Indeks Kospi Jumat Ditutup Anjlok; Sektor Teknologi dan Semikonduktor Menjadi Pusat Kejatuhan

49
kospi

(Vibiznews – Index) Bursa Saham Korea Selatan ditutup anjlok masif pada perdagangan hari Jumat, 24 Juli 2026, menghapus seluruh keuntungan dari sesi sebelumnya akibat gelombang kepanikan jual yang melanda pasar.

Indeks acuan Korea Composite Stock Price Index (KOSPI) terpuruk tajam 406,27 poin, atau 5,72 persen lebih rendah, dan berakhir pada level 6.690,62.

Pergerakan indeks hari ini diwarnai oleh tekanan jual yang dominan sejak awal sesi. KOSPI dibuka langsung melemah di level 7.000,78, yang sekaligus menjadi level tertinggi (high) intraday pada hari ini. Setelah pembukaan, indeks terus meluncur turun tanpa perlawanan berarti hingga menyentuh level terendah harian di 6.650,41 sebelum akhirnya ditutup. Pada perdagangan sebelumnya, KOSPI berada di posisi 7.096,89.

Kejatuhan masif KOSPI hari ini digerakkan oleh kombinasi sentimen negatif global dan domestik yang memicu aksi ambil untung besar-besaran setelah reli panjang pasar.

Faktor utama yang membebani pasar adalah eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta lonjakan harga minyak global. Sentimen ini langsung menekan bursa regional Asia dan memicu perpindahan arus dana secara masif oleh investor asing keluar dari pasar aset berisiko.

Di bursa domestik, sektor teknologi dan semikonduktor menjadi pusat kejatuhan. Saham-saham andalan penggerak indeks seperti Samsung Electronics dan SK Hynix dilaporkan anjlok hingga 6 persen. Koreksi tajam di sektor semikonduktor ini terbebani oleh dilema AI Bubble, di mana investor mulai meragukan valuasi yang terlalu tinggi dan menguji realisasi profitabilitas dari investasi kecerdasan buatan (AI) secara global. Guncangan sentimen ini diperparah oleh kekhawatiran ancaman tarif baru dari Amerika Serikat yang berisiko mengganggu rantai pasok cip memori canggih ke pasar barat.

Kepanikan di lantai bursa semakin berlipat ganda akibat tekanan jual dari posisi leverage atau utang margin yang tinggi. Besarnya utang margin di kalangan investor ritel memicu rentetan aksi jual paksa (force selling). Ketika indeks mulai terkoreksi tajam, sistem secara otomatis melakukan likuidasi portofolio, yang pada akhirnya menekan KOSPI jatuh lebih dalam secara mekanis.

Meski demikian, di tengah kejatuhan tajam beruntun ini, mulai muncul secercah harapan dari aktivitas institusi. Para investor institusi besar terpantau mulai melakukan strategi beli saat turun (buy the dip). Mereka memanfaatkan momentum aksi jual masal ini untuk mengakumulasi kembali saham-saham cip berkapitalisasi besar pada harga diskon, sebuah langkah yang berpotensi menjadi bantalan teknis bagi pemulihan harga jangka pendek.

Sebagai catatan tambahan, pergerakan KOSPI hari ini masih berada di dalam rentang pergerakan tahunan terlebarnya. Rekor level tertinggi 52 minggu saat ini berada di 9.385,59, sementara level terendah 52 minggu tercatat di 3.079,27.