(Vibiznews – Index) – Pasar saham Wall Street mengalami volatilitas hebat dan berakhir di zona merah pada penutupan perdagangan yang berakhir Kamis dinihari (18/6/2026).
Indeks-indeks utama Wall Street langsung berada di bawah tekanan jual yang cukup besar di bagian akhir sesi, merespons proyeksi ekonomi terbaru Federal Reserve yang mengisyaratkan era suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama.
Nasdaq anjlok paling dalam sebesar 354,69 poin atau 1,3 persen ke level 26.021,66, S&P 500 merosot 91,25 poin atau 1,2 persen menjadi 7.420,10 dan Dow Jones ambles 507,12 poin atau 1 persen ke level 51.492,55.
Pelemahan di bursa New York mencuat setelah rilis proyeksi median komite menunjukkan bahwa para pejabat memperkirakan suku bunga akan berada di angka 3,8% pada akhir tahun 2026.
Proyeksi terbaru ini berubah drastis dibandingkan dengan proyeksi bulan Maret lalu yang sempat mengisyaratkan adanya pemangkasan suku bunga.
Lihat: Proyeksi Ekonomi Terbaru Amerika Serikat Hasil Revisi The Fed
The Fed menegaskan tetap mempertahankan target suku bunga di level 3,5% – 3,75% demi menyeimbangkan lapangan kerja maksimal dan menekan inflasi kembali ke target jangka panjang 2%.
Namun, pernyataan bank sentral yang menyoroti inflasi yang tetap tinggi akibat guncangan pasokan sektor energi serta ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah, memicu kecemasan investor bahwa pengetatan moneter belum sepenuhnya berakhir.
Sebelum pengumuman The Fed, Departemen Perdagangan AS sebenarnya merilis data ekonomi yang solid. Penjualan ritel AS dilaporkan meningkat tajam sebesar 0,9 persen pada bulan Mei, jauh melampaui estimasi para ekonom yang memperkirakan kenaikan moderat sebesar 0,5 persen.
Meskipun data ini menunjukkan konsumsi domestik AS masih sangat kuat, pasar justru menangkapnya sebagai sinyal bahwa ekonomi yang terlalu panas ini akan memberi alasan kuat bagi The Fed untuk tetap bersikap hawkish guna meredam inflasi.
Secara sektoral, pelemahan dipimpin oleh saham-saham perangkat lunak dengan Dow Jones US Software Index anjlok 3,2% ke level terendah dalam dua bulan terakhir.
Disusul oleh saham-saham transportasi & ritel dengan Dow Jones Transportation Index anjlok 3%. Sektor Lainnya terdapat saham jasa minyak, komoditas emas, dan real estat komersial yang ikut tertekan ke zona merah.
Namun pergerakan sebaliknya terlihat pada saham perusahaan pialang (brokerage) dan sektor semikonduktor yang mampu melawan arus (rebound) dan mencatatkan penguatan tipis di tengah aksi jual massal.








