(Vibiznews-Kolom) Investment competitiveness scoreboard menawarkan cara berbeda untuk melihat daya saing suatu negara. Alih-alih hanya menilai kualitas regulasi, produktivitas, infrastruktur, atau kemudahan berusaha secara terpisah, pendekatan ini melihat ke mana modal produktif benar-benar mengalir. Logikanya sederhana: perusahaan cenderung menanamkan modal ketika mereka melihat peluang untuk menghasilkan keuntungan dengan risiko yang dapat diterima. Karena itu, investasi produktif dapat menjadi indikator nyata mengenai seberapa kompetitif suatu perekonomian saat ini sekaligus seberapa kuat kapasitas produksinya di masa depan.
Investment competitiveness scoreboard dalam kajian McKinsey Global Institute membandingkan beberapa dimensi utama, yaitu intensitas investasi, alokasi investasi, serta daya tarik investasi. Indikatornya mencakup investasi produktif bruto dan neto terhadap PDB, stok modal produktif, stok modal per pekerja, tingkat pengembalian ekonomi atas modal produktif, porsi investasi pada kekayaan intelektual, porsi investasi pada mesin dan peralatan, economic profit spread, serta pengumuman investasi greenfield foreign direct investment per pekerja.
Investasi sebagai cermin daya saing
Daya saing sering kali menjadi konsep yang luas dan sulit diukur secara langsung. Banyak faktor dapat memengaruhinya, mulai dari produktivitas, kualitas tenaga kerja, infrastruktur, kebijakan, hingga kondisi pembiayaan. Pendekatan berbasis investasi mempersempit persoalan tersebut dengan melihat keputusan aktual pelaku ekonomi.
Investasi produktif menunjukkan seberapa besar modal yang tersedia untuk meningkatkan kapasitas produksi. Investasi bruto menggambarkan besarnya modal yang dialirkan ke suatu perekonomian atau industri dan dapat menjadi indikator daya saing saat ini. Sementara itu, investasi neto lebih berkaitan dengan kapasitas produktif yang benar-benar bertambah setelah memperhitungkan modal lama yang aus atau harus diganti. Karena itu, investasi neto memberikan petunjuk mengenai arah daya saing di masa depan.
Perbedaan ini penting. Negara dapat memiliki angka investasi bruto yang besar, tetapi sebagian besar investasi tersebut mungkin hanya digunakan untuk mengganti infrastruktur, mesin, atau aset lama. Dalam kondisi demikian, kemampuan ekonomi untuk menambah kapasitas produktif baru sebenarnya jauh lebih kecil daripada yang terlihat dari angka investasi bruto.
Amerika Serikat memberikan ilustrasi yang jelas. Pada 2024, total investasi bruto mencapai sekitar US$6,3 triliun. Setelah investasi perumahan dikeluarkan, investasi produktif bruto sekitar US$5,1 triliun. Namun sekitar US$4 triliun digunakan untuk mengganti modal produktif yang sudah aus atau usang sehingga investasi produktif netonya hanya sekitar US$1 triliun.
Tiga posisi besar dalam peta investasi global
Scoreboard tersebut memperlihatkan perbedaan mencolok antara China, Amerika Serikat, dan Uni Eropa. China merupakan investor terbesar. Pada 2024, investasi produktif bruto China mencapai sekitar US$5,9 triliun, dibandingkan US$5,1 triliun di Amerika Serikat dan US$3,1 triliun di Uni Eropa. Jika disesuaikan dengan perbedaan tingkat harga menggunakan purchasing power parity, investasi produktif bruto China setara dengan sekitar US$11,9 triliun.
Perbedaannya semakin besar ketika yang dilihat adalah investasi neto. China mencatat investasi produktif neto sekitar 23,1 persen dari PDB, sementara Amerika Serikat sekitar 4 persen dan Uni Eropa sekitar 2 persen. China dengan demikian menambah kapasitas produktif jauh lebih cepat daripada dua kawasan maju tersebut.
Namun tingginya investasi China tidak berarti seluruh modal tersebut menghasilkan tingkat pengembalian yang tinggi. China memiliki stok modal produktif sekitar 1,7 kali ukuran ekonominya dibandingkan Uni Eropa atau Amerika Serikat. Akumulasi modal yang sangat besar tersebut membuat pengembalian ekonomi atas stok modal produktif China sekitar 40 persen lebih rendah. Dengan kata lain, keunggulan China terletak pada skala dan kecepatan akumulasi modal, tetapi tantangannya adalah memastikan modal tersebut menghasilkan produktivitas dan keuntungan yang memadai.
Scoreboard menunjukkan kualitas investasi, bukan sekadar volumenya
Jumlah investasi saja tidak cukup untuk menentukan daya saing. Komposisi investasi juga sangat penting.
Investasi pada mesin, peralatan, perangkat lunak, penelitian dan pengembangan, serta kekayaan intelektual dapat meningkatkan produktivitas dengan cara yang berbeda dari pembangunan aset fisik. Amerika Serikat, misalnya, mengalami pergeseran investasi ke aset tidak berwujud seperti perangkat lunak dan R&D. Pergeseran tersebut berhubungan dengan munculnya sumber pertumbuhan baru berbasis teknologi.
Dalam scoreboard, investasi pada intellectual property products menjadi salah satu indikator penting. Pada 2024, porsinya mencapai sekitar 39 persen dari investasi produktif bruto Amerika Serikat, dibandingkan 26 persen di Uni Eropa dan 13 persen di China. Sebaliknya, China memiliki porsi investasi yang sangat besar pada mesin dan peralatan, yang mencapai sekitar 46 persen, dibandingkan 40 persen di Uni Eropa dan 33 persen di Amerika Serikat.
Perbedaan tersebut menggambarkan strategi pembangunan yang berbeda. China sangat agresif membangun kapasitas manufaktur dan aset fisik, sementara Amerika Serikat semakin kuat pada aset berbasis pengetahuan dan teknologi. Uni Eropa berada di antara keduanya, tetapi menghadapi persoalan investasi yang lebih rendah dibandingkan kebutuhan untuk mempertahankan posisi industrinya.
China unggul dalam skala manufaktur
Kekuatan China terlihat semakin jelas ketika investasi dianalisis berdasarkan sektor. China menyumbang lebih dari seperempat investasi produktif global, sementara kontribusinya terhadap global gross value added berada sedikit di bawah seperlima. Artinya, proporsi investasi China lebih besar daripada proporsi output ekonominya.
Dalam elektronika, China menarik sekitar 53 persen investasi global pada 2024. Pada sektor manufaktur dasar, porsinya sekitar 41 persen. China juga menjadi investor terbesar dalam berbagai sektor manufaktur, termasuk mesin, elektronika, manufaktur dasar, farmasi, otomotif, dan bahan kimia.
Pola ini penting karena investasi biasanya mendahului perubahan produksi. Negara yang secara konsisten memiliki porsi investasi lebih besar daripada pangsa produksinya cenderung meningkatkan pangsa produksinya pada masa mendatang. Karena itu, pola investasi China memberikan indikasi bahwa keunggulannya di sejumlah sektor manufaktur kemungkinan masih akan berlanjut.
Amerika Serikat mengubah arah investasi
Amerika Serikat memperlihatkan pola yang berbeda. Tingkat investasi netonya relatif stabil setelah krisis keuangan global 2008, tetapi komposisinya mengalami perubahan besar. Investasi semakin diarahkan ke perangkat lunak, R&D, teknologi informasi, dan terutama ekosistem kecerdasan buatan.
Ledakan pembangunan pusat data menjadi contoh paling jelas. Tujuh perusahaan yang terkait dengan AI meningkatkan gabungan belanja modal dan investasi R&D mereka dari sekitar US$15 miliar pada 2005 menjadi hampir US$750 miliar pada 2025. Pada akhir 2026, total investasi kelompok perusahaan tersebut berpotensi mendekati US$1 triliun.
Namun peningkatan investasi teknologi belum otomatis menghasilkan kebangkitan investasi secara menyeluruh. Investasi struktur pusat data di Amerika Serikat meningkat sekitar 200 persen dalam tiga tahun setelah peluncuran ChatGPT, sedangkan investasi teknologi secara lebih luas meningkat sekitar 50 persen. Akan tetapi, investasi produktif total sebagai persentase PDB tetap relatif datar karena investasi di luar teknologi, perangkat lunak, dan R&D justru mengalami pelemahan relatif terhadap ukuran ekonomi.
Eropa menghadapi persoalan yang berbeda
Persoalan Eropa bukan semata-mata kurangnya investasi pada satu sektor tertentu, melainkan lemahnya investasi produktif secara lebih luas. Tingkat investasi produktif neto Uni Eropa turun dari sedikit di bawah 4 persen PDB sebelum krisis 2008 menjadi sedikit di atas 2 persen pada 2024.
Jerman bahkan mengalami penurunan yang lebih tajam. Investasi produktif netonya turun dari sekitar 2 persen PDB sebelum krisis ke hanya sekitar 0,2 persen pada 2024. Pertumbuhan stok modal yang tersedia bagi setiap pekerja hampir berhenti, sehingga kemampuan ekonomi untuk meningkatkan produktivitas juga ikut tertekan.
Konsekuensinya terlihat pada posisi industri. Eropa memiliki investasi yang relatif rendah dibandingkan pangsa produksinya dalam sejumlah sektor yang secara historis menjadi kekuatannya, termasuk otomotif, farmasi, dan mesin. Ini menciptakan risiko bahwa posisi produksi yang saat ini masih kuat tidak otomatis bertahan pada masa depan.
Daya tarik investasi ditentukan oleh keuntungan dan risiko
Dimensi lain dalam scoreboard adalah investment attractiveness. Salah satu indikatornya adalah economic profit spread, yaitu selisih antara return on invested capital dan weighted average cost of capital. Semakin besar spread positif, semakin besar ruang bagi perusahaan untuk menciptakan nilai ekonomi dari modal yang mereka tanamkan.
Dalam scoreboard 2024, China memiliki economic profit spread sekitar 2,3 poin persentase, Uni Eropa 4,0 poin persentase, sementara Amerika Serikat mencapai 6,3 poin persentase jika Magnificent 7 dikeluarkan. Angka tersebut menunjukkan bahwa volume investasi yang tinggi tidak selalu identik dengan tingkat penciptaan nilai yang tinggi.
Daya tarik investasi juga tercermin dari greenfield FDI announcements per pekerja. Indikator ini memberikan perspektif berbeda karena menunjukkan seberapa besar investasi baru dari perusahaan yang masuk ke suatu negara dibandingkan dengan jumlah tenaga kerjanya. Dalam scoreboard, angka tersebut menunjukkan perbedaan daya tarik investasi internasional yang sangat besar antarkawasan.
Biaya menjadi penentu utama
Mengapa perusahaan memilih satu negara dibandingkan negara lain? Jawabannya sangat bergantung pada apakah business case suatu proyek dapat menghasilkan keuntungan yang memadai.
Kajian tersebut menggunakan pendekatan levelized cost untuk membandingkan daya saing investasi. Konsep ini menghitung seluruh biaya selama siklus hidup proyek, termasuk belanja modal, biaya operasi, tenaga kerja, material, energi, pembiayaan, dan tingkat pengembalian yang dibutuhkan investor. Dengan cara tersebut, proyek di berbagai negara dapat dibandingkan berdasarkan biaya unit yang diperlukan agar nilai sekarang bersih proyek berada pada titik layak.
Analisis terhadap sepuluh kasus investasi menunjukkan bahwa faktor penentu dapat berbeda menurut industri. Untuk beberapa proyek, biaya pembangunan dan peralatan sangat dominan. Pada industri lain, tenaga kerja menjadi faktor utama. Energi, material, pembiayaan, serta kecepatan membawa proyek ke pasar juga dapat menjadi pembeda penting.
Karena itu, sebuah negara tidak cukup hanya menawarkan insentif pajak atau subsidi. Jika biaya tenaga kerja terlalu tinggi tanpa produktivitas yang sepadan, energi mahal, proses perizinan lambat, atau biaya modal tinggi, insentif tersebut belum tentu mampu membuat proyek kompetitif.
Kecepatan semakin penting dalam ekonomi baru
Dalam industri yang bergerak cepat, daya saing tidak hanya ditentukan oleh biaya. Kecepatan juga menjadi aset ekonomi.
Data center, R&D otomotif, dan R&D bioteknologi merupakan contoh industri yang sangat bergantung pada kemampuan perusahaan untuk bergerak cepat. Investasi pada sektor tersebut membutuhkan akses terhadap talenta, investor, infrastruktur, mitra bisnis, dan ekosistem inovasi. Karena itu, industri semacam ini cenderung terkonsentrasi pada wilayah yang mampu menyediakan berbagai elemen tersebut secara bersamaan.
Hal ini mengubah cara memahami daya saing. Negara dengan tenaga kerja murah belum tentu memenangkan investasi teknologi tinggi. Untuk industri yang berorientasi inovasi, kemampuan mempercepat perizinan, membangun infrastruktur, merekrut talenta, memperoleh pendanaan, dan melakukan scaling dapat lebih menentukan daripada sekadar biaya tenaga kerja.
Investment competitiveness sebagai indikator masa depan
Keunggulan utama investment competitiveness scoreboard adalah sifatnya yang forward-looking. Data perdagangan biasanya menunjukkan apa yang sudah diproduksi dan dijual oleh sebuah negara. Data investasi menunjukkan apa yang sedang dibangun untuk diproduksi di masa depan.
Jika suatu negara memiliki investasi yang jauh lebih tinggi daripada pangsa produksinya dalam suatu sektor, hal tersebut dapat menjadi sinyal bahwa kapasitas produksinya sedang berkembang. Sebaliknya, jika investasi terus berada di bawah pangsa produksinya, negara tersebut menghadapi risiko kehilangan posisi industrinya secara bertahap.
Dengan demikian, scoreboard bukan sekadar alat untuk menentukan siapa yang paling kompetitif hari ini. Ia juga membantu menjawab pertanyaan yang lebih strategis siapa yang sedang membangun kapasitas ekonomi untuk memenangkan persaingan besok?
Pelajaran bagi negara yang ingin menarik investasi
Pelajaran terpenting dari scoreboard adalah bahwa investasi tidak dapat dipaksa hanya dengan kebijakan promosi. Investor pada akhirnya harus menemukan alasan ekonomi untuk menanamkan modal.
Pemerintah dapat memperbaiki daya saing dengan menurunkan biaya yang berada dalam kendalinya, memperbaiki infrastruktur, mempercepat perizinan, meningkatkan produktivitas tenaga kerja, menyediakan energi yang kompetitif, memperkuat ekosistem inovasi, serta memastikan kepastian regulasi. Kebijakan industri juga dapat membantu membangun sektor strategis, tetapi kebijakan tersebut tidak dapat menggantikan kebutuhan akan business case yang sehat.
Pendekatan ini juga menunjukkan bahwa setiap negara tidak harus memenangkan semua industri. Negara dengan biaya tinggi dapat memilih sektor yang lebih tidak sensitif terhadap biaya, sementara negara dengan keunggulan tertentu dapat memperdalam spesialisasinya. Dalam ekonomi global yang semakin terfragmentasi, daya saing justru dapat dibangun melalui kombinasi produktivitas, inovasi, spesialisasi, dan kebijakan yang membuat investasi menjadi layak.
Investment competitiveness scoreboard pada akhirnya menggeser cara melihat persaingan ekonomi. Pertanyaannya bukan hanya apakah sebuah negara memiliki regulasi yang baik atau tenaga kerja yang besar, tetapi apakah perusahaan melihat negara tersebut sebagai tempat terbaik untuk menempatkan modal berikutnya.
China menunjukkan kekuatan melalui skala investasi dan pembangunan kapasitas manufaktur. Amerika Serikat memperlihatkan kekuatan pada investasi teknologi, perangkat lunak, R&D, dan AI. Eropa menghadapi tantangan untuk menghidupkan kembali investasi agar posisi industrinya tidak terkikis. Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa daya saing bukan kondisi yang permanen. Ia terus dibentuk oleh keputusan investasi yang terjadi hari ini.
Karena investasi menambah kapasitas produksi, teknologi, dan inovasi, negara yang mampu menciptakan lingkungan tempat investasi produktif terus mengalir memiliki peluang lebih besar untuk meningkatkan produktivitas dan pertumbuhan pada masa depan. Dengan kata lain, investment competitiveness scoreboard bukan sekadar peringkat investasi, melainkan peta mengenai ke mana ekonomi global sedang bergerak.








