Harga Minyak Rabu Stabil Mencermati Negosiasi AS-Iran

48

(Vibiznews – Commodity) – Harga minyak mentah dunia pada perdagangan hari ini, Rabu (5/8/2026), terpantau bergerak relatif stabil dan cenderung menguat tipis, setelah sebelumnya terpukul koreksi tajam hingga hampir 6 persen selama dua sesi perdagangan berturut-turut. Pergerakan harga yang mulai mendatar ini mengindikasikan pasar tengah mencari keseimbangan baru, dengan fokus investor kini tertuju penuh pada dinamika negosiasi diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran, serta hambatan yang masih membelit kendali atas operasional Selat Hormuz.

Berdasarkan data perdagangan bursa komoditas berjangka hari ini, kontrak berjangka minyak mentah acuan global jenis Brent diperdagangkan menguat tipis 26 sen atau 0,33 persen ke level 79,62 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak acuan Amerika Serikat jenis West Texas Intermediate (WTI) naik tipis 12 sen atau 0,16 persen ke posisi 75,90 dolar AS per barel. Sepanjang sesi perdagangan hari ini, WTI tercatat bergerak pada rentang 74,24 hingga 76,39 dolar AS per barel, setelah dibuka di level 75,17 dolar AS per barel dari posisi penutupan sebelumnya di 75,77 dolar AS per barel.

Penguatan tipis pada perdagangan hari ini ditopang oleh mencuatnya laporan mengenai ekspektasi gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran. Pelaku pasar mulai mengurangi premi risiko geopolitik yang sebelumnya membebani harga, seiring munculnya kabar bahwa AS, Iran, dan Oman tengah mendekati kesepakatan interim selama 60 hari guna meredakan ketegangan militer yang telah berlangsung berlarut-larut di kawasan Timur Tengah.

Meskipun demikian, ruang penguatan harga yang lebih jauh masih tertahan oleh sejumlah faktor pengganjal. Negosiasi antara ketiga pihak dilaporkan masih membentur persoalan krusial terkait kendali atas Selat Hormuz. Para analis mencatat bahwa masih terjadi perdebatan yang cukup alot mengenai sejauh mana tingkat kendali pelayaran yang tetap dipertahankan oleh Iran di jalur maritim tersebut, sesuatu yang hingga kini masih ditolak oleh pihak Amerika Serikat. Belum tuntasnya isu ini membuat pelaku pasar cenderung menahan diri untuk mengambil posisi beli secara agresif.

Selain faktor geopolitik, penguatan harga minyak hari ini turut diredam oleh data fundamental dari sisi pasokan domestik Amerika Serikat. American Petroleum Institute (API) melaporkan adanya lonjakan tak terduga pada stok minyak mentah komersial AS sebesar 2,7 juta barel untuk periode pekan yang berakhir 31 Juli 2026. Kenaikan stok yang di luar ekspektasi pasar ini turut menambah tekanan pada sentimen harga, mengingat hal tersebut mengindikasikan permintaan domestik AS yang belum sepenuhnya solid di tengah upaya pasar mencari arah baru pascakoreksi tajam pekan ini.

Analisa Teknikal

Secara teknikal, minyak mentah WTI terpantau sedang berkonsolidasi di atas level psikologis 75,00 dolar AS per barel, setelah sebelumnya mengalami tekanan jual yang cukup masif dalam dua sesi terakhir. Pivot point harian berada di level 75,90 dolar AS per barel, yang menjadi titik keseimbangan arah pergerakan harga hari ini. Apabila harga mampu bertahan stabil di atas level pivot tersebut, potensi penguatan lanjutan terbuka menuju resistance 1 (R1) di 76,40 dolar AS per barel, yang sejajar dengan garis rata-rata pergerakan teknikal intraday. Penembusan level R1 dengan didukung volume tinggi berpeluang memicu reli lanjutan menuju resistance 2 (R2) di 77,50 dolar AS per barel, yang akan menjadi batas pembalikan tren apabila sentimen eskalasi di Laut Merah kembali memanas.

Sebaliknya, apabila harga WTI gagal bertahan di atas pivot point dan kembali tertekan ke bawah, support 1 (S1) di level 75,10 dolar AS per barel menjadi batas pertahanan krusial untuk mencegah penurunan lebih lanjut menuju level terendah baru. Jika level tersebut tertembus, harga berisiko meluncur menuju support 2 (S2) di 74,30 dolar AS per barel, yang berpotensi memasuki area jenuh jual (oversold) terutama jika data inventaris minyak mentah AS yang akan dirilis malam nanti kembali menunjukkan lonjakan stok.

Untuk minyak mentah Brent, harga saat ini tengah berupaya bertahan di kisaran area 79,00–80,00 dolar AS per barel, sembari pasar mencerna kelanjutan negosiasi seputar status Selat Hormuz. Pivot point harian Brent berada di level 79,62 dolar AS per barel. Jika harga mampu menembus resistance 1 (R1) di 80,50 dolar AS per barel, yang merupakan batas psikologis utama untuk menguji kekuatan momentum pembeli, ruang penguatan lanjutan dapat terbuka menuju resistance 2 (R2) di 81,30 dolar AS per barel, yang menjadi batas atas pemulihan apabila terjadi gangguan pasokan fisik secara mendadak.

Di sisi bawah, support 1 (S1) Brent berada di level 78,80 dolar AS per barel sebagai batas aman dari tekanan jual jangka pendek. Apabila level ini tidak mampu bertahan, harga berpotensi tergelincir lebih jauh menuju support 2 (S2) di 77,90 dolar AS per barel, yang menjadi lantai dasar pertahanan mingguan apabila kesepakatan interim AS-Iran resmi tercapai dan premi risiko geopolitik semakin menyusut.

Strategi perdagangan hari ini, dalam kondisi bullish, jika harga bertahan stabil di atas pivot point, potensi pengujian menuju R1 terbuka lebar, dan penembusan R1 dengan volume tinggi dapat memicu reli pendek ke arah R2. Sementara dalam kondisi bearish, jika harga menembus ke bawah pivot point, penurunan kemungkinan akan berlanjut menguji S1, dan pelaku pasar perlu mewaspadai potensi aksi jual lanjutan apabila level S1 gagal menahan tekanan.

Secara keseluruhan, pergerakan harga minyak dalam beberapa hari ke depan akan sangat ditentukan oleh perkembangan lanjutan dari perundingan AS-Iran-Oman, terutama terkait kejelasan status Selat Hormuz, serta rilis data resmi cadangan minyak mentah AS dari Energy Information Administration (EIA) yang akan menjadi konfirmasi lebih lanjut atas tren pasokan domestik Amerika Serikat.