(Vibiznews-Kolom) Perekonomian Indonesia memasuki paruh kedua 2026 dengan gambaran yang tidak sederhana. Di satu sisi, fundamental ekonomi masih menunjukkan daya tahan. Pertumbuhan ekonomi semester pertama mencapai 5,45%, inflasi masih dinilai terkendali, defisit fiskal berada pada level yang relatif prudensial, sementara sektor perbankan memiliki likuiditas yang cukup dan pertumbuhan kredit yang tetap kuat. Namun di sisi lain, tekanan terhadap rupiah dan perubahan sentimen di pasar saham menunjukkan bahwa persoalan ekonomi Indonesia tidak lagi semata-mata mengenai angka pertumbuhan, tetapi juga menyangkut kepercayaan pelaku pasar.
Rupiah menjadi salah satu indikator yang paling mudah membaca perubahan persepsi tersebut. Dalam materi pasar yang dibahas, rupiah berada di kisaran Rp17.800 hingga Rp18.000 per dolar AS. Level Rp18.000 bahkan disebut sebagai angka psikologis yang penting bagi pasar. Bagi investor asing, persoalannya bukan hanya apakah harga saham Indonesia murah atau mahal, tetapi juga apakah keuntungan dari investasi saham mampu mengimbangi risiko pelemahan mata uang. Ketika rupiah melemah, investor asing dapat mengalami kerugian dari sisi kurs bahkan sebelum memperhitungkan keuntungan sahamnya.
Kondisi tersebut menjelaskan mengapa rupiah dan IHSG tidak bisa dilihat secara terpisah. Pasar saham dapat saja menemukan momentum penguatan ketika valuasi saham dianggap menarik, tetapi penguatan itu akan lebih berkelanjutan apabila nilai tukar stabil. Sebaliknya, rupiah yang terus mengalami tekanan dapat menjadi penghambat masuknya modal asing karena investor harus menghitung dua risiko sekaligus, yaitu risiko harga aset dan risiko mata uang.
Menariknya, materi Sarasehan 100 Ekonom Indonesia menunjukkan bahwa pasar modal Indonesia mulai memperlihatkan tanda perbaikan. OJK menyebut IHSG mulai rebound dan pergerakannya kembali lebih sejalan dengan sejumlah indeks utama. Investor nonresiden juga mulai kembali masuk secara month to date, sementara investor domestik dan investor ritel menunjukkan pertumbuhan. Ini menjadi sinyal bahwa kepercayaan pasar belum hilang, tetapi sedang dibangun kembali melalui perbaikan transparansi, likuiditas dan penegakan aturan.
Namun penguatan IHSG belum otomatis berarti seluruh persoalan ekonomi telah selesai. Justru di sinilah tantangan yang lebih besar muncul. Struktur pasar Indonesia sangat dipengaruhi oleh saham-saham berkapitalisasi besar, terutama sektor perbankan. Empat bank besar yang menjadi bagian penting dari indeks memiliki bobot signifikan terhadap IHSG. Karena itu, perubahan persepsi terhadap sektor keuangan dapat dengan cepat memengaruhi arah indeks secara keseluruhan. Materi pasar yang diunggah juga melihat sektor perbankan dan komoditas sebagai dua sektor yang masih menarik ketika valuasi sejumlah saham dianggap sudah mengalami koreksi cukup dalam.
Di sisi fundamental, sebenarnya terdapat modal yang cukup kuat untuk menopang pasar. Hingga pertengahan 2026, kredit perbankan tumbuh sekitar 13,6%, sementara likuiditas industri masih relatif memadai. Persoalannya adalah distribusi likuiditas tersebut belum merata. Pertumbuhan kredit korporasi dan kredit investasi jauh lebih tinggi dibandingkan pembiayaan kepada UMKM. Dengan kata lain, masalah Indonesia bukan semata-mata kekurangan uang di dalam sistem keuangan, melainkan bagaimana uang tersebut mengalir ke sektor produktif yang menciptakan permintaan, produksi dan lapangan kerja.
Bank Indonesia melihat persoalan tersebut tidak dapat diselesaikan hanya dengan kebijakan suku bunga. Suku bunga acuan berada di 5,75%, sementara kondisi global masih menghadirkan ketidakpastian. Di Amerika Serikat, inflasi dan imbal hasil obligasi yang tinggi dapat membuat kebijakan moneter global bertahan lebih ketat. Karena itu, penurunan suku bunga secara agresif berpotensi memberikan tekanan terhadap rupiah, tetapi mempertahankan suku bunga terlalu tinggi juga dapat menahan permintaan domestik dan investasi. Dilema inilah yang membuat kebijakan moneter harus dikombinasikan dengan kebijakan makroprudensial.
Bank Indonesia kemudian menggunakan insentif makroprudensial untuk mendorong bank menyalurkan pembiayaan ke sektor prioritas. Dana yang sebelumnya terserap dalam instrumen keuangan seperti SRBI dan surat berharga negara diharapkan dapat lebih banyak bergerak menuju kredit produktif. Dalam materi tersebut disebutkan bahwa SRBI juga mulai diturunkan secara bertahap, dengan tingkat imbal hasil yang turun dari sekitar 7,6% menuju sekitar 7%. Pendekatan bertahap diperlukan agar penyesuaian tidak menimbulkan guncangan baru di pasar keuangan.
Persoalan lain datang dari daya beli dan kepercayaan konsumen. Materi sebelumnya menunjukkan indeks kepercayaan konsumen mengalami penurunan, bersamaan dengan pelemahan PMI dan meningkatnya inflasi. Tekanan harga pangan dan energi disebut ikut menggerus daya beli masyarakat. Ketika konsumen menahan belanja, perusahaan juga menghadapi permintaan yang lebih lemah. Pada titik inilah hubungan antara ekonomi riil dan pasar keuangan menjadi semakin jelas. IHSG membutuhkan ekspektasi pertumbuhan laba perusahaan, sedangkan pertumbuhan laba membutuhkan ekonomi riil yang sehat.
Karena itu, tantangan terbesar Indonesia bukan sekadar bagaimana membuat IHSG naik atau rupiah kembali ke level tertentu. Tantangannya adalah menciptakan kombinasi kebijakan yang mampu memperkuat kepercayaan terhadap perekonomian tanpa mengorbankan pertumbuhan. Menaikkan suku bunga untuk mempertahankan rupiah memang dapat menjadi pilihan dalam situasi tertentu, tetapi biaya terhadap pertumbuhan harus diperhitungkan. Sebaliknya, menurunkan bunga terlalu cepat dapat memperbesar tekanan terhadap nilai tukar dan membuat aset rupiah kurang menarik bagi investor global.
Dari sisi fiskal, pemerintah masih memiliki ruang untuk menopang perekonomian. Hingga paruh kedua 2026, pendapatan negara disebut tumbuh 21,3%, belanja tumbuh 18,2%, sementara defisit baru sekitar 0,91% terhadap PDB. Untuk 2027, pemerintah merencanakan pendapatan Rp3.426 triliun dan belanja Rp4.097,2 triliun dengan defisit sekitar 2,4%. Tantangannya bukan sekadar memperbesar belanja, tetapi memastikan belanja tersebut menghasilkan investasi, produktivitas dan lapangan kerja.
Di sinilah kredibilitas fiskal menjadi sangat penting bagi rupiah dan IHSG. Investor tidak hanya membaca besarnya defisit, tetapi juga melihat kemampuan pemerintah mengelola utang, penerimaan negara dan kualitas belanja. Menteri Keuangan dalam forum tersebut menyebut sekitar 87% surat utang pemerintah telah dipegang investor domestik. Struktur tersebut dinilai memberikan bantalan lebih besar terhadap gejolak eksternal karena ketergantungan terhadap pemodal asing dalam pembiayaan pemerintah menjadi lebih rendah. Pemerintah juga berupaya melakukan diversifikasi sumber pembiayaan untuk memperoleh biaya dana yang lebih rendah.
Dengan demikian, rupiah dan IHSG sesungguhnya sedang membaca cerita yang sama. Rupiah membaca kepercayaan terhadap aset Indonesia dari sisi mata uang, sedangkan IHSG membaca kepercayaan terhadap prospek perusahaan dan perekonomian. Keduanya dapat bergerak berbeda dalam jangka pendek, tetapi dalam jangka menengah akan semakin sulit dipisahkan dari kualitas pertumbuhan ekonomi, kebijakan fiskal, suku bunga, arus modal dan kondisi sektor riil.
Indonesia masih memiliki alasan untuk optimistis. Pertumbuhan semester pertama 5,45%, inflasi masih manageable, sistem perbankan memiliki likuiditas yang cukup, kredit tumbuh dua digit, dan pasar saham mulai menunjukkan tanda pemulihan. Tetapi optimisme tersebut harus dibangun di atas fondasi yang lebih kuat. Pemerintah, Bank Indonesia, OJK dan LPS sendiri menekankan pentingnya sinergi kebijakan karena kompleksitas ekonomi global membuat tidak ada satu instrumen yang mampu menyelesaikan seluruh persoalan.
Pertarungan berikutnya karena itu bukan sekadar mempertahankan IHSG agar tetap naik atau mencegah rupiah menembus level psikologis tertentu. Yang lebih penting adalah memastikan bahwa stabilitas pasar keuangan berjalan beriringan dengan pertumbuhan ekonomi. Jika kredit benar-benar mengalir ke sektor produktif, konsumsi kembali menguat, investasi meningkat, fiskal tetap kredibel dan kebijakan moneter mampu menjaga keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan, maka tekanan terhadap rupiah dapat berkurang dan ruang bagi IHSG untuk melanjutkan pemulihan akan semakin besar.
Pasar pada akhirnya tidak hanya mencari angka pertumbuhan. Pasar mencari keyakinan bahwa pertumbuhan tersebut dapat bertahan. Dan dalam kondisi global yang penuh ketidakpastian, kepercayaan itulah yang menjadi mata uang paling penting bagi rupiah dan IHSG.






