minggu Ini?
Berdasarkan latarbelakang pergerakan harga minyak mentah WTI minggu lalu di atas, dapat dilihat bahwa harga minyak mentah WTI kebanyakan mengalami kenaikan karena melemahnya dollar AS.
Pada minggu lalu index dollar AS kembali mengalami tekanan bearish. Di mulai dengan level 106.385, indeks dollar AS mengakhiri minggu lalu di 105.865. Indeks dollar AS tertekan karena kembali masuknya arus resiko ke pasar yang membangkitkan pasar saham. Selain itu hasil FOMC the Fed yang cenderung dovish juga membebani indeks dollar AS dengan berat dan data ekonomi yang keluar dimana GDP AS kuartal ke dua terkontraksi 0.9% menambah tekanan bearish terhadap dollar AS.
Apabila dollar AS pada minggu ini berbalik menguat maka harga minyak mentah WTI akan bisa mengalami penurunan. Sementara naik – turunnya dollar AS tergantung kepada kekuatan perekonomian AS.
AS mempublikasikan data makro ekonominya, GDP kuartal kedua yang meleset dari yang diperkirakan pasar. Departemen Perdagangan AS pada hari Kamis mengatakan bahwa GDP AS jatuh 0.9% pada kuartal ke dua, lebih buruk dari perkiraan pasar yang mengatakan kenaikan sebesar 0.4%. Sementara itu, penurunan dalam aktifitas ekonomi AS di kuartal ke dua ini muncul setelah GDP AS kuartal pertama juga terkontraksi sebesar 1.6%.
Selain itu juga dipublikasikan Initial Jobless Claims muncul sebanyak 256.000 pada minggu yang berakhir tanggal 22 Juli, lebih buruk daripada yang diantisipasikan oleh pasar sebanyak 253.000.
Ekonomi AS terkontraksi untuk kedua kalinya, dalam dua kuartal berturut-turut yang menunjukkan bahwa telah masuk ke resesi tehnikal, yang bisa membuat dollar AS sulit untuk bergerak naik dan bahkan cenderung bergerak turun.
Pasar melakukan penghitungan ulang dalam hal ekspektasi kenaikan tingkat bunga the Fed berikutnya dan memperkirakan the Fed hanya akan menaikkan tingkat bunganya sebesar 50 bps pada bulan Nopember dan Desember. Pandangan yang dovish ini bisa membebani dollar AS dengan berat sehingga bisa kembali menaikkan harga minyak mentah WTI atau setidaknya akan menahan penurunannya.
Sementara itu dari sisi supply dan demand, pada minggu ini naik turunnya harga minyak mentah WTI masih akan tergantung kepada kekuatan dari sisi supply dan demand. Apabila kekuatiran dari sisi supply lebih kuat dibandingkan dengan ketakutan dari sisi demand, maka harga minyak mentah WTI akan mengalami kenaikan dan sebaliknya apabila ketakutan dari sisi demand lebih kuat daripada sisi supply, maka harga minyak mentah WTI akan mengalami penurunan.
Support & Resistance
Support” terdekat menunggu di $96.50 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke $95.20 dan kemudian $94.75. “Resistance” yang terdekat menunggu di $98.03 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke $98.65 dan kemudian $100.54.
Ricky Ferlianto/VBN/Head Research Vibiz Consulting
Editor: Asido.



