Harga Minyak Rabu Naik; Harapan Kesepakatan Pembukaan Selat Hormuz Memudar

57

(Vibiznews – Commodity) – Harga minyak mentah dunia pada perdagangan hari ini, Rabu (12/8/2026), terpantau kompak menguat signifikan, dengan Brent kokoh di atas kisaran 89 dolar AS per barel dan West Texas Intermediate (WTI) yang bergerak menuju level 84 dolar AS per barel. Penguatan hari ini memperpanjang tren positif pasar energi global, di mana minyak Brent bahkan telah mencatatkan reli kenaikan selama enam sesi perdagangan berturut-turut.

Berdasarkan data perdagangan pasar spot komoditas terbaru hari ini, kontrak berjangka minyak mentah acuan global jenis Brent menguat 0,81 persen ke level 89,63 dolar AS per barel. Kontrak acuan internasional ini sempat berfluktuasi hingga menyentuh batas atas intraday di level 89,76 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak acuan Amerika Serikat jenis West Texas Intermediate (WTI) menguat 0,85 persen ke level 83,91 dolar AS per barel. Kontrak pengiriman September ini bergerak stabil dalam rentang perdagangan harian 83,38 hingga 84,34 dolar AS per barel.

Penguatan harga minyak hari ini didorong oleh kembali memudarnya harapan pasar terhadap kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Pihak Teheran menegaskan bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup hingga Washington bersedia membayar kompensasi perang dan memenuhi sejumlah persyaratan yang mereka ajukan. Sikap keras ini langsung direspons oleh Presiden AS Donald Trump yang mengklaim Amerika Serikat memegang kendali total atas jalur maritim kritis tersebut, sebuah pernyataan yang justru memicu kekhawatiran baru di pasar terhadap potensi gangguan pasokan dalam jangka panjang.

Eskalasi konflik semakin nyata terlihat setelah munculnya laporan mengenai serangan terpisah terhadap sejumlah kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb, yang melibatkan pasukan Amerika Serikat maupun kelompok Houthi. Kedua jalur pelayaran strategis tersebut secara kumulatif mengalirkan sekitar 20 persen dari total kebutuhan minyak mentah seaborne dunia, sehingga setiap gangguan keamanan di kedua titik tersebut senantiasa direspons cepat oleh pelaku pasar melalui aksi beli.

Meski demikian, penguatan harga sedikit tertahan dari level puncak bulanannya setelah data industri dari American Petroleum Institute (API) menunjukkan cadangan minyak mentah Amerika Serikat justru melonjak tajam sebesar 9,1 juta barel pada pekan lalu. Angka penambahan stok yang jauh di atas estimasi pasar tersebut berhasil meredakan sebagian kecemasan terhadap ketatnya pasokan fisik domestik AS, sehingga membatasi ruang penguatan lebih lanjut meski sentimen geopolitik masih sangat mendominasi arah pasar.

Analisa Teknikal

Secara teknikal, minyak mentah WTI yang bergerak pada rentang harian 83,38 hingga 84,34 dolar AS per barel menempatkan pivot point harian di kisaran 83,91 dolar AS per barel, sejalan dengan level penutupan hari ini. Selama harga mampu bertahan di atas pivot point tersebut, momentum bullish berpeluang berlanjut menuju resistance 1 di kisaran 84,60 dolar AS per barel, dengan target lanjutan di resistance 2 pada area 85,50 dolar AS per barel apabila tekanan geopolitik di Selat Hormuz kembali meningkat. Sebaliknya, apabila muncul aksi ambil untung menyusul data cadangan AS yang melonjak, support 1 berada di kisaran 83,20 dolar AS per barel sebagai bantalan jangka pendek, dengan support 2 di area 82,30 dolar AS per barel sebagai lapisan pertahanan berikutnya.

Untuk minyak mentah Brent, dengan pergerakan intraday yang menyentuh level tertinggi 89,76 dolar AS per barel, pivot point harian berada di sekitar level 89,63 dolar AS per barel. Penembusan resistance 1 di kisaran 90,20 dolar AS per barel berpotensi membuka jalan menuju resistance 2 di area level psikologis 91,50 dolar AS per barel, yang akan menjadi ujian penting bagi kelanjutan reli enam hari beruntun ini. Sementara itu, support 1 berada di kisaran 88,80 dolar AS per barel, dengan support 2 di area 87,90 dolar AS per barel sebagai batas pertahanan apabila muncul sinyal pelonggaran ketegangan dari Teheran maupun Washington.

Secara keseluruhan, arah pergerakan harga minyak dalam beberapa hari ke depan akan sangat bergantung pada perkembangan lanjutan sikap Iran terkait status Selat Hormuz, intensitas insiden keamanan di jalur pelayaran Bab el-Mandeb, serta rilis data resmi cadangan minyak mentah AS dari Energy Information Administration (EIA) yang akan menjadi konfirmasi lebih lanjut atas tren pasokan domestik Amerika Serikat pekan ini.