(Vibiznews – Commodity) Harga minyak mentah WTI terus mendapatkan dukungan yang kuat dari harapan akan naiknya permintaan minyak mentah dari Cina meskipun gambaran ekonomi di Barat suram. Bulan Januari telah memberikan keuntungan yang konsisten bagi minyak mentah, kebanyakan dipicu oleh munculny tanda – tanda pulihnya ekonomi Cina. Ekonomi Cina dihantam keras oleh peraturan lockdown karena Covid – 19. Namun peraturan ini sekarang telah dilonggarkan dan data – data terakhir lebih banyak memberikan semangat. Permintaan akan minyak mentah Cina pada bulan November menurut Joint Organizations Data Initiative berada pada level tertinggi sejak bulan Februari tahun lalu. Bagaimana dengan minggu ini? .
Apa yang Terjadi Pada Minggu Lalu?
Memulai minggu perdagangan yang baru pada minggu lalu di $80.24, minyak mentah WTI mengakhiri minggu lalu dengan berhasil bertahan di atas $80.00 dengan sedikit kenaikan ke $81.68. Pada awalnya hari Senin sempat turun ke $79.48 karena naiknya USD. Pada hari Selasa berhasil membalikkan arah dan naik menembus $80.00 ke $81.11 karena membaiknya outlook permintaan. Pada hari Rabu turun sedikit ke $80.08 karena koreksi normal yang berlanjut sampai ke hari Kamis turun ke $79.78. Namun pada hari Jumat berbalik naik kembali ke $81.68 karena naiknya permintaan.
Pergerakan Harian Harga Minyak Mentah WTI Minggu Lalu
Harga minyak mentah berjangka benchmark Amerika, West Texas Intermediate (WTI) di bursa Nymex pada awal jam perdagangan sesi AS, hari Senin turun dan diperdagangkan di sekitar $79.48 per barel.
Harga minyak mentah WTI turun pada permulaan minggu perdagangan yang baru setelah mengalami kenaikan yang signifikan mengakhiri perdagangan minggu yang lalu.
Penurunan harga minyak mentah WTI juga disebabkan oleh karena bangkitnya dollar AS. Dollar AS bangkit dari level terendah sejak awal Juni 2022.
Pasar berbalik berhati – hati sehingga membantu dollar AS kembali menguat di tengah kondisi pasar yang sepi.
Indeks saham Eropa berjuang untuk tetap positip di teritori hijau, sementara yields obligasi pemerintah mengalami kenaikan, yang mendukung kenaikan dollar AS.
Menguatnya indeks dollar AS sebesar 0.27% ke 102,235, membantu menekan turun harga minyak mentah.
Dolar AS berhasil mempertahankan reboundnya meskipun pertaruhan berada pada kenaikan tingkat bunga the Fed yang lebih kecil, karena sentimen terhadap resiko bergerak memburuk.
Harga minyak mentah WTI saat ini, bergerak sideways dalam rentang harga yang terbatas di sekitar $79.50 per barel mencari arah naik atau turun.
Harga minyak mentah berjangka benchmark Amerika, West Texas Intermediate (WTI) di bursa Nymex pada jam perdagangan sesi AS, hari Selasa naik dan pada jam perdagangan sesi Asia hari Rabu diperdagangkan di sekitar $81.11 per barel.
Kenaikan harga minyak mentah WTI disebabkan terjadi setelah munculnya data ekonomi Cina yang lebih bagus daripada yang diperkirakan dan memberikan gambaran outlook yang optimistik di tengah – tengah pembukaan kembali perbatasan – perbatasan ekonomi internasional.
Data dari Cina menunjukkan membaiknya outlook minyak mentah untuk tahun 2023.
The National Bureau of Statistics Cina menunjukkan bahwa Gross Domestic Product (GDP) Cina untuk kuartal keempat membaik menjadi 2.9%, jauh di atas dari yang diperkirakan 1.6%, sementara itu GDP setahun penuh berada pada 3% dan 2021 di 8.1%.
Sementara itu, melemahnya dollar AS juga mendukung naik harga minyak mentah.
Dolar AS mengalami tekanan jual ditengah turunnya yields obligasi pemerintah setelah keluar rumor dari European Central Bank (ECB). Yields obligasi 10 tahun Itali turun lebih dari 15% dalam sehari, mendorong tingkat bunga obligasi 10 tahun AS ke 3.52% dari ketinggian intraday di 3.58%.
Harga minyak mentah berjangka benchmark Amerika, West Texas Intermediate (WTI) di bursa Nymex pada jam perdagangan sesi AS, hari Rabu, turun dan diperdagangkan di sekitar $80.08 per barel.
Harga minyak mentah WTI turun dari ketinggian di $81.00 yang merupakan resistance kritikal. Harga minyak mentah WTI sempat bertahan di ketinggian di atas $81.00 karena Sekretaris Jendral Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC), Haitham Al Ghais mengatakan bahwa kartel minyak terbesar di dunia ini memperkirakan kenaikan permintaan minyak mentah Cina sampai 500.000 bpd di Cina pada tahun 2023. Meskipun kartel minyak mentah ini memperkirakan terjadinya perlambatan di zona Euro dan AS.
Namun dalam jam perdagangan selanjutnya, harga minyak mentah WTI tidak dapat bertahan, turun ke arah $80.00 karena berbalik menguatnya dollar AS.
Dolar AS yang sebelumnya turun selama jam perdagangan sesi Eropa karena turunnya yields obligasi pemerintah, berbalik naik karena ketakutan akan resesi mendorong investor mencari assets safe-haven dollar AS.
Dolar AS berbalik arah pada saat pembukaan bursa saham AS, Wall Street. Ketakutan akan resesi menyebarkan keengganan terhadap resiko dan membantu dollar AS naik meskipun yields treasury AS tertekan turun.
Harga minyak mentah berjangka benchmark Amerika, West Texas Intermediate (WTI) di bursa Nymex pada jam perdagangan sesi AS, hari Kamis, turun dan diperdagangkan di sekitar $79.78 per barel.
Minyak mentah WTI melanjutkan penurunannya ke kerendahan mingguan di sekitar $78.80 karena data ekonomi AS yang mengecewakan membangkitkan kembali ketakutan akan resesi global. Ketakutan akan resesi global ini mengatasi harapan akan naiknya permintaan atas minyak mentah dari Cina.
Menurut data dari Departemen Perdagangan AS, penjualan ritel AS turun 1.1% pada bulan Desember yang lalu, setelah pada bulan November direvisi turun 1%. Sementara para ekonom memperkirakan penurunan penjualan ritel AS bulan Desember hanya sebesar 0.8%. Penjualan inti yang mengeluarkan angka kendaraan juga mengecewakan, turun 1.1% dibandingkan dengan yang diperkirakan penurunan yang hanya sebesar 0.3%. Penurunan penjualan ritel ini terjadi di tengah musim belanja liburan yang menunjukkan bahwa para konsumen AS menjadi lebih berhati-hati.
Ketua International Energy Agency (IEA) Fatih Birol mengatakan pada hari Kamis bahwa pada tahun 2023 kita kemungkinan akan menghadapi pasar yang lebih ketat, lebih daripada yang dipikirkan oleh sebagian orang.
Perkataan Fatih Birol ini menambah dorongan turun terhadap minyak mentah WTI.
Harga minyak mentah berjangka benchmark Amerika, West Texas Intermediate (WTI) di bursa Nymex pada jam perdagangan sesi AS, hari Jumat, berbalik naik dan diperdagangkan di sekitar $81.68 per barel.
Naiknya harga minyak mentah WTI disebabkan karena naiknya permintaan minyak dari Cina dan status quo dari People’s Bank of China (PBOC). Permintaan minyak mentah dari Cina pada bulan November naik ke level tertinggi sejak bulan Februari, menurut data yang ditunjukkan oleh the Joint Organisations Data Initiative pada hari Kamis.
Selain itu, naiknya harga minyak mentah WTI juga menunjukkan bahwa para trader minyak mentah WTI mengambil petunjuk dari stabilnya dollar AS dan dari komentar yang hawkish para pejabat Federal Reserve AS.
Deputy Managing Director IMF, Gita Gopinath pada hari Rabu mengatakan bahwa Cina bisa mengalami pemulihan yang cepat di dalam pertumbuhan ekonomi kuartal kedua dan seterusnya ke depannya, berdasarkan tren penularan saat ini, setelah menghapuskan kebanyakan dari restriksi karena Covid – 19.
Supply Kelihatannya Akan Masih Ketat
Pasar minyak mentah global kelihatannya akan tetap sangat ketat apabila di Amerika Serikat dan Cina terjadi lonjakan permintaan, terutama dengan produsen utama Rusia tetap dikenakan sanksi.
Namun, tetap masih ada kekuatiran yang serius mengenai resesi di perekonomian Barat. Angka terbaru penjualan ritel AS mengecewakan dan mewakili suatu perekonomian yang berteriak karena tingginya biaya pinjaman.
Minggu ini investor dengan harap – harap cemas menunggu munculnya angka PMI pertama di tahun 2023 dan GDP AS kuartal ke empat 2022 yang akan memberikan petunjuk mengenai resiko resesi.
Pergerakan Minggu Ini
Minggu ini data ekonomi yang keluar akan memberikan pencerahan mengenai seberapa besar pertumbuhan ekonomi sedang berlangsung.
Pada hari Selasa, S&P Global akan merilis perkiraan pendahuluan dari Purchasing Manager Index (PMI) bulan Januari untuk AS. Aktifitas bisnis diperkirakan akan tetap berada pada teritori kontraksi meskipun membaik dari level bulan Desember.
Hari Kamis akan menjadi hari kunci, dengan AS akan mempublikasikan perkiraan pendahuluan dari Gross Domestic Product (GDP) kuartal ke empat. Pertumbuhan tahunan pada kuartal terakhir dari tahun 2022 diperkirakan berada pada 2.8%, melemah dari sebelumnya 3.2%. Pada waktu yang sama, AS akan mempublikasikan Durable Goods Orders bulan Desember, yang diperkirakan naik 2.5% MoM.
Meskipun terjadi penurunan di sektor jasa dan manufaktur, namun GDP AS kuartal ke empat diperkirakan akan menunjukkan ekonomi AS bertumbuh sebesar 2.8% setelah sebelumnya pada kuartal ke tiga bertumbuh sebesar 3.2%.
Belanja konsumen seharusnya menjadi penggerak pasar yang penting dengan angka yang kuat pada bulan Oktober, namun, pertumbuhan sebagian besar akan difokuskan kepada perdagangan bersih (net trade) dan jumlah inventori.
Hal ini bukanlah pertumbuhan yang baik. Impor turun karena turunnya pertumbuhan domestik sementara inventori meningkat, sebagian karena membaiknya rantai supply namun juga karena permintaan tidaklah sekuat seperti yang banyak diperkirakan oleh para pebisnis.
Angka pertumbuhan GDP beberapa kuartal ke depan akan jauh lebih lemah.
Akhirnya, pada hari Jumat, AS akan mempublikasikan angka inflasi yang menjadi favorit dari the Fed, the core Personal Consumption Expenditures Price Index untuk bulan Desember.
PCE price index inti diperkirakan melambat ke 4.4% pertahun di bulan Desember dari sebelumnya 4.7% di bulan November.
Support & Resistance
Support” terdekat menunggu di $81.34 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke $80.81 dan kemudian $79.00. “Resistance” yang terdekat menunggu di $81.71 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke $82.25 dan kemudian $83.00.
Ricky Ferlianto/VBN/Head Research Vibiz Consulting
Editor: Asido.


