(Vibiznews – Commodity) Harga minyak mentah WTI terus melemah pada bulan – bulan belakangan ini, turun lebih dari 30% dari ketinggian bulan Juni. Ada beberapa penggeraknya antara lain meningkatnya ketakutan bahwa ekonomi global akan segera tergelincir ke resesi di tengah naiknya tingkat suku bunga dan inflasi yang akan bisa menekan permintaan untuk komoditi yang berhubungan dengan pertumbuhan.
Apa yang Terjadi Pada Minggu Lalu?
Memulai minggu perdagangan yang baru pada minggu lalu di $86.98, harga minyak mentah WTI diakhiri pada hari Jumat dengan harga yang relatip stabil dengan sedikit penurunan ke $85.78. Memulai hari perdagangan yang baru pada hari Senin, harga WTI mengalami kenaikan ke $88.60 karena keputusan OPEC+ untuk memangkas produksi mulai bulan depan. Keesokan harinya harga WTI mulai tertekan, turun ke $86.86 dengan diragukannya dampak dari pemangkasan produksi OPEC+. Penurunan berlanjut pada hari Rabu sampai ke hari Kamis ke $82.82. Dan pada Jumat berhasil naik ke $85.78 karena melemahnya dollar AS di tengah kondisi pasar yang positip terhadap resiko.
Pergerakan Harian Harga Minyak Mentah WTI Minggu Lalu
Harga minyak mentah berjangka benchmark Amerika, West Texas Intermediate (WTI) di bursa Nymex pada jam perdagangan sesi AS hari Senin bergerak naik ke sekitar $88.60 per barel.
Kenaikan harga minyak mentah WTI terjadi terutama sebagai reaksi terhadap hasil pertemuan OPEC+ pada hari Senin.
Setelah Joint Ministerial Monitoring Committee (JMMC) dari the Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) dan para sekutunya termasuk Rusia, yang dikenal secara kolektif sebagai OPEC+ merekomendasikan pemangkasan produksi minyak mentah sebesar 100.000 barel per hari mulai bulan Oktober, OPEC+ dalam pertemuannya pada hari Senin, 5 September 2022, memutuskan sepakat untuk menurunkan produksi minyak mentah sebanyak 100.000 barel per hari mulai bulan Oktober.
Pasar minyak mentah bereaksi dengan harga minyak mentah WTI naik ke $89.90 per barel sebelum akhirnya terkoreksi turun dalam jam perdagangan sesi AS berikutnya ke $88.60 karena menguatnya dollar AS.
Pergerakan ke arah yang negatip dari sentimen terhadap resiko di tengah semakin dalamnya krisis energi di area Euro memberikan dorongan naik terhadap dollar AS dan membebani harga minyak mentah WTI.
Indeks dollar AS sempat naik mencapai level tertinggi dalam dua dekade di 110.27 sebelum akhirnya terkoreksi turun ke bawah 110.00.
Sebelumnya, kartel minyak mentah terbesar di dunia ini telah memberikan signal akan memangkas produksi mereka karena turunnya harga minyak mentah belakangan ini. Bagi kartel minyak mentah OPEC+ ini, turunnya harga minyak mentah selalu dipandang sebagai ketidakseimbangan karena mereka mendapatkan penghasilan yang lebih kecil dari ekspor minyak mentah mereka ke negara – negara lain. Karenanya kartel minyak mentah terbesar di dunia ini memilih untuk tetap mempertahankan harga minyak mentah yang tinggi agar supaya penghasilan mereka terus meningkat.
Harga minyak mentah berjangka benchmark Amerika, West Texas Intermediate (WTI) di bursa Nymex pada jam perdagangan sesi AS hari Selasa turun ke sekitar $86.86 per barel.
Harga minyak mentah WTI naik pada hari Senin setelah OPEC+ memutuskan untuk memangkas produksi minyak mentah-nya dalam upaya menaikkan harga minyak mentah di atas $90. OPEC+ mengumumkan pada hari Senin yang lalu bahwa mereka akan memangkas output sebanyak 100.000 barel per hari mulai bulan Oktober.
Namun kenaikan harga minyak mentah WTI setelah pengumuman OPEC+ hanya berlangsung sebentar. Harga minyak mentah WTI sudah berbalik turun pada keesokan harinya
Para trader dan investor melihat kepada sejarah produksi pada tahun ini dan mendapatkan bahwa selama ini OPEC+ memang tidak pernah mencapai target produksi-nya sehingga pemangkasan produksi yang akan dimulai pada bulan Oktober dianggap tidaklah signifikan. Hal ini membuat harga minyak mentah WTI tertekan turun.
Selain itu berita dari Cina bahwa Cina mengalami kenaikan kasus Covid – 19 lagi yang membuat prospek permintaan minyak mentah dari Cina kembali terpangkas, menambah tekanan turun terhadap harga minyak mentah WTI. Laporan mengatakan bahwa ada lockdown yang baru karena Covid yang besar kembali melanda Cina, dimana 21 juta orang telah di-locked down di region industri utama di negara Cina. Cina mengumumkan bahwa Chengdu, sebuah kota yang berpenduduk 21 juta orang, telah ditutup karena coronavirus.
Harga minyak mentah berjangka benchmark Amerika, West Texas Intermediate (WTI) di bursa Nymex pada jam perdagangan sesi AS hari Rabu melanjutkan penurunannya ke sekitar $82.40 per barel.
Setelah membukukan kejatuhan terbesar dalam seminggu pada hari sebelumnya, harga minyak mentah WTI melanjutkan penurunannya dengan para trader mengkuatirkan turunnya permintaan terhadap minyak mentah.
Dengan demikian, minyak mentah mengabaikan keputusan pemangkasan produksi oleh Organization of the Petroleum Exporting Countries dan sekutunya termasuk Rusia, yang secara kolektif di kenal sebagai OPEC+.
Keputusan oleh OPEC dan sekutunya bisa saja membatasi resiko penurunan dari minyak mentah, namun tanda – tanda melemahnya konsumsi minyak mentah bisa terus menyeret turun harga minyak mentah sebagaimana yang telah diperingati oleh laporan Monthly Oil Market Report (MOMR) baru – baru ini.
Selain itu, kuatnya dollar AS dan naiknya yields treasury AS terus menekan minat beli di pasar minyak mentah. Indeks dollar AS naik dan menyentuh ketinggian 20 tahun yang baru. Yield treasury AS 10 tahun berada pada 3.307%.
Harga minyak mentah berjangka benchmark Amerika, West Texas Intermediate (WTI) di bursa Nymex pada awal jam perdagangan sesi AS hari Kamis berhasil terus berada di bawah tekanan turun dan diperdagangkan di sekitar $82.82 per barel,
Harga minyak mentah tetap berada di bawah tekanan bearish yang kuat. Saat ini keprihatinan akan pertumbuhan ekonomi global masih tetap menjadi penggerak harga minyak mentah. Para bank sentral sedang melakukan pengetatan kebijakan moneter dengan terus menaikkan tingkat suku bunga. Hal ini membangkitkan ketakutan akan terjadinya resesi global yang akan menurunkan permintaan akan minyak mentah sehingga terus menekan harga minyak mentah turun.
Beberapa anggota FOMC the Fed berbicara mengenai perlunya melanjutkan kebijakan pengetatan. Wakil ketua the Fed Lael Brainard mengatakan bahwa tingkat bunga akan harus tetap tinggi untuk suatu jangka waktu lamanya.
Para traders juga mengamati lockdown karena Covid di Cina sebagai ancaman terhadap turunnya permintaan minyak mentah. Kota megacity Cina, Chengdu, yang merupakan ibukota dari provinsi Sichuan semula diskedulkan untuk mengangkat lockdown pada hari Rabu, namun para pembuat kebijakan malah memperpanjang lockdown tanpa memberikan tanggal selesainya secara tentatif sekalipun. Langkah-langkah restriksi diberlakukan di banyak kota besar di Cina. Diperkirakan ada sekitar 300 juta orang yang kena restriksi dalam berbagai bentuk.
Harga minyak mentah berjangka benchmark Amerika, West Texas Intermediate (WTI) di bursa Nymex pada awal jam perdagangan sesi AS hari Jumat berhasil naik dan diperdagangkan di sekitar $85.78 per barel,
Berita – berita dari Departemen Treasury AS mengenai penetapan harga minyak mentah yang mengatakan bahwa perlu ditetapkan harga minyak mentah yang di atas dari biaya produksi marginal dengan memperhitungkan harga minyak Rusia yang lalu, ditambah lagi dengan jatuhnya dollar AS, memberikan dorongan naik bagi harga minyak mentah.
Indeks Dolar AS jatuh lebih dari 0.5% dalam perdagangan intraday dan sekarang berada pada level 108.955 di tengah sentimen yang menguat di pasar dan turunnya yields treasury AS.
Komentar dari Treasury Secretary AS Janet Yellen yang memberikan signal kemungkinan perubahan yang positip dalam hubungan perdagangan AS – Cina telah membantu membuat sentiment di pasar membaik. Ditambah lagi dengan data – data makro ekonomi AS yang belakangan ini menguat telah membawa sentimen yang positip terhadap resiko di pasar.
Perhatian Pada Minggu Ini
Fokus para investor pada minggu ini ada pada dua data inflasi yaitu Consumer Price Index (CPI) AS pada hari Selasa dan ekspektasi inflasi pendahuluan dari Universitas Michigan.
Hari Selasa, AS akan merilis data inflasi dari Consumer Price Index (CPI) bulan Agustus. Angka inflasi tahunan AS dari CPI pada bulan Juli turun ke 8.5% yang menunjukkan tanda pertama bahwa inflasi telah mencapai puncaknya. Data inflasi CPI AS yang akan keluar pada minggu ini adalah data krusial terakhir bagi the Fed sebelum pertemuan kebijakan moneter yang akan memutuskan kenaikan tingkat bunga pada minggu depan, dan karenanya akan memiliki dampak yang signifikan terhadap pertaruhan kenaikan tingkat bunga dan valuasi dari dollar AS.
Data ekonomi yang lebih lemah secara signifikan pada minggu ini akan bisa terus menekan dollar AS turun. Hal ini adalah positip bagi harga minyak mentah WTI. Data inflasi yang lemah yang keluar pada minggu ini akan bisa memberikan minyak mentah WTI dorongan naik dengan para investor dan pasar mulai mendefinisikan ulang seberapa tinggi Federal Reserve akan menaikkan tingkat suku bunganya.
Jika inflasi jatuh, maka ada kesempatan tingkat suku bunga tidak naik banyak di atas 4.00%. Jika hal ini terjadi, bisa jadi dollar AS telah mencapai puncaknya sehingga memberikan kelegaan bagi minyak mentah WTI.
Namun, apabila data ekonomi hanya sedikit lebih lemah daripada yang diperkirakan, maka tidak cukup untuk berharap agar Federal Reserve AS merubah sikap hawkishnya yang agresif.
Saat ini pasar melihat probabilita the Fed akan menaikkan tingkat suku bunganya sebesar 75 bps adalah 90%. Namun, apabila the Fed hanya menaikkan tingkat suku bunganya sebesar 50 bps, maka hal ini akan memberikan momentum naik bagi minyak mentah WTI.
Support & Resistance
Support” terdekat menunggu di $85.30 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke $84.00 dan kemudian $82.80. “Resistance” yang terdekat menunggu di $85.95 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke $86.97 dan kemudian $87.78.
Ricky Ferlianto/VBN/Head Research Vibiz Consulting
Editor: Asido.