Harga Minyak Sawit Rabu Ditutup Rebound Terdukung Bargain Hunting

109
cpo

(Vibiznews – Commodity) – Harga minyak sawit mentah atau CPO acuan dunia berhasil mencetak pemulihan (rebound) pada perdagangan bursa komoditas Malaysia hari Rabu (29/7/2026), setelah sempat mengalami tekanan dalam dua sesi sebelumnya.

Kontrak acuan CPO untuk pengiriman bulan Oktober 2026 di Bursa Malaysia Derivatives Exchange ditutup menguat 0,62% ke level RM4.671 per metrik ton pada sore hari ini. Sebelumnya pada perdagangan sesi pagi, kontrak acuan ini sempat dibuka melemah ke posisi RM4.646 per ton sebagai imbas dari koreksi pasar minyak nabati global, sebelum akhirnya berhasil berbalik arah dan menguat.

Kekuatan serupa juga terlihat pada pasar fisik domestik. Harga penawaran tertinggi dalam tender PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) hari ini menunjukkan tren yang solid dengan kenaikan sebesar Rp111 menjadi Rp15.788 per kilogram. Kenaikan ini secara langsung mencerminkan masih kuatnya permintaan fisik di tingkat lokal.

Motor utama dari pemulihan harga CPO hari ini adalah maraknya aksi berburu harga murah (bargain hunting) yang dilakukan oleh pelaku pasar. Setelah komoditas ini mengakumulasi penurunan sebesar 1,67% dalam dua hari terakhir menyusul meredanya tensi geopolitik di Timur Tengah, para investor memanfaatkan momentum pelemahan harga tersebut untuk melakukan aksi beli massal.

Ketahanan harga CPO turut ditopang oleh kuatnya permintaan ekspor fisik luar negeri. Kekhawatiran pasar mereda setelah rilis data dari surveyor kargo mengonfirmasi bahwa laju ekspor produk minyak sawit Malaysia untuk periode 1 hingga 25 Juli melonjak cukup signifikan, yakni antara 8,1% hingga 15,9% dibandingkan bulan lalu. Tingginya serapan komoditas fisik dari negara importir utama, khususnya India, memberikan suntikan sentimen positif bagi pasar.

Di sisi lain, laju pergerakan CPO bergerak cukup moderat di tengah fluktuasi sentimen dari minyak nabati pesaing, terutama pergerakan harga minyak kedelai di bursa Chicago (CBOT) maupun bursa Dalian. Sementara itu dari perspektif kebijakan makro, prospek pasar jangka panjang sedang menyoroti langkah diplomasi pemerintah Indonesia yang tengah mengajukan pengecualian tarif baru kepada Amerika Serikat terkait investigasi ketenagakerjaan, guna memastikan kelancaran arus ekspor minyak sawit ke depan.