Harga Bensin AS Akan Tetap Tinggi Lebih Lama, Meski Harga Minyak Turun

61
Harga Minyak

(Vibiznews-Kolom) Presiden Trump pada beberapa kesempatan berhasil menenangkan pasar minyak mentah meskipun perang Iran masih terus berkecamuk. Namun, ia tidak memiliki pengaruh yang sama terhadap harga bensin, yang pada akhirnya jauh lebih penting bagi konsumen.

Meskipun konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas, harga minyak mentah acuan AS masih bertahan di kisaran US$80 per barel. Angka tersebut sekitar 18% lebih tinggi dibandingkan sebelum perang Iran dimulai. Sebaliknya, harga bensin masih 32% lebih tinggi, mencapai US$3,94 per galon, menurut perusahaan data energi OPIS.

Apa yang dikenal sebagai gasoline crack spread, yaitu selisih antara harga bensin dan harga minyak mentah, rata-rata mencapai 90 sen per galon sepanjang bulan ini. Itu merupakan level tertinggi dalam empat tahun terakhir, berdasarkan data Novi Labs.

Mengapa harga bahan bakar jauh lebih tinggi? Salah satu alasannya adalah pasar bahan bakar tidak memiliki bantalan (buffer) seperti yang dimiliki pasar minyak mentah. Artinya, sekalipun nanti tercapai gencatan senjata baru yang memungkinkan aliran minyak kembali normal, harga bensin dan solar kemungkinan akan tetap tinggi untuk waktu yang lebih lama.

Pasar minyak mentah memperoleh “peredam guncangan” yang tidak terduga dari China, yang secara drastis memangkas impor minyaknya. Menurut laporan pasar minyak Juli dari International Energy Agency (IEA), China hanya mengimpor 5,7 juta barel per hari pada Juni, turun tajam dari sekitar 11 juta barel per hari sebelum perang Iran dimulai.

China tidak memberikan kelonggaran yang sama di pasar produk olahan minyak. Negara tersebut biasanya merupakan eksportir bersih bensin dan solar, tetapi sejak perang dimulai ekspornya berkurang secara signifikan, menurut Rob Smith, Global Head of Fuel Retail di S&P Global Energy. Produksi kilang China juga turun ke titik terendah dalam enam tahun pada Mei, sejalan dengan penurunan impor minyak mentahnya, menurut IEA.

Pasokan minyak mentah juga meningkat berkat pelepasan besar-besaran cadangan minyak strategis di berbagai negara. Anggota International Energy Agency, yang merupakan kelompok negara-negara konsumen minyak, melepaskan 2,4 juta barel per hari pada Mei dan 1,5 juta barel per hari pada Juni. Sebagian besar pelepasan tersebut berupa minyak mentah, bukan bahan bakar hasil olahan, menurut data IEA.

Seluruh minyak mentah tersebut tetap harus diproses menjadi bensin dan solar. Namun kapasitas pengilangan di dua kawasan eksportir bahan bakar terbesar—Timur Tengah dan Rusia—mengalami gangguan serius akibat konflik. Menurut IEA, kilang-kilang global mengolah 5,1 juta barel per hari lebih sedikit pada kuartal kedua dibandingkan periode yang sama pada 2025.

Jalur ekspor utama kilang di Timur Tengah juga terhambat akibat gangguan di Selat Hormuz, sementara beberapa fasilitas mengalami kerusakan akibat serangan Iran. Pada kuartal kedua, kilang di kawasan tersebut hanya mengolah 7,6 juta barel per hari, sekitar seperlima lebih rendah dibandingkan tahun 2025, menurut IEA.

Di Rusia, eksportir bahan bakar terbesar kedua di dunia, lebih dari seperempat kapasitas pengilangan lumpuh akibat serangan drone Ukraina. Negara yang biasanya memasok sekitar 11% perdagangan solar global melalui jalur laut itu bahkan memberlakukan larangan ekspor solar untuk sementara pada pekan lalu. Rusia juga mulai membeli bensin—komoditas yang biasanya tidak diimpornya—dari India dan Belarus.

Larangan ekspor solar dari Rusia berpotensi menimbulkan dampak lanjutan. Jika harga solar terus meningkat secara global, kilang-kilang di Amerika Serikat kemungkinan akan lebih terdorong meningkatkan produksi solar dan mengurangi produksi bensin, kecuali harga bensin ikut naik, menurut ekonom energi Philip Verleger.

Persediaan bensin global pada Juni tercatat sekitar 3% di bawah rata-rata lima tahun terakhir, dan kesenjangan tersebut diperkirakan melebar menjadi 4% bulan ini, menurut S&P Global. Di Amerika Serikat sendiri, persediaan bensin sekitar 8% lebih rendah dibandingkan rata-rata lima tahun untuk periode yang sama.

Meskipun persediaan bahan bakar terbatas, permintaan bensin dunia tetap bertahan karena berbagai kebijakan pemerintah untuk melindungi konsumen dari harga yang tinggi, menurut IEA. Secara keseluruhan, sebanyak 92 negara telah menerapkan berbagai bentuk dukungan kepada konsumen, mulai dari pemotongan pajak bahan bakar, subsidi, pembatasan harga (price cap), hingga berbagai skema bantuan lainnya, menurut Pew Research Center yang menganalisis data IEA.

Di Amerika Serikat, sebagian kenaikan harga bensin juga berasal dari kebijakan pemerintah. Pada Maret, pemerintahan Trump menaikkan kuota pencampuran bahan bakar nabati (biofuel) yang wajib dipenuhi kilang AS untuk tahun 2026 dan 2027 ke tingkat tertinggi dalam sejarah.

Karena sebagian besar bensin di AS sudah mengandung etanol sebesar 10%, yang merupakan batas standar maksimum, kilang tidak bisa begitu saja menambah porsi biofuel untuk memenuhi target baru tersebut, menurut Robert Auers, analis bahan bakar olahan dari Novi Labs. Sebagai gantinya, mereka harus membeli kredit kepatuhan (compliance credits), yang menjadi jauh lebih mahal setelah kewajiban pencampuran ditingkatkan. Novi Labs memperkirakan biaya kredit tersebut yang tercermin dalam harga bensin naik menjadi sekitar 14 sen per galon pada Juli, dibandingkan hanya 5 sen per galon pada tahun sebelumnya.

Kabar baik bagi para pengendara tampaknya belum akan datang dalam waktu dekat, bahkan jika Selat Hormuz kembali dibuka sepenuhnya. Salah satu penyebabnya adalah produksi minyak mentah yang sempat terhenti dapat dipulihkan dengan cepat, sementara menghidupkan kembali kapasitas kilang membutuhkan waktu yang jauh lebih lama, menurut Rob Smith dari S&P Global.

Selain itu, terdapat hambatan logistik. Minyak mentah umumnya diangkut menggunakan kapal tanker raksasa yang mampu membawa hingga 2 juta barel. Sebaliknya, kapal pengangkut bahan bakar biasanya hanya mampu mengangkut puluhan ribu barel. “Dibutuhkan waktu lebih lama agar pasokan bahan bakar keluar dari Timur Tengah karena diangkut menggunakan kapal yang jauh lebih kecil,” ujar Smith.

Trump sebenarnya dapat mengurangi sebagian tekanan terhadap harga bensin dengan menangguhkan kewajiban pencampuran etanol dan biodiesel atau bahkan menangguhkan pajak bahan bakar. Namun pada akhirnya, faktor yang paling menentukan harga bahan bakar tetaplah kondisi pasar global.

Masalah utamanya adalah Amerika Serikat tidak memiliki cadangan strategis bensin maupun solar dalam jumlah besar. Sayangnya, bagi para pengemudi maupun perekonomian AS secara keseluruhan, tidak ada jalan keluar yang mudah dari tingginya harga bahan bakar.

Konsep gasoline crack spread—yaitu selisih antara harga bensin dan harga minyak mentah yang mencerminkan margin pengolahan kilang—tidak menjadi indikator utama dalam pembentukan harga BBM di Indonesia. Berbeda dengan Amerika Serikat yang menerapkan mekanisme pasar sehingga kenaikan crack spread dapat langsung mendorong harga bensin di SPBU, harga BBM di Indonesia masih dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah, subsidi, kompensasi, serta penyesuaian harga yang dilakukan secara berkala. Akibatnya, perubahan margin kilang global tidak selalu segera tercermin pada harga BBM domestik.

Bagi Indonesia, faktor yang lebih menentukan dibandingkan gasoline crack spread adalah harga produk BBM di pasar regional Asia yang mengacu pada Mean of Platts Singapore (MOPS), nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, kapasitas kilang nasional, serta besaran subsidi dan kompensasi energi. Karena Indonesia masih mengimpor sebagian kebutuhan BBM, kenaikan harga bensin di pasar Asia atau pelemahan nilai tukar rupiah dapat mempertahankan harga BBM pada level tinggi, bahkan ketika harga minyak mentah dunia mulai menurun. Dengan demikian, dinamika harga bahan bakar di Indonesia lebih dipengaruhi oleh struktur pasar regional dan kebijakan domestik dibandingkan oleh margin pengilangan seperti yang terjadi di Amerika Serikat