(Vibiznews – Commodity) Minyak mentah berhasil bertahan setelah sempat tergelincir turun karena kuatnya dollar AS dalam perdagangan semalam. Harga minyak mentah WTI stabil dalam perdagangan sesi Asia hari Jumat pagi setelah pada Kamis malam turun karena lingkungan yang enggan terhadap resiko secara luas. Dalam perdagangan selanjutnya pada sesi AS, minyak mentah WTI berhasil naik dan menutup perdagangan mingguan minggu lalu dengan keuntungan.
Apa yang Terjadi Pada Minggu Lalu?
Memulai minggu perdagangan yang baru pada minggu lalu di $71.66, minyak mentah WTI mengakhiri minggu lalu dengan sedikit kenaikan ke $74.60. Kenaikan harga minyak mentah WTI sudah dimulai dari sejak hari Senin, berhasil bangkit dari kerendahan tahunan dan menghentikan penurunan selama 6 hari berturut, diperdagangkan di sekitar $73.00. Pada hari Selasa malam, melanjutkan kenaikannya dan diperdagangkan di sekitar $75.77 setelah keluarnya laporan CPI AS, dan terus melanjutkan kenaikannya ke $77.50 pada hari Rabu. Pada hari Kamis sedikit turun ke $76.76 karena ketakutan akan berkurangnya permintaan, yang berlanjut sampai ke hari Jumat, turun ke 74.60.
Pergerakan Harian Harga Minyak Mentah WTI Minggu Lalu
Harga minyak mentah berjangka benchmark Amerika, West Texas Intermediate (WTI) di bursa Nymex pada awal jam perdagangan sesi AS, hari Senin, berhasil bangkit dari kerendahan tahunan dan menghentikan penurunan selama 6 hari berturut, diperdagangkan di sekitar $73.00.
Kenaikan harga minyak mentah WTI pada jam perdagangan sesi AS hari Senin disebabkan ketakutan investor akan terjadinya kelangkaan supply dengan Presiden Rusia Vladimir Putin menolak mensupply minyak ke negara – negara yang menerima pembatasan harga yang ditetapkan oleh Uni Eropa. Selain itu Putin juga mengancam akan mengurangi produksi minyak Rusia.
Kenaikan harga minyak mentah WTI berlanjut dalam perdagangan sesi Asia hari Selasa pagi dengan salah satu pipa minyak kunci yang mensupply minyak ke AS tetap ditutup.
Terjadinya kebocoran pipa di Keystone AS pada minggu lalu menyebabkan penutupan salah satu pipa minyak utama di AS mendorong naik harga minyak mentah WTI dan diperdagangkan di sekitar $74. 25 pada jam perdagangan sesi Asia hari Selasa pagi.
Harga minyak mentah berjangka benchmark Amerika, West Texas Intermediate (WTI) di bursa Nymex pada awal jam perdagangan sesi AS, hari Selasa malam, melanjutkan kenaikannya dan diperdagangkan di sekitar $75.77 setelah keluarnya laporan CPI AS.
Harga minyak mentah WTI naik ke $73.40 pada hari Senin dengan isu dari sisi supply mengatasi keprihatinan akan melemahnya sisi demand. Dan pada hari Selasa pagi, harga minyak mentah WTI meneruskan kenaikannya ke $74.25.
Pada hari Selasa malam, harga minyak mentah WTI melanjutkan kenaikannya ke $75.77 dengan keluarnya laporan Consumer Price Index (CPI) AS.
Consumer Price Index (CPI) AS bulan November menunjukkan kenaikan sebesar 0.1% dari bulan Oktober dan naik 7.1% per tahun. CPI diperkirakan naik 0.3% dari bulan Oktober dan 7.3% per tahun. Angka data inflasi yang sedikit lebih rendah daripada yang diperkirakan ternyata cukup untuk membuat rally di pasar keuangan dan saham, sementara membebani indeks dollar AS. Laporan CPI yang baru keluar ini berada pada kubu dovish dalam kebijakan moneter AS yang menginginkan the Fed untuk memperlambat jalur pengetatan kebijakan moneternya yang agresif.
Harga minyak mentah berjangka benchmark Amerika, West Texas Intermediate (WTI) di bursa Nymex pada awal jam perdagangan sesi AS, hari Rabu, melanjutkan kenaikannya ke atas $77.00 dan diperdagangkan di sekitar $77.50.
Minyak mentah WTI berjuang untuk bisa mendapatkan arah yang jelas di sekitar $75.30 selama jam perdagangan sesi Asia hari Rabu, berbeda dengan tren naik selama 3 hari, dari kerendahan tahunan, di tengah sentimen pasar yang berhati-hati menjelang Federal Open Market Committee (FOMC).
Hal yang menopang harga minyak mentah di level ini adalah proyeksi permintaan akan minyak mentah dari Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) dan juga berita – berita dari Cina.
Dalam laporan bulanannya, OPEC mengatakan bahwa permintaan minyak mentah pada tahun 2023 akan naik sebanyak 2.25 juta barel per hari atau sekitar 2.3%, setelah pertumbuhan sebesar 2.55 juta barel per hari pada tahun 2022. OPEC memangkas perkiraan permintaan absolut di kuartal ke empat 2022 dan kuartal pertama 2023. Sementara permintaan minyak mentah dari Cina yang terpukul oleh langkah-langkah penanganan Covid telah terkontraksi pada tahun 2022.
Sementara itu American Petroleum Institute’s (API) melaporkan inventori mingguan untuk minggu yang berakhir 9 Desember naik menjadi 7.819.000 dibandingkan dengan penurunan sebesar – 6.289.000 sebelumnya.
Harga minyak mentah berjangka benchmark Amerika, West Texas Intermediate (WTI) di bursa Nymex pada awal jam perdagangan sesi AS, hari Kamis, tertekan turun dan diperdagangkan di sekitar $76.76 per barel.
Harga minyak mentah WTI terhenti dari kenaikan selama empat hari berturut-turut dan turun dari ketinggian minggu ke $76.76 di tengah ketakutan akan berkurangnya permintaan karena data ekonomi Cina yang buruk dan kenaikan tingkat bunga dari bank sentral – bank sentral utama dunia.
Baru-baru ini, Penjualan Ritel Cina turun ke – 5.9% pada bulan November dibandingkan dengan yang diperkirakan penurunan – 3.6% dan angka sebelumnya yang – 0.5%. Sementara angka Industril Production muncul di 2.2% dibandingkan dengan yang diperkirakan pasar di 3.3% dan angka sebelumnya di 5.0%.
Sebelumnya, harga minyak mentah WTI telah mengalami pergerakan naik selama tiga sesi perdagangan, karena harapan akan pemulihan ekonomi global. Harga minyak mentah WTI telah naik ke atas $77.50, pulih secara dramatis setelah membukukan penurunan ke kerendahan tahunan di $70.61 dengan the Fed mengakhiri kenaikan tingkat bunga sebesar 75 bps. dengan hanya menaikkan tingkat bunga sebesar 50 bps, meskipun menyatakan kesiapan untuk mempertahankan tingkat bunga yang lebih tinggi untuk waktu yang lebih panjang. Pernyataan kesiapan ini telah memberikan tenaga bagi pemulihan dollar AS yang pada gilirannya menekan turun harga minyak mentah WTI.
Harga minyak mentah berjangka benchmark Amerika, West Texas Intermediate (WTI) di bursa Nymex pada awal jam perdagangan sesi AS, hari Jumat, tertekan turun dan diperdagangkan di sekitar $74.60 per barel.
Harga minyak mentah WTI tertekan turun karena ketakutan akan perlambatan ekonomi global. Data ekonomi Cina yang keluar mengecewakan dan harapan akan pulihnya output dari pipa minyak di Kanada menambah tekanan turun terhadap harga minyak mentah WTI.
Selain itu pulihnya kembali kekuatan dollar AS juga menekan harga minyak mentah WTI turun. Pada hari Kamis, dollar AS berbalik naik karena munculnya arus keengganan terhadap resiko akibat sikap para bank sentral utama dunia yang hawkish. Para bank sentral utama dunia menaikkan tingkat suku bunganya sambil menunjukkan kesiapan untuk tetap mempertahankan tingkat bunga yang lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama.
Pergerakan Pada Minggu Ini
Pasar sedang memasuki satu minggu perdagangan yang penuh yang terakhir pada tahun ini. Likuiditas yang berkurang dan perdagangan satu arah akan bisa menekan harga minyak mentah WTI dalam volatilitas yang tinggi. Pasar akan memperhitungkan dalam harga Federal Reserve AS yang lebih ketat, ECB yang lebih ketat dan tingkat bunga yang masih baik lebih tinggi lagi.
Memasuki liburan musim dingin, minggu ini, dari kalender ekonomi hanya sedikit event yang relevan yang bisa menggerakkan pasar. Angka dari data ekonomi yang paling relevan adalah perkiraan final dari GDP AS yang diperkirakan akan muncul di 2.9% dan Durable Goods Orders bulan November yang diperkirakan akan turun dari 0.5% ke 0.1% M/M.
Support & Resistance
Support” terdekat menunggu di $73.47 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke $71.50 dan kemudian $70.08. “Resistance” yang terdekat menunggu di $74.88 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke $75.61 dan kemudian $77.58.
Ricky Ferlianto/VBN/Head Research Vibiz Consulting
Editor: Asido.


