(Vibiznews – Commodity) – Harga kontrak berjangka minyak sawit mentah atau CPO untuk bulan penyerahan teraktif, yakni Oktober 2026, di Bursa Malaysia Derivatives terpantau bergerak melemah pada sesi perdagangan sore hari ini, Jumat (31/7/2026). Kontrak acuan tersebut mengalami penurunan sebesar 47 ringgit dan berada pada level RM4.636 per metrik ton. Meskipun mengalami koreksi harian, performa harga komoditas andalan ini sepanjang bulan Juli 2026 secara kumulatif tetap solid dan membukukan kenaikan bulanan untuk dua bulan berturut-turut dengan apresiasi lebih dari 2 persen.
Koreksi harga pada akhir pekan ini tidak hanya terjadi pada kontrak acuan utama. Kontrak untuk pengiriman bulan November 2026 juga tercatat melemah 45 ringgit menjadi RM4.669 per metrik ton, sementara kontrak bulan September 2026 merosot 46 ringgit ke level RM4.597 per metrik ton. Walaupun perdagangan hari ini dibayangi oleh tekanan jual, tren harga secara keseluruhan di sepanjang bulan Juli 2026 masih berada di jalur yang positif, dengan mencatatkan pertumbuhan sekitar 2,48 persen hingga 2,77 persen jika dibandingkan dengan posisi penutupan pada akhir bulan lalu.
Pelemahan harga CPO harian ini utamanya didorong oleh sentimen negatif dari pasar minyak nabati pesaing. Harga minyak sawit terpaksa ikut turun untuk menjaga daya saingnya menyusul penurunan harga minyak kedelai yang terjadi di bursa Chicago Board of Trade maupun di bursa komoditas Dalian. Di samping itu, pasar sawit juga ikut terseret oleh melandainya harga minyak mentah dunia setelah sebelumnya sempat mengalami penguatan yang tajam. Penurunan harga energi global ini secara langsung mengurangi daya tarik komersial minyak sawit sebagai bahan baku pencampur biodiesel di pasar internasional.
Kendati mendapat tekanan bertubi-tubi dari berbagai sentimen eksternal, penurunan harga minyak sawit hari ini berhasil ditahan agar tidak merosot lebih dalam. Penahan koreksi ini berasal dari rilis data estimasi ekspor minyak sawit Malaysia periode Juli yang tercatat masih sangat kuat dan stabil. Dari sisi fundamental jangka panjang, prospek harga juga mendapatkan dukungan yang signifikan. Beberapa firma riset komoditas saat ini mulai mengantisipasi potensi kenaikan harga di masa mendatang menyusul tingginya risiko kembalinya fenomena iklim El Nino yang kuat pada akhir tahun 2026, sebuah kondisi cuaca ekstrem yang dikhawatirkan dapat memukul mundur tingkat produksi kelapa sawit global.








