Rekomendasi Harga Kakao 4 Agustus 2026 : Naik Terdukung Prospek Penurunan Pasokan Afrika Barat

57

(Vibiznews – Commodity) Harga kakao di bursa komoditi berjangka New York melonjak tajam pada perdagangan awal pekan hari Senin waktu setempat, atau Selasa dini hari waktu Indonesia, tertekan oleh memburuknya prospek pasokan dari Ghana yang merupakan produsen kakao terbesar kedua di dunia.

Kontrak kakao acuan ICE New York untuk penyerahan bulan September ditutup melonjak 542 poin atau naik 10,04 persen, sementara kontrak kakao ICE London untuk penyerahan bulan yang sama turut melesat 391 poin atau setara kenaikan 9,75 persen. Kenaikan ini merupakan kelanjutan reli dari sesi perdagangan akhir pekan sebelumnya, sehingga harga kakao berhasil menembus level tertinggi dalam dua pekan terakhir. Sepanjang sesi perdagangan, harga bergerak dalam rentang harian yang cukup lebar, mulai dari level terendah di kisaran 5.379 dolar AS hingga level tertinggi 5.949 dolar AS per metrik ton.

Pemicu utama lonjakan harga datang dari peringatan resmi otoritas kakao Ghana, COCOBOD, yang memproyeksikan produksi kakao negara tersebut pada musim 2026/2027 berpotensi anjlok ke kisaran 450.000 hingga 550.000 metrik ton, turun signifikan dari proyeksi 750.000 metrik ton pada musim 2025/2026. Penurunan tajam ini disebabkan oleh kombinasi sejumlah faktor struktural, di antaranya penyebaran penyakit pucuk membengkak atau swollen shoot disease, kondisi perkebunan yang menua, serta ancaman cuaca buruk akibat pola iklim El Nino yang diperkirakan menjadi salah satu yang terkuat dalam lebih dari 75 tahun terakhir menurut US Climate Prediction Center.

Sentimen pasar turut terdorong oleh kekhawatiran atas potensi gangguan rantai pasok global, seiring terhambatnya arus pelayaran komersial di Selat Hormuz dan Laut Merah akibat konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran. Meski demikian, dari sisi fundamental fisik, data pengiriman kakao dari Pantai Gading justru masih menunjukkan kenaikan sebesar 20 persen secara tahunan menjadi 2,11 juta metrik ton untuk periode musim berjalan hingga awal Agustus, sementara ekspor kakao Nigeria pada bulan Juni tercatat melonjak 30 persen secara tahunan mencapai 18.922 metrik ton. Kondisi ini turut diimbangi oleh tingginya inventaris kakao di bursa ICE yang naik ke level tertinggi dalam dua tahun terakhir, sehingga menjadi salah satu faktor penyeimbang bagi laju kenaikan harga.

Dari sisi permintaan, data konsumsi industri global sepanjang kuartal kedua tercatat bervariasi. Data giling kakao Eropa turun 4,6 persen menjadi 316.366 metrik ton, mencatatkan level terendah untuk kuartal kedua dalam enam tahun terakhir. Sebaliknya, data giling kakao Amerika Utara justru naik di luar perkiraan sebesar 7,7 persen menjadi 109.659 metrik ton, sementara permintaan kawasan Asia turut menguat dengan kenaikan giling sebesar 25 persen menjadi 224.646 metrik ton, jauh melampaui ekspektasi pasar.

Proyeksi surplus kakao global untuk musim 2026/2027 turut mengalami revisi ke bawah yang signifikan. Lembaga riset StoneX memangkas estimasi surplus global menjadi hanya 25.000 metrik ton, dari proyeksi sebelumnya sebesar 149.000 metrik ton pada bulan April. Sejalan dengan itu, Transgraph Consulting juga memperkirakan surplus global akan menyusut tajam menjadi 80.000 metrik ton dari 415.000 metrik ton pada musim sebelumnya, seiring proyeksi penurunan produksi global menjadi 4,87 juta metrik ton dari 5,11 juta metrik ton. Survei awal terhadap perkebunan Pantai Gading turut menunjukkan pembentukan cherelle yang di bawah rata-rata, meski sejumlah pihak menyebut adanya perbaikan jumlah polong pada survei terbaru. Sementara itu, Asosiasi Kakao Nigeria turut memproyeksikan produksi kakao negara tersebut pada musim 2025/2026 akan turun 11 persen secara tahunan menjadi 305.000 metrik ton.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan pergerakan harga kakao pada perdagangan berikutnya masih berpotensi volatil di tengah kekhawatiran pasar terhadap prospek suplai Afrika Barat yang semakin menipis. Apabila momentum penguatan berlanjut, harga kakao berpotensi menguji kisaran resistance di 5.949 hingga 6.100 dolar AS per metrik ton. Namun, apabila terjadi aksi ambil untung mengingat kenaikan yang telah terjadi cukup tajam dalam waktu singkat, harga berpotensi terkoreksi menguji area support di kisaran 5.379 hingga 5.200 dolar AS per metrik ton.