Indeks Nikkei Jumat Ditutup Merosot Akibat Konflik Timur Tengah dan Penurunan Saham Teknologi dan AI

50
Tokyo Stock Exchange - Vibizmedia Photo

(Vibiznews – Index) Indeks Nikkei Jepang ditutup anjlok tajam pada perdagangan hari Jumat, 24 Juli 2026, tertekan oleh aksi jual masif di sektor teknologi serta meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap ancaman inflasi global dan domestik.

Indeks Nikkei 225 ditutup merosot 1.811,45 poin, atau turun 2,73%, dan berakhir pada level 64.611,15. Sepanjang sesi perdagangan hari ini, indeks mengawali pergerakan dengan dibuka melemah pada level 65.584,25. Indeks sempat mencoba naik menyentuh level tertinggi harian di 65.720,81 pada awal sesi, namun tekanan jual yang mendominasi menyeret indeks jatuh hingga ke level terendah harian di 64.201,03.

Pelemahan tajam ini menghapus seluruh penguatan pada sesi sebelumnya yang sempat ditutup di level 66.422,60. Sebagai catatan, rentang pergerakan indeks selama 52 minggu terakhir mencatat rekor tertinggi di level 72.831,73 dan titik terendah di 39.850,52.

Kejatuhan bursa Tokyo pada akhir pekan ini dipicu oleh tiga sentimen negatif utama yang menekan selera risiko investor secara signifikan:

Pertama, memudarnya euforia pada sektor teknologi dan kecerdasan buatan (AI). Investor global mulai bersikap skeptis dan mempertanyakan apakah investasi masif pada infrastruktur AI oleh perusahaan raksasa teknologi Amerika Serikat dapat memberikan imbal hasil yang cepat. Keraguan ini memicu aksi jual massal pada saham-saham teknologi utama Jepang. Penurunan signifikan dipimpin oleh SoftBank Group yang sahamnya anjlok 7,1%, diikuti oleh tekanan berat pada emiten pembuat cip terkemuka seperti Advantest dan Tokyo Electron.

Kedua, ancaman krisis energi yang dipicu oleh eskalasi geopolitik di Timur Tengah. Kontak senjata yang terus terjadi antara Amerika Serikat dan Iran telah mendorong harga minyak mentah WTI melonjak hingga menyentuh 93 dolar AS per barel. Kenaikan tajam harga energi global ini memperparah ketakutan pasar terhadap ancaman gelombang inflasi baru serta potensi berlanjutnya era suku bunga tinggi secara global.

Ketiga, meningkatnya tekanan inflasi domestik di Jepang. Data ekonomi terbaru menunjukkan bahwa inflasi inti Jepang bulan Juni naik ke level 1,7%. Lonjakan inflasi ini semakin memperkuat spekulasi di kalangan pelaku pasar bahwa Bank of Japan (BoJ) akan mengambil sikap agresif dan segera menaikkan suku bunga acuan pada pertemuan kebijakan moneter yang dijadwalkan pada minggu depan. Antisipasi terhadap pengetatan moneter ini turut membebani pergerakan ekuitas lokal sepanjang perdagangan hari ini.