Rekomendasi Harga Minyak 4 Agustus 2026 : Naik Terpicu Ketidakpastian Hasil Pertemuan AS-Iran

50

(Vibiznews – Commodity) – Harga minyak mentah dunia anjlok tajam hingga lebih dari 5 persen pada perdagangan pasar komoditas internasional hari ini, Selasa (4/8/2026). Kejatuhan harga yang cukup drastis ini membawa kedua harga patokan minyak global jatuh ke level terendahnya dalam tiga minggu terakhir, setelah premi risiko geopolitik di Timur Tengah yang sebelumnya membumbung tinggi menghilang secara mendadak dalam semalam.

Berdasarkan data perdagangan bursa komoditas berjangka terbaru, kontrak berjangka minyak mentah acuan global jenis Brent ambles tajam sebesar 7,0 persen dan ditutup pada level 83,77 dolar AS per barel. Dalam satu sesi perdagangan, kontrak berjangka Brent bahkan sempat kehilangan hingga 6,35 dolar AS per barel dari posisi pembukaannya. Sementara itu, minyak acuan Amerika Serikat jenis West Texas Intermediate (WTI) jatuh 5,11 persen dan menetap di posisi 80,34 dolar AS per barel, setelah sempat menyentuh level intraday terendahnya di kisaran 80,04 dolar AS per barel pada sesi perdagangan hari ini.

Kejatuhan harga yang tajam ini dipicu oleh langkah de-eskalasi yang mengejutkan pasar dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Trump dilaporkan membatalkan rencana serangan militer besar-besaran terhadap Iran yang sebelumnya dijadwalkan berlangsung akhir pekan lalu. Langkah diplomasi mendadak tersebut secara signifikan meredakan kekhawatiran pasar atas risiko pecahnya perang terbuka antara Washington dan Teheran yang sempat membayangi pasar energi global selama berminggu-minggu terakhir.

Selain pembatalan rencana serangan, sentimen negatif terhadap harga minyak turut diperkuat oleh prospek pembukaan kembali Selat Hormuz secara penuh. Melalui unggahan di media sosial, Trump mengklaim kerangka kesepakatan awal telah tercapai, termasuk jaminan pembukaan total jalur pelayaran Selat Hormuz yang selama ini menjadi urat nadi bagi sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Iran sendiri dilaporkan tengah menjalin komunikasi intensif dengan Oman terkait penataan rute aman bagi lalu lintas kapal tanker di kawasan tersebut.

Faktor lain yang turut menekan harga adalah spekulasi mengenai potensi kembalinya pasokan minyak Iran ke pasar global. Rumor mengenai kemajuan pembicaraan damai antara AS dan Iran memicu ekspektasi pelaku pasar bahwa Iran berpotensi mengalirkan tambahan pasokan sebesar 1 hingga 1,5 juta barel per hari dalam beberapa bulan ke depan, yang tentu akan menambah suplai di tengah pasar yang sebelumnya diperketat oleh ancaman gangguan pasokan dari kawasan Teluk.

Di sisi lain, sejumlah analis menilai bahwa penurunan harga yang begitu tajam dalam satu sesi ini turut dipengaruhi oleh strategi verbal Trump yang secara konsisten berupaya menekan harga komoditas energi atau talking the market lower, sebagai bagian dari langkah untuk menurunkan harga bensin eceran bagi konsumen domestik Amerika Serikat menjelang periode politik yang sensitif.

Analisa Teknikal

Secara teknikal, harga minyak mentah Brent yang ambruk hingga menembus level psikologis 84 dolar AS per barel mengonfirmasi terjadinya breakdown dari pola konsolidasi yang terbentuk sejak akhir Juli lalu. Candle bearish dengan body panjang dan volume tinggi pada sesi ini mengindikasikan tekanan jual yang masif dan dominasi penuh dari pelaku pasar bearish. Indikator Relative Strength Index (RSI) harian diperkirakan telah terkoreksi tajam mendekati area oversold, namun momentum penurunan yang kuat berpotensi membawa harga menguji support psikologis berikutnya di kisaran 82,00 dolar AS per barel sebelum menemukan titik keseimbangan baru. Apabila level tersebut tertembus, target penurunan lanjutan dapat mengarah ke kisaran 80,50 dolar AS per barel. Sementara itu, area resisten terdekat kini berpindah ke kisaran 85,50 – 86,80 dolar AS per barel, yang sebelumnya berfungsi sebagai support, sejalan dengan prinsip role reversal dalam analisa teknikal.

Untuk minyak mentah WTI, harga yang terkoreksi ke level 80,34 dolar AS per barel dan sempat menyentuh intraday low di 80,04 dolar AS per barel menunjukkan bahwa harga tengah mendekati level support psikologis krusial di kisaran 80,00 dolar AS per barel. Kegagalan mempertahankan level tersebut berpotensi membuka ruang penurunan lanjutan menuju area 78,50 – 77,00 dolar AS per barel. Selama harga masih tertahan di atas level 80,00 dolar AS per barel, peluang technical rebound jangka pendek tetap terbuka, dengan resisten terdekat berada di kisaran 82,50 – 84,10 dolar AS per barel. Namun demikian, selama harga masih bergerak di bawah moving average jangka pendeknya, bias tren jangka pendek WTI cenderung tetap bearish, dan setiap penguatan sementara berpotensi dimanfaatkan pelaku pasar untuk melakukan aksi jual lanjutan (sell on rally).

Secara keseluruhan, pergerakan harga minyak dalam beberapa hari ke depan akan sangat bergantung pada perkembangan lanjutan dari negosiasi AS-Iran serta konfirmasi resmi mengenai status keamanan Selat Hormuz, yang akan menjadi penentu apakah tren penurunan tajam ini berlanjut atau justru berbalik arah seiring munculnya aksi beli di area jenuh jual.