(Vibiznews – Forex) Indeks dolar AS berakhir datar pada akhir pekan hari Jumat terpicu penurunan harga minyak.
Indeks dolar AS ditutup naik tipis 0,01% pada 101.46.
Indeks dolar melemah karena harga minyak turun sekitar -3% seiring pengiriman minyak terus berlanjut di Laut Merah meskipun ada ancaman dari Houthi.
Selain itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS jangka 10 tahun turun -1,8 basis poin setelah mencatatkan rekor tertinggi baru dalam 1,5 tahun sebelumnya.
Namun Dolar AS terus mendapatkan dukungan sebagai aset safe-haven karena pasar bersiap menghadapi kemungkinan perluasan serangan militer AS terhadap Iran, yang menurut Presiden Trump sedang dipertimbangkannya.
Permintaan sebagai safe-haven bagi dolar AS meningkat setelah kelompok Houthi yang didukung Iran pada hari Kamis melancarkan serangan rudal dan drone terhadap dua kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah, memperluas gangguan pasokan minyak di luar Selat Hormuz dan mengancam pengiriman minyak di Laut Merah.
Presiden Trump menanggapi dengan mengatakan bahwa ia akan meminta pertanggungjawaban Iran atas serangan Houthi dan mengatakan kepada Axios dalam sebuah wawancara pada hari Kamis bahwa ia sedang mempertimbangkan “serangan besar-besaran” yang akan “lebih besar dari sebelumnya” dan “hampir mengambil keputusan tentang hal itu.”
Kelompok Houthi telah bersumpah untuk memblokade pengiriman yang terkait dengan Arab Saudi dan memperingatkan pemilik kapal agar tidak singgah di pelabuhan negara tersebut. Langkah ini mengancam ekspor minyak Saudi dari Yanbu, pusat di Laut Merah yang digunakan Saudi untuk mengirimkan minyak mentah sejak perang menghentikan hampir seluruh pengiriman melalui Selat Hormuz.
Sementara itu, AS dan Iran saling melancarkan serangan selama 13 hari berturut-turut, dan AS mempertahankan blokade pengiriman minyak Iran di Teluk Persia.
Laporan PMI AS pada hari Jumat menunjukkan hasil yang beragam untuk dolar. PMI manufaktur S&P Juli sedikit turun -0,1 poin menjadi 53,8, lebih lemah dari ekspektasi kenaikan +0,5 poin menjadi 54,4. Namun, PMI jasa S&P Juli naik +2,4 poin menjadi 53,6, yang lebih kuat dari ekspektasi kenaikan +0,3 poin menjadi 51,5.
Penjualan rumah baru di AS pada Juni naik +1,6% m/m menjadi 628.000 dari angka revisi Mei sebesar 618.000 (perkiraan awal 580.000), yang lebih kuat dari ekspektasi sebesar 607.000. Namun, izin pembangunan pada Juni turun -2,6% menjadi 1,374 juta.
Pasar memperhitungkan probabilitas 38% kenaikan suku bunga +25 bp pada pertemuan FOMC berikutnya pada 28-29 Juli.
Pada akhir pekan, AS menangguhkan serangan terhadap Iran untuk malam kedua berturut-turut, meredakan kekhawatiran atas gangguan pasokan di Timur Tengah setelah konflik yang meningkat selama beberapa minggu.
Jeda tersebut dimulai pada Jumat malam tanpa pengumuman resmi apa pun, sementara Teheran mengatakan telah menghentikan operasi militer balasannya dan terlibat dalam pembicaraan dengan Oman mengenai Selat Hormuz.
Meredanya ketegangan militer AS-Iran di Timur Tengah dapat menurunkan harga minyak dan menurunkan permintaan safe haven dolar AS.
Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya, indeks dolar AS dapat bergerak turun terpicu meredanya harga minyak dengan pengiriman minyak terus berlanjut di Laut Merah meskipun ada ancaman dari Houthi. Penurunan harga minyak dapat memicu penurunan inflasi, yang menjadi faktoe bearish bagi dolar AS. Namun jika data Durable Goods Orders Juni yang diindikasikan meningkat, akan menguatkan dolar AS. Indeks dolar AS diperkirakan bergerak dalam kisaran Support 101,29-101,12. Namun jika naik, akan bergerak dalam kisaran Resistance 101,58-101,70.








