Harga Kakao Rabu Naik Terpicu Proyeksi Penurunan Produksi

55
kakao, cocoa

(Vibiznews – Commodity) Harga kakao di bursa komoditi berjangka New York bergerak menguat pada perdagangan hari Rabu, 12 Agustus 2026, melanjutkan tren pemulihan dari level psikologis terendahnya beberapa hari terakhir, didorong oleh kembali munculnya kekhawatiran atas prospek pasokan masa depan dari kawasan Afrika Barat.

Kontrak kakao acuan dunia di ICE New York terpantau menguat sekitar 1,70 persen menuju level 5.749,90 dolar AS per metrik ton. Posisi harga saat ini masih berada dalam fase konsolidasi setelah sempat berfluktuasi tajam menembus batas atas intraday di kisaran 5.895 hingga 6.033 dolar AS per metrik ton pada sesi perdagangan awal pekan.

Faktor utama yang mendasari kembalinya aksi beli di pasar kakao adalah ancaman defisit struktural jangka panjang. Lembaga analisis komoditas StoneX memangkas proyeksi surplus kakao global untuk musim 2026/2027 secara drastis dari 149.000 ton menjadi hanya 25.000 ton, sebuah angka yang dinilai terlalu tipis untuk mengamankan kebutuhan industri pengolahan cokelat dunia. Kekhawatiran ini turut diperkuat oleh proyeksi badan regulator kakao Ghana, COCOBOD, yang memperkirakan penurunan produksi setidaknya 16 persen akibat kombinasi cuaca ekstrem, perkebunan yang menua, penyakit tanaman, serta maraknya penambangan emas ilegal. Pantai Gading, sebagai produsen kakao terbesar dunia, bahkan dilaporkan menghentikan sementara penjualan kontrak masa depan menyusul potensi penyusutan panen hingga 10 persen.

Sentimen bullish pasar juga tertopang oleh kecemasan pelaku pasar terhadap dampak lanjutan fenomena El Nino yang berpotensi bertahan hingga tahun 2027, sehingga memunculkan risiko terjadinya penurunan hasil produksi selama dua musim berturut-turut. Meski demikian, laju penguatan harga sedikit dibatasi oleh volatilitas teknis, di mana sebagian dana lindung nilai melakukan aksi likuidasi posisi setelah harga sempat memasuki area jenuh beli di atas level 6.000 dolar AS pada awal pekan ini.

Sementara itu dari pasar domestik Indonesia, dinamika harga internasional yang masih tinggi turut direspons oleh Kementerian Perdagangan Republik Indonesia dengan menetapkan Harga Referensi biji kakao periode Agustus 2026 melonjak 36,66 persen menjadi 5.424,96 dolar AS per metrik ton, disertai Harga Patokan Ekspor sebesar 5.064 dolar AS per metrik ton. Ketentuan ini turut mengenakan tarif Bea Keluar sebesar 7,5 persen yang berlaku sepanjang periode 1 hingga 31 Agustus 2026. Adapun di tingkat sentra produksi dalam negeri seperti Aceh Tenggara, harga kakao kering di level petani dilaporkan bergerak stabil cenderung mengalami penyesuaian minor di kisaran 85.000 hingga 87.000 rupiah per kilogram, mengikuti dinamika pasar pengepul regional di Medan.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan pergerakan harga kakao pada perdagangan berikutnya masih berpotensi melanjutkan tren penguatan di tengah kekhawatiran defisit pasokan jangka panjang dan risiko lanjutan fenomena El Nino. Apabila momentum beli kembali menguat, harga kakao berpotensi menguji kisaran resistance di 5.895 hingga 6.033 dolar AS per metrik ton. Namun, apabila aksi ambil untung kembali mendominasi pasar, harga berpotensi terkoreksi menguji kisaran support di 5.700 hingga 5.600 dolar AS per metrik ton.