Harga Minyak Sawit Senin Turun Mengikuti Kemerosotan Harga Minyak

114
cpo sawit

(Vibiznews – Commodity) – Perdagangan kontrak berjangka minyak sawit mentah atau CPO acuan dunia hari ini Senin, 27 Juli 2026, bergerak turun menembus ke bawah level psikologis RM4.700 per ton. Penurunan ini utamanya dipicu oleh maraknya aksi ambil untung atau profit-taking menyusul reli tajam pada pekan lalu, serta kuatnya tekanan dari kejatuhan harga minyak mentah dunia.

Tercatat harga acuan CPO berada di kisaran RM4.675 hingga RM4.678 per ton, terkoreksi dari posisi penutupan akhir pekan lalu yang bertengger di level RM4.722 per ton. Secara teknikal, pergerakan mingguan diproyeksikan akan terkonsolidasi dan bergerak cukup stabil dalam rentang RM4.400 hingga RM4.700 per ton. Sementara itu, harga di pasar fisik domestik Indonesia pada tender KPBN terpantau masih bergerak stabil dan cukup tinggi di kisaran Rp15.768 hingga Rp15.800 per kilogram.

Faktor penekan utama pergerakan harga hari ini bersumber dari pasar energi global. Harga minyak mentah dunia dilaporkan anjlok hingga 5% setelah ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran mereda pada akhir pekan. Penurunan harga energi fosil ini secara langsung mengikis daya tarik minyak sawit sebagai bahan baku campuran biodiesel komersial di pasar internasional.

Koreksi harga juga diperdalam oleh tingginya aksi ambil untung. Setelah harga minyak sawit sempat melonjak dan menyentuh level tertinggi dalam 15 minggu terakhir pada pekan lalu, para pelaku pasar memanfaatkan momentum hari ini untuk segera mengunci keuntungan mereka.

Selain itu, fluktuasi harga CPO hari ini turut dibayangi oleh tren pelemahan harga minyak nabati kompetitor, khususnya minyak kedelai di bursa Chicago Board of Trade (CBOT) maupun bursa Dalian, Tiongkok, mengingat posisinya sebagai produk substitusi langsung di pasar minyak nabati global.

Meski mendapat banyak sentimen negatif eksternal, pelemahan harga CPO cenderung tertahan oleh sentimen pengetatan pasokan jangka panjang. Fundamental pasar disokong oleh rilis data ekspor Malaysia untuk periode 1–25 Juli yang melonjak cukup tajam sebesar 15,9%. Di samping itu, implementasi kebijakan mandatori biodiesel B50 di Indonesia terus diantisipasi oleh pasar karena secara struktural akan menyerap pasokan domestik dalam jumlah besar, sehingga memberikan landasan yang kuat agar harga tidak jatuh lebih dalam.