Investor Aktif Mencari Nilai pada Saham Terabaikan

37
emiten barang konsumsi Investor

(Vibiznews-Kolom) Tidak semua investor ingin menjalankan portofolio secara pasif. Ada investor yang bersedia mencurahkan lebih banyak waktu untuk membaca laporan keuangan, membandingkan harga dengan nilai bisnis, mencari perusahaan yang kurang mendapat perhatian pasar, dan menunggu sampai peluang tersebut memberikan hasil. Dalam The Intelligent Investor, Benjamin Graham menempatkan investor seperti ini sebagai enterprising investor, yaitu investor yang berusaha memperoleh hasil yang lebih baik dari rata-rata melalui kerja analisis yang lebih aktif.

Namun, menjadi investor aktif bukan berarti harus lebih sering membeli dan menjual saham. Graham justru memberikan pengertian yang lebih disiplin. Aktivitas investor dapat diarahkan pada beberapa pendekatan, mulai dari membeli ketika pasar berada pada level rendah dan menjual ketika harga tinggi, memilih saham pertumbuhan secara hati-hati, membeli saham yang benar-benar murah, hingga memanfaatkan situasi khusus atau special situations. Artinya, keaktifan terutama terletak pada kualitas proses analisis, bukan pada seberapa sering transaksi dilakukan.

Salah satu peluang yang menarik bagi investor aktif adalah perusahaan besar yang sedang tidak populer. Graham melihat adanya kecenderungan pasar untuk memberikan valuasi tinggi kepada perusahaan yang sedang menunjukkan pertumbuhan kuat atau memiliki citra menarik. Sebaliknya, perusahaan yang sedang menghadapi masalah sementara atau kehilangan perhatian investor dapat mengalami tekanan harga yang berlebihan. Kondisi inilah yang dapat menciptakan peluang bagi investor yang bersedia melihat lebih jauh daripada sekadar sentimen pasar.

Mengapa Graham lebih menyukai perusahaan besar yang sedang tidak disukai pasar dibandingkan perusahaan kecil yang murah? Ada alasan yang cukup kuat. Perusahaan besar umumnya memiliki sumber daya modal dan kemampuan manajemen yang lebih besar untuk melewati masa sulit. Selain itu, ketika kinerja perusahaan mulai membaik, pasar cenderung lebih cepat menyadarinya. Dengan demikian, investor tidak hanya mencari harga murah, tetapi juga mempertimbangkan kemampuan perusahaan untuk bertahan dan memulihkan kinerjanya.

Dalam pengamatan yang dikutip Graham, pendekatan terhadap perusahaan besar yang tidak populer pernah menunjukkan hasil menarik. Studi terhadap saham-saham Dow Jones Industrial Average membandingkan saham dengan multiplier laba paling rendah dengan saham yang memiliki multiplier paling tinggi. Dalam 34 pengujian satu tahun selama periode 1937–1969, kelompok saham dengan multiplier rendah hanya berkinerja lebih buruk daripada indeks dalam tiga kasus, sementara dalam 25 tahun kelompok tersebut mengungguli rata-rata. Data historis tersebut bukan jaminan keuntungan, tetapi memperlihatkan bagaimana ketidakpopuleran dapat menciptakan perbedaan antara harga dan nilai.

Konsep yang lebih penting lagi adalah bargain issue, atau saham yang berdasarkan analisis memiliki nilai jauh lebih tinggi daripada harga jualnya di pasar. Graham memberikan batas yang cukup ketat. Menurut kerangka yang digunakan dalam bukunya, suatu saham belum layak disebut benar-benar murah jika nilai yang diindikasikan belum setidaknya 50 persen lebih tinggi daripada harga pasarnya. Dengan kata lain, investor tidak cukup hanya menemukan saham dengan PER rendah atau harga yang sudah jatuh. Harus ada alasan fundamental yang menunjukkan adanya selisih besar antara harga dan nilai.

Untuk menemukan kondisi tersebut, Graham menjelaskan dua pendekatan utama. Pertama adalah metode penilaian berdasarkan perkiraan laba masa depan. Investor memperkirakan kemampuan perusahaan menghasilkan laba kemudian menggunakan faktor valuasi yang sesuai untuk memperoleh nilai yang masuk akal. Jika hasil penilaian tersebut jauh berada di atas harga pasar dan metode yang digunakan cukup dapat dipercaya, saham tersebut dapat dikategorikan sebagai peluang murah.

Pendekatan kedua melihat perusahaan dari sudut pandang pemilik bisnis pribadi. Pertanyaannya bukan sekadar berapa harga saham di bursa, melainkan berapa nilai bisnis tersebut jika dinilai sebagai sebuah perusahaan yang dimiliki secara langsung. Dalam pendekatan ini, aset yang dapat direalisasikan mendapat perhatian lebih besar, terutama aset lancar bersih atau working capital. Cara berpikir tersebut membantu investor keluar dari jebakan melihat saham hanya sebagai angka yang bergerak di layar perdagangan.

Peluang seperti ini dapat muncul ketika kinerja perusahaan sedang mengecewakan. Pasar sering kali bereaksi terhadap penurunan laba seolah-olah masalah tersebut akan berlangsung selamanya. Padahal, kinerja yang buruk bisa saja bersifat sementara. Graham menunjukkan bahwa saham perusahaan yang sedang mengalami tekanan dapat menjadi murah apabila investor mampu membedakan masalah sementara dari kerusakan fundamental yang permanen. Karena itu, harga yang turun bukan dengan sendirinya merupakan alasan untuk membeli. Yang dicari adalah penurunan harga yang tidak sebanding dengan penurunan nilai bisnis.

Sumber peluang lainnya adalah ketidakpopuleran yang berlangsung lama. Sebuah perusahaan dapat memiliki aset, kemampuan menghasilkan laba, dan posisi bisnis yang sebenarnya cukup baik, tetapi kurang mendapat perhatian investor. Tidak adanya antusiasme pasar dapat membuat harga turun ke tingkat yang tidak masuk akal. Graham menyebut dua sumber utama undervaluation, yaitu hasil yang mengecewakan saat ini serta pengabaian atau ketidakpopuleran yang berkepanjangan.

Tetapi di sinilah investor aktif menghadapi pekerjaan yang lebih berat. Tidak semua perusahaan yang murah merupakan investasi yang baik. Perusahaan yang kinerjanya buruk mungkin benar-benar sedang menuju kemunduran permanen. Saham yang tidak populer juga bisa tetap tidak populer dalam waktu yang sangat panjang. Karena itu, Graham tidak menyarankan investor membeli hanya karena harga terlihat rendah. Analisis harus menentukan apakah ada alasan yang masuk akal bahwa nilai perusahaan akan bertahan atau meningkat.

Pendekatan yang lebih agresif bahkan dapat mencari perusahaan yang harga sahamnya berada di bawah nilai aset lancar bersih setelah seluruh klaim sebelumnya diperhitungkan. Graham mencatat bahwa peluang seperti ini pernah muncul dalam jumlah cukup besar pada periode pasar yang tertekan. Bahkan terdapat contoh perusahaan yang dapat dibeli di bawah nilai working capital-nya. Namun strategi semacam ini membutuhkan diversifikasi dan kesabaran karena pasar tidak selalu segera mengakui nilai yang ditemukan investor.

Kesabaran menjadi bagian penting dari strategi tersebut. Graham memberikan contoh perusahaan yang sahamnya dibeli jauh di bawah nilai asetnya, tetapi keuntungan tidak langsung muncul. Setelah beberapa tahun, perusahaan tersebut kemudian mengalami transaksi yang membuat harga sahamnya meningkat jauh. Contoh itu memperlihatkan bahwa investasi berbasis nilai tidak selalu bekerja dalam hitungan minggu atau bulan. Investor dapat benar dalam analisisnya tetapi tetap harus menunggu pasar menyesuaikan harga dengan nilai bisnis.

Ada satu prinsip yang mengikat seluruh pendekatan tersebut, yaitu margin of safety. Semakin jauh nilai yang dihitung berada di atas harga pembelian, semakin besar ruang bagi kesalahan analisis. Graham menekankan bahwa margin of safety selalu bergantung pada harga yang dibayar. Pada satu harga margin tersebut mungkin besar, pada harga yang lebih tinggi menjadi kecil, dan pada harga yang terlalu tinggi bahkan bisa hilang sama sekali.

Karena itu, investor aktif tidak seharusnya terobsesi menemukan perusahaan paling hebat di pasar. Tugasnya justru mencari ketidakseimbangan antara harga dan nilai. Perusahaan yang sedang populer mungkin memiliki bisnis luar biasa, tetapi jika harga sahamnya sudah mencerminkan ekspektasi yang terlalu tinggi, peluang investasinya belum tentu menarik. Sebaliknya, perusahaan yang sedang diabaikan bisa memberikan peluang jika harga yang dibayar cukup rendah dibandingkan nilai fundamentalnya.

Inilah perbedaan penting antara investor aktif dan spekulan. Spekulan dapat membeli saham karena memperkirakan harga akan naik. Investor aktif ala Graham membeli karena telah menemukan alasan bahwa harga saat ini berada di bawah nilai yang dapat dipertanggungjawabkan. Ia tidak membutuhkan pasar untuk selalu setuju dengan pendapatnya hari ini. Yang dibutuhkan adalah analisis yang masuk akal, harga pembelian yang disiplin, diversifikasi yang memadai, dan kesabaran untuk menunggu.

Investor aktif dengan demikian bukan investor yang paling sibuk. Ia adalah investor yang bersedia bekerja lebih keras ketika peluang menuntutnya. Ia mencari perusahaan yang sedang diabaikan, memeriksa apakah masalahnya sementara atau permanen, menghitung nilai bisnis, membandingkannya dengan harga pasar, kemudian hanya bertindak ketika terdapat selisih yang cukup besar. Di tengah pasar yang sering digerakkan oleh popularitas dan emosi, kemampuan melihat nilai ketika orang lain hanya melihat harga menjadi salah satu keunggulan terpenting seorang investor.