Dampak Ekonomi Virus Corona: Sejauh Mana Euro Akan Turun?

1218

(Vibiznews-Column) Wabah virus corona dari Wuhan terus merebak dengan cepat. Kondisi semakin buruk. Angka kematian dari merebaknya wabah virus corona di Cina daratan telah mencapai paling sedikit 1.868 orang dengan 72.436 orang dikonfirmasikan tertular.

Sebagian besar kematian dan yang terjangkit berada di Cina. Beijing telah memperketat restriksi pergerakan di Provinsi Hubei dimana kota Wuhan berada. Diluar Cina, yang paling banyak terjangkit adalah mereka yang berada di kapal pesiar Princess Diamond. Inggris bergabung dengan Amerika Serikat di dalam mengevakuasi penduduknya dari kapal pesiar ini di Jepang.

Dampak ekonomi yang negatif sebagai akibat dari wabah virus corona ini terus berkembang.

Pasar global terpukul setelah berita bahwa Apple telah mengeluarkan peringatan yang mengatakan bahwa penjualan kuartal pertamanya akan lebih rendah daripada yang diperkirakan karena wabah virus corona yang telah memperlambat dan menghentikan pengiriman dari persediaan yang dibutuhkan oleh Apple yang datang dari Cina.

Rantai persediaan global telah terpengaruh secara signifikan sebagaimana yang terlihat di dalam laporan dari melesetnya penjualan Apple. Laporan juga mengatakan bahwa lebih dari 730 juta orang di Cina masih dikarantina dengan aktif, menunjukkan bahwa disrupsi rantai persediaan masih akan terus berlangsung dengan menciutnya perekonomian dari negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia ini.

Apple, perusahaan yang bernilai sekitar $1,4 triliun, telah mengumumkan bahwa mereka akan gagal mencapai target di kuartal yang berakhir pada bulan Maret karena wabah virus corona. Pembuat iPhone ini mendapatkan kesukaran di dalam memproduksi iPhone yang disebabkan penutupan pabrik yang berhubungan dengan virus corana di Cina. Terlebih lagi, raksasa tehnologi ini berkata bahwa penjualannya di negara dengan populasi sekitar 1.4 miliar orang ini telah jatuh juga dengan turunnya lalulintas ke persediaan barang.

Ketika perusahaan yang paling berharga di dunia memberikan peringatan mengenai dampak negatif secara ekonomi, pasar tidak bisa mengabaikan dan assets “safe-haven” seperti dolar AS diburu orang. Inilah penggerak turunnya EUR/USD yang terbaru. Pengumuman dari raksasa tehnologi ini telah membebani sentimen pasar dan mendorong harga emas dan yen naik lebih tinggi.

Perusahaan yang berbasis di California ini bukanlah satu-satunya perusahaan yang mengeluarkan pernyataan serupa mengenai meningkatnya kehancuran ekonomi akibat dari penyakit pernafasan ini.

Saham Asia dan Eropa kebanyakan turun semalam. Indeks saham AS mengarah turun pada saat pembukaan perdagangan sesi New York dimulai. Keengganan terhadap resiko meningkat di pasar di antara para trader dan investor, pada hari pertama perdagangan dari minggu yang baru setelah liburan hari Presiden hari Senin yang lalu.

Pengaruhnya Terhadap Perekonomian Eropa & Matauang Eropa

Tahun-tahun belakangan ini, kekuatan yang menggerakkan ekonomi Jerman adalah ekspornya ke Cina. Merebaknya wabah virus corona yang semakin buruk, termasuk diperpanjangnya liburan tahun baru Imlek dan penutupan provinsi Hubei yang terus berlangsung sampai sekarang membebani sektor otomotif Jerman.

Ekonomi Jerman sedang dalam masalah, yang berarti juga Uni Eropa sedang dalam masalah. Negara ini tidak bisa bertumbuh di kuartal terakhir tahun 2019,

Jerman yang merupakan lokomotif zona euro, mengalami stagnasi di kuartal ke 4. Terlebih lagi ekonomi Jerman hanya bertumbuh sedikit, 0.4% sepanjang tahun 2019. Sementara GDP Uni Eropa hanya membukukan sedikit pertambahan 0.1%, tingkat pertumbuhan terendah sejak 2012, dibandingkan dengan Amerika Serikat yang bertumbuh lebih dari 2%.

Output industri Jerman melemah. Produksi Industri Jerman jatuh menjadi hanya 3.5% MoM pada bulan Desember dan 6.8% dibandingkan tahun lalu. Untuk Uni Eropa bahkan angkanya minus. – 2.1% dan – 4.1% berturut-turut.

Indeks sentimen ekonomi ZEW Jerman untuk bulan Februari, yang sangat diamati dengan cermat, jatuh tajam ke 8.7 dibandingkan dengan bulan Januari di 26.7.

Wabah virus corona menjadi penyebab utama terjadinya penurunan yang besar di bulan Februari ini.

Sebagai akibatnya, sejak awal bulan ini, matauang bersama Eropa terus berada dibawah tekanan.

Ekonomi Eropa yang bertolak belakang dengan ekonomi AS ini terus mendorong EUR/USD turun bahkan pada saat angka-angka makro ekonomi AS tidak bersinar.

Analisa Turunnya Euro

Penurunan dari EUR/USD bisa diidentifikasi dari 5 alasan dan kebanyakan berhubungan dengan terjadinya “divergence” antara ekonomi AS dengan ekonomi zona Euro.

  1. Virus Corona: Sementara wabah virus corona yang melatar belakangi dan menjadi penyebab utama kejatuhan dari matauang bersama Eropa terus membuat euro mengalami aksi jual yang masif, hal yang sebaliknya terjadi dengan dolar AS dimana “greenback: justru mendapatkan penawaran “safe-haven” dengan meningkatnya virus corona.
  2. Kejatuhan Manufaktur: Ekonomi zona Euro lebih digerakkan oleh manufaktur dan karenanya lebih rentan terhadap perlambatan yang terjadi di Cina dibandingkan dengan Amerika Serikat. Data zona Euro berbalik memburuk dengan produksi industri zona Euro tumbang dengan tajam. Para investor takut bahwa kejatuhan manufaktur Jerman akan berlangsung terus. Angka “output” industri dari negara dengan perekonomian terbesar di Eropa ini – dan juga Perancis dan keseluruhan zona Eropa – telah menunjuk kepada kejatuhan yang tajam pada bulan Desember dan sepanjang tahun 2019. Diperlukan waktu yang lebih lama bagi benua tua Eropa ini untuk bisa berdiri diatas kakinya sendiri. Sementara survey belakangan ini menunjukkan bahwa industri manufaktur AS dalam keadaan yang stabil.
  3. Lebih banyak stimulus moneter: European Central Bank (ECB) tidak mungkin keluar dari kebijakan akomodatifnya segera, khususnya jika kalkulasi dari inflasi sekarang tidak berubah. Menurut laporan, ECB akan bertahan untuk tidak memasukkan harga rumah di dalam formula penghitungan Consumer Price Index. Hal ini berarti keseluruhan CPI akan tetap rendah – menyebabkan ECB akan mempertahankan tingkat bunga rendah lebih lama. Pablo Hernandez de Cos, seorang anggota dari ECB, mengatakan bahwa kebijakan akan tetap sangat akomodatif untuk waktu yang lama. Intinya ECB akan mempertahankan kebutuhan akan tingkat bunga yang rendah dan kemungkinan akan mencoba memberikan lebih banyak stimulus. Tingkat bunga yang rendah membuat Euro menjadi matauang yang menarik untuk didanai. Sebaliknya the Fed nyaman dalam mempertahankan kebijakan moneternya stabil.
  4. Ketidak stabilan Politik Jerman: Di Jerman, koalisi yang memerintah tetap rentan setelah pengunduran diri Annegret Kramp Karrenbauer dari partai CDU nya Kanselir Angela Merkel yang memimpin. Kurangnya kepemimpinan politik di lokomotif ekonomi Eropa ini juga merupakan sebuah isu yang menekan euro. Sementara di Amerika Serikat, posisi Presiden AS Donald Trump terus menguat dengan probabilita akan memenangkan Pilpres ke dua kalinya terus menanjak.
  5. Kuatnya Ekonomi Amerika: Ekonomi Amerika tetap kuat dengan pertumbuhan pekerjaan meningkat dengan kecepatan yang memuaskan dan konsumsi terus bergulir. Sementara manufaktur belum mencapai apa yang diinginkan, survey belakangan ini menunjukkan bahwa industri stabil. Jerome Powell, Gubernur Federal Reserve telah menegaskan kembali kesediaan the Fed untuk bertindak dengan agresif dalam kondisi berbalik turun, namun kembali mengulangi bahwa saat sekarang ini dia tidak melihat ada alasan untuk mengakhiri ekspansi. Inflasi inti tahunan AS muncul lebih daripada yang diantisipasikan di 2.3% pada bulan Januari, sementara angka umum naik 2.5%. CPI Jerman, sebaliknya, hanya naik 1.7% sebagaimana yang diperkirakan dibandingkan dengan tahun lalu. Penjualan ritel AS bulan Januari sesuai dengan yang diperkirakan pasar di 0.3%. Sementara perkiraan pendahuluan dari Michigan Consumer Index bulan Februari dicetak di 100.9, jauh melampaui dari yang diperkirakan pasar di 99.5.

Karena data-data makro ekonomi yang akan keluar pada minggu-minggu yang akan datang kebanyakan masih akan menunjukkan “divergence” antara perekonomian zona Euro dengan perekonomian AS, maka penurunan Euro kemungkinan masih akan berlanjut.

Seberapa Jauh Euro Akan Turun?

Setiap orang ingin tahu seberapa jauh euro akan turun. Bukan saja euro sedang dalam tren turun dari sejak awal bulan Februari, namun juga sempat mengalami kehilangan nilainya 8 kali berturut-turut dari 9 hari perdagangan dan kenaikannya pada 1 hari itupun hanya meningkat sedikit saja.

Beberapa hari yang lalu, “Support” terdekat berada pada 1.0800. Namun, pada saat kolom ini dinaikkan “support” terdekat ini sudah sempat ditembus dengan EUR/USD diperdagangkan pas dibawah 1.0800, level terendah sejak tahun 2017, dimana tekanan turun yang terbaru adalah karena wabah virus corona sedang mempengaruhi secara ekonomi terhadap Apple dan yang lainnya.

Selain itu, tekanan turun yang terbaru datang dari Sentimen ekonomi  ZEW Jerman yang keluar kemarin malam dan yang meleset jauh dari yang diperkirakan, muncul di angka 8.7 dibandingkan dengan angka yang diperkirakan di 20.0.

Secara keseluruhan, berita-berita tentang virus corona tetap menonjol dan membebani pasar. “Bearish” tetap memegang kontrol dengan “support” terdekat berada pada 1.0770 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke 1.0720 dan kemudian 1.0700. Sedangkan “resistance” terdekat berada pada 1.0820 yang apabila berhasil ditembus akan lanjut ke 1.0860 dan kemudian 1.0890.

Ricky Ferlianto/VBN/Managing Partner  Vibiz Consulting

Editor: Asido

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here