Rekomendasi Harga Kakao 24 Juli 2026 : Terbebani Peningkatan Pasokan Afrika Barat

48

(Vibiznews – Commodity) Harga kakao di bursa komoditi berjangka New York terpantau mencatatkan pelemahan tipis pada perdagangan hari ini, tertekan oleh lonjakan pasokan fisik jangka pendek di pelabuhan Afrika Barat serta peningkatan inventaris gudang global.

Pergerakan harga kakao berjangka di bursa ICE New York saat ini berada di kisaran $5.301 per metrik ton. Harga komoditas ini tengah mengalami koreksi setelah pada awal bulan sempat melonjak ke level tertinggi dalam 24 minggu akibat kekhawatiran gangguan cuaca.

Arah pasar komoditas kakao saat ini didominasi oleh tarik-menarik antara melimpahnya pasokan spot dan ancaman defisit produksi untuk musim mendatang. Tekanan penurunan utama datang dari derasnya pasokan fisik, di mana data menunjukkan akumulasi pengiriman petani Pantai Gading, sebagai produsen terbesar dunia, ke pelabuhan telah mencapai 2,10 juta metrik ton atau naik signifikan sebesar 21% secara tahunan (y/y). Di samping itu, Nigeria juga melaporkan lonjakan ekspor sebesar 30% y/y untuk bulan Juni, yang pada akhirnya meredakan kepanikan pelaku pasar terhadap potensi kelangkaan pasokan.

Sentimen pelemahan semakin diperkuat oleh data persediaan gudang resmi yang terdaftar di bursa komoditas ICE, yang melonjak ke level tertinggi dalam dua tahun terakhir hingga mencapai 3.301.990 karung. Tingginya stok yang siap dikirim langsung ini telah memicu aksi ambil untung dan likuidasi posisi beli oleh para manajer dana investasi.

Meskipun demikian, sisi permintaan yang masih tangguh berhasil menahan kejatuhan harga lebih dalam. Aktivitas penggilingan kuartal II di Eropa memang tercatat melorot 4,6%, menyentuh level terendah dalam 6 tahun. Namun, pelemahan tersebut diimbangi oleh angka konsumsi manufaktur di Amerika Utara yang melonjak tak terduga sebesar 7,7% y/y, serta di kawasan Asia yang meroket pesat hingga 25% y/y. Hal ini mengindikasikan bahwa tingkat konsumsi cokelat dunia masih sangat kokoh di tengah tingginya harga.

Selain itu, penurunan harga juga tertahan oleh kekhawatiran jangka menengah terkait pembentukan buah kakao yang berada di bawah rata-rata akibat cuaca ekstrem di Afrika Barat. Konsultan komoditas memproyeksikan surplus kakao global akan menyusut tajam dari 415.000 metrik ton menjadi hanya 80.000 metrik ton pada musim panen 2026/2027 yang akan dimulai September mendatang, merespons ancaman siklus El Nino yang kuat.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya, harga kakao berpotensi bergerak konsolidasi dengan kecenderungan melemah menguji level support terdekat di tengah melimpahnya pasokan fisik harian. Harga kakao diperkirakan bergerak jika terkoreksi turun dalam kisaran Support $5.210-$5.150. Namun jika berbalik naik merespons solidnya permintaan kawasan Asia dan Amerika, akan menguji kisaran Resistance $5.400-$5.480.