(Vibiznews – Commodity) Harga kopi arabika di bursa komoditi berjangka New York berakhir melonjak tajam pada perdagangan sore hari Rabu (29 Juli 2026), menghentikan volatilitas penurunan minggu lalu akibat memburuknya kekhawatiran atas gangguan cuaca ekstrem dan menipisnya cadangan pasokan di bursa.
Harga kopi arabika berjangka kontrak acuan September 2026 ditutup melesat 4,58% atau naik 14,85 sen ke level 339,40 sen dolar AS per pon. Kenaikan signifikan ini berhasil mendorong harga menembus area tertinggi baru dalam dua pekan terakhir. Selama sesi perdagangan, harga komoditas ini bergerak fluktuatif dengan rentang harian yang melebar antara 377,75 hingga 395,10 untuk jenis turunan kopi arabika 4/5.
Tren positif ini juga mengekor pada pasar kopi robusta di bursa ICE London, di mana kontrak berjangkanya ditutup menguat 2,05% atau naik sebesar 78 dolar AS ke posisi 3.882 dolar AS per metrik ton.
Kenaikan harga di pasar internasional secara langsung mendongkrak nilai jual biji mentah lokal di pasar fisik domestik Indonesia. Harga grosir campuran komersial (house blend arabika dan robusta) di tingkat distributor dan platform e-commerce bahan baku dilaporkan merangkak naik ke kisaran Rp176.000 per kilogram.
Pemicu utama dari lonjakan harga hari ini berasal dari laporan lembaga Somar Meteorologia yang mencatatkan adanya curah hujan ekstrem sebesar 32,4 mm di wilayah Minas Gerais, daerah produsen kopi terbesar di Brasil. Angka curah hujan ini setara dengan 2.700% di atas rata-rata historis mingguannya. Kondisi tersebut secara masif memaksa penghentian aktivitas panen raya, berpotensi merusak kualitas biji kopi, dan memicu ketakutan pelaku pasar terhadap pengetatan pasokan dalam jangka pendek.
Kepanikan pasar yang memicu aksi beli oleh para pelaku industri (roasters) kian diperparah oleh anjloknya cadangan kopi arabika bersertifikat di gudang pemantauan ICE. Stok resmi dilaporkan merosot ke level 292.810 kantong, yang merupakan rekor terendah dalam dua setengah tahun terakhir. Angka ini jatuh sangat jauh di bawah posisi stok pada periode yang sama tahun lalu yang sempat menyentuh 800.326 kantong.
Di sisi fundamental cuaca jangka panjang, pasar saat ini dihadapkan pada ancaman kembalinya fenomena El Nino. Meskipun Departemen Pertanian AS (USDA) baru-baru ini memproyeksikan adanya surplus produksi global untuk musim 2026/2027, pelaku pasar cenderung mengabaikan sentimen pelemahan tersebut dan lebih menyoroti laporan dari US Climate Prediction Center. Dinamika siklus El Nino yang kuat diprediksi akan menunda musim hujan yang krusial bagi pembungaan pohon kopi pada periode September hingga Oktober mendatang, sehingga mengancam produktivitas panen jangka panjang di kawasan Asia dan Amerika Selatan.
Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya, harga kopi arabika dapat melanjutkan momentum penguatannya merespons kekhawatiran yang masih berlanjut terkait cuaca ekstrem di Brasil serta kritisnya stok ketersediaan di gudang bursa. Harga kopi arabika diperkirakan bergerak dalam kisaran Support $3.35-$3.30. Namun jika terus melanjutkan tren kenaikannya, harga akan bergerak dalam kisaran Resistance $3.45-$3.50.








