Rekomendasi Harga Gula 29 Juli 2026 : Tertekan Proyeksi Peningkatan Pasokan India dan Brasil

99

(Vibiznews – Commodity) Harga gula di pasar komoditas berjangka internasional terpantau melemah pada perdagangan hari Rabu, memperpanjang tren penurunan harian dan terpuruk di level terendah barunya akibat tekanan sentimen pasokan dan anjloknya pasar energi.

Kontrak acuan gula mentah berjangka di bursa New York ditutup turun 0,21% menjadi 14,55 sen per pon, mengakumulasi pelemahan hingga 12,30% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu. Sementara itu, harga gula kristal putih berjangka di bursa London ikut melemah ke posisi 456,80 dolar AS per metrik ton, terkoreksi sekitar 1,60 dolar AS per ton dari sesi sebelumnya.

Penurunan tajam harga minyak mentah global, di mana minyak WTI sempat jatuh lebih dari 6 hingga 7 persen, menjadi pemicu utama aksi jual pada pasar gula. Pelemahan harga energi ini memangkas nilai keekonomian bahan bakar etanol. Kondisi tersebut secara langsung mendorong pabrik pengolahan tebu dunia, terutama di Brasil, untuk memangkas produksi etanol dan mengalihkan lebih banyak tebu untuk diproduksi menjadi gula kristal. Hal ini memicu kekhawatiran akan terjadinya banjir pasokan di pasar global.

Selain itu, prospek pasokan gula kian melimpah menyusul laporan pemulihan curah hujan monsun di India. Badan Meteorologi India melaporkan akumulasi curah hujan naik drastis dari yang sebelumnya 42% di bawah normal menjadi hanya 16% di bawah normal per akhir Juli. Laporan ini memicu optimisme pasar bahwa hasil produksi gula dari India, sebagai salah satu negara produsen terbesar dunia, akan meningkat dan aman dari ancaman gagal panen.

Di tengah pelemahan harga global, dinamika yang cukup kontras terjadi di pasar domestik Indonesia. Di pasar modal, saham emiten produsen tebu dan gula dalam negeri seperti PT Aman Agrindo Tbk (GULA) justru ditutup menguat 3,89% ke level Rp800 per saham, ditopang oleh sentimen internal terkait ekspansi pabrik baru.

Sementara itu di tingkat konsumen, harga eceran gula pasir lokal masih merangkak naik moderat di kisaran Rp18.450 hingga Rp18.640 per kg mengingat masih adanya ketergantungan pada stok impor untuk cadangan pangan nasional. Sentimen industri gula dalam negeri saat ini juga tengah dipengaruhi oleh kebijakan ketat restrukturisasi, di mana pabrik gula rafinasi kini diwajibkan memiliki kebun tebu mandiri minimal sebesar 20%.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya harga gula mentah berpotensi terus bergerak dalam tekanan turun, dibayangi oleh melimpahnya proyeksi pasokan dari India dan Brasil serta anjloknya harga energi. Harga gula mentah diperkirakan bergerak menguji kisaran Support 14,35-14,15. Namun jika terjadi pantulan teknikal naik akibat aksi ambil untung, pergerakan akan mengarah pada kisaran Resistance 14,75-14,95.