(Vibiznews – Commodity) Harga minyak mentah berakhir turun pada akhir pekan hari Jumat, setelah Badan Energi Internasional (IEA) memperingatkan bahwa harga minyak yang tinggi dan pasokan minyak yang terbatas akan menyebabkan penurunan terbesar dalam permintaan minyak global tahun ini sejak pandemi Covid-19.
Harga minyak mentah berjangka WTI AS ditutup turun 2,37% pada $100,05 per barel.
Harga minyak mentah berjangka Brent ditutup turun 2,81% pada $104,61 per barel.
Namun pada hari Sabtu, harga minyak Brent ditutup naik 2,84% pada$107,58 per barel.
Meskipun ada proyeksi penurunan permintaan, IEA menaikkan perkiraan defisit minyak global tahun ini menjadi 1,7 juta barel per hari (bpd)—naik dari perkiraan bulan lalu sebesar 1,3 juta bpd—akibat terbatasnya pasokan yang disebabkan oleh perang AS-Iran.
IEA menyatakan bahwa kembalinya surplus minyak global akan tertunda hingga tahun 2027, lebih lambat dari perkiraan sebelumnya pada akhir tahun 2026.
Namun pada akhir pekan hari Minggu, Badan Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) melaporkan bahwa sebuah proyektil menghantam kapal yang sedang melintasi Selat Hormuz. Tingkat kerusakan dan kondisi awak kapal belum diketahui secara pasti saat ini.
Serangan tersebut meningkatkan kekhawatiran mengenai pasokan minyak global, sehari setelah Arab Saudi menutup jalur pipa vital Timur-Barat akibat serangan pesawat nirawak (drone) yang berasal dari Irak.
Insiden ini menambah tekanan pada pasar energi setelah harga minyak mentah Brent kembali melonjak di atas $100 per barel pekan lalu. Selat Hormuz sebagian besar telah tertutup akibat perang selama enam bulan, sehingga jalur ekspor alternatif menjadi semakin penting bagi para produsen di kawasan Teluk.
Jalur pipa Timur-Barat Arab Saudi yang membentang sepanjang 1.200 kilometer menjadi sangat vital, karena mengalirkan sekitar 4 juta hingga 5 juta barel minyak per hari, atau setara dengan sekitar 4% hingga 5% dari pasokan minyak global.
Riyadh menutup sementara jalur pipa tersebut setelah serangan drone yang—menurut pernyataan Arab Saudi dan Irak—berasal dari Irak, wilayah tempat beroperasinya milisi yang didukung Iran. Otoritas Saudi melaporkan adanya korban luka dan kerusakan, namun tidak merinci dampaknya terhadap ekspor minyak.
Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya, harga minyak dapat bergerak naik dengan meningkatnya ketegangan militer di Selat Hormuz dan penutupan jalur pipa Arab Saudi.
Harga minyak mentah berjangka WTI AS diperkirakan bergerak dalam kisaran Resistance $103,51-$106,98. Namun jika turun, akan bergerak dalam kisaran Support $97,53-$95,02.
Harga minyak mentah berjangka Brent diperkirakan bergerak dalam kisaran Resistance $108,41-$109,23. Namun jika turun, akan bergerak dalam kisaran Support $106,75-$105,91.







