(Vibiznews-Forex) – Posisi yen Jepang dalam pair USDJPY terkoreksi dari tertinggi 2 bulan lebih pada perdagangan forex sesi Asia hari Jumat (1/5/2026) merespon turunnya data inflasi Jepang bulan April.
Data inflasi konsumen di Tokyo meleset dari perkiraan pada bulan April dan tetap di bawah target 2% Bank Sentral Jepang (BoJ) untuk bulan ketiga berturut-turut. Hal ini memberi BOJ lebih banyak alasan untuk menunda kenaikan suku bunga meskipun ada sinyal kenaikan suku bunga pada bulan Juni.
Dari laporan ekonomi, data PMI Manufaktur Jepang naik ke level tertinggi sejak Januari 2022.
Setelah mendapat suntikan verbal oleh pemerintah Jepang, Yen menghadapi tekanan baru di tengah kekhawatiran ekonomi yang berasal dari ketegangan Timur Tengah. Investor tetap khawatir bahwa ekonomi Jepang akan mengalami tekanan dalam waktu dekat karena gangguan berkelanjutan terhadap pasokan energi melalui Selat Hormuz.
Kekhawatiran tersebut semakin diperkuat oleh laporan media bahwa AS sedang mempertimbangkan serangan militer baru terhadap Iran di tengah perundingan perdamaian yang terhenti.
Secara teknikal pair USDJPY melaju mendekati posisi resisten dan menurut analyst Vibiz Research Center laju pair akan tertahan sebelum kemudian konsolidasi dengan bias positif.
Pair kini berada di posisi 157,20 dan sedang naik ke posisi 157.60, jika tembus mendaki ke kisaran resisten kuatnya di posisi R1.
Namun jika pair tidak menembus 157.40, berpotensi berbalik turun menuju posisi terendah 156,45, jika tembus lanjut ke support kuatnya di S1.
| R3 | R2 | R1 | Pivot | S1 | S2 | S3 |
| 164.82 | 162.76 | 159.65 | 157.60 | 154.48 | 152.63 | 149.32 |



