(Vibiznews – Index) – Pergerakan saham Wall Street alami penurunan lebih lanjut sepanjang sesi pada perdagangan yang berakhir Rabu dinihari (22/4/2026) oleh lonjakan harga minyak mentah.
Mayoritas indeks Wall Street ditutup menjauh dari posisi rekor tertingginya seperti Nasdaq turun 0,6% menjadi 24.529,96 dan S&P 500 turun 0,6% menjadi 7.064,01. Dow Jones menjauh dari posisi tertinggi 2 bulan dengan turun 0,6% menjadi 49.149,38.
Lonjakan harga minyak mentah yang membebani saham Wall Street terjadi karena bangkitnya kekhawatiran tentang perang Timur Tengah jelang akhir gencatan senjata dua minggu antara AS dan Iran.
Dalam wawancara media, Presiden Donald Trump mengatakan ia berharap akan mendapatkan kesepakatan yang bagus dengan Iran tetapi mengindikasikan militer siap untuk melanjutkan pengeboman Iran ketika gencatan senjata berakhir pada hari Rabu.
Sebuah laporan media juga menyebutkan perjalanan Wakil Presiden JD Vance ke Pakistan telah ditangguhkan karena Iran tidak menanggapi posisi negosiasi Amerika.
Sebelumnya mayoritas saham Wall Street rebound merespon positif beberapa laporan kuartalan perusahaan-perusahaan besar seperti UnitedHealth (UNH), kontraktor rumah D.R. Horton (DHI) dan juga 3M (MMM).
Rebound awal sesi juga sebagai reaksi terhadap laporan data penjualan ritel di AS melonjak lebih dari yang diperkirakan pada bulan Maret. Data melonjak 1,7% pada bulan Maret setelah naik 0,7% pada bulan Februari.
Secara sektoral, saham emas bergerak turun tajam menekan NYSE Arca Gold Bugs Index hingga anjlok 6,4%.
Pelemahan yang signifikan juga terlihat di antara saham-saham maskapai penerbangan dengan NYSE Arca Airline Index anjlok 4,3%.
Namun pergerakan sebaliknya terlihat pada saham-saham energi yang melonjak seiring dengan kenaikan harga minyak mentah.



