Rekomendasi Harga Kakao 29 Juli 2026 : Naik Terpicu Aksi Short Covering

88

(Vibiznews – Commodity) Harga kakao di bursa komoditi berjangka global ditutup menguat tajam pada perdagangan hari Rabu, berhasil pulih dari level terendah tiga minggunya yang terjadi pada sesi sebelumnya.

Kontrak acuan kakao berjangka ICE Futures New York ditutup naik 1,98% atau bertambah 101 dolar AS ke level 5.201 dolar AS per metrik ton. Sepanjang sesi perdagangan, harga komoditas ini bergerak fluktuatif dalam rentang harian di kisaran 4.995,50 hingga 5.230,00 dolar AS per metrik ton. Penguatan serupa juga terjadi pada London Cocoa Futures (ICE Europe) yang turut terangkat naik sebesar 69 poundsterling atau 1,80%.

Pemulihan harga kakao pada pertengahan pekan ini utamanya didorong oleh faktor teknikal, yakni aksi pembelian kembali atau short-covering dari para spekulan. Setelah harga merosot tajam dalam dua minggu terakhir dari puncaknya di 6.455 dolar AS pada awal Juli dan menyentuh level jenuh jual (oversold), para manajer dana investasi (hedge funds) memanfaatkan momentum pelemahan Indeks Dolar AS untuk melakukan aksi beli massal. Langkah penutupan posisi jangka pendek ini pada akhirnya memicu pembalikan arah harga ke zona hijau.

Meskipun mengalami rebound teknikal yang kuat, laju kenaikan harga lebih lanjut terpantau masih tertahan oleh sentimen tekanan jangka panjang dari melimpahnya data pasokan fisik. Laporan pengiriman terbaru menunjukkan bahwa petani di Pantai Gading telah mengirimkan 2,11 juta metrik ton kakao ke pelabuhan, melonjak 21% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Selain itu, ekspor kakao dari Nigeria juga dilaporkan melonjak tajam hingga 30% secara tahunan. Derasnya pasokan fisik dari wilayah Afrika Barat ini secara langsung mendongkrak persediaan di gudang resmi ICE hingga menyentuh level tertinggi dalam dua tahun terakhir.

Dari sisi permintaan, pasar komoditas saat ini bersikap lebih netral dan cenderung berhati-hati dalam merespons sinyal pelemahan konsumsi cokelat global. Tingginya harga bahan baku kakao sepanjang tahun ini disinyalir mulai membebani tingkat konsumsi, di mana produsen cokelat raksasa dunia seperti Lindt memberikan indikasi akan menerapkan kebijakan potongan harga secara selektif pada paruh kedua tahun 2026 demi mendongkrak kembali volume penjualan mereka yang mulai melambat. Sentimen kehati-hatian pasar ini juga sejalan dengan langkah lembaga keuangan Citigroup yang kini telah mengubah pandangannya menjadi netral terhadap prospek komoditas ini.

Sementara itu dari dalam negeri, penguatan pasar global turut memperkuat tren kenaikan domestik. Kementerian Perdagangan Republik Indonesia telah menetapkan Harga Patokan Ekspor (HPE) biji kakao naik menjadi 3.646 dolar AS per metrik ton, merespons dinamika harga internasional dan ketatnya pasokan fisik di tingkat regional.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya, harga kakao berpotensi bergerak konsolidasi dengan kecenderungan menguat secara teknikal jika momentum pelemahan dolar AS dan aksi short-covering terus berlanjut. Harga kakao diperkirakan bergerak dalam kisaran Support 4.995-4.900 dolar AS. Namun jika kembali tertekan oleh sentimen melimpahnya pasokan fisik, pergerakan harga akan menguji kisaran Resistance 5.230-5.315 dolar AS.