Rekomendasi Harga Kakao 8 September 2026

67

(Vibiznews – Commodity) Harga kakao di bursa komoditi berjangka New York terpantau bergerak melemah tipis pada perdagangan hari ini, Selasa, 8 September 2026, tertekan oleh meningkatnya indikasi pemulihan pasokan fisik dari negara produsen utama.

Perdagangan kontrak berjangka kakao di bursa ICE New York hari ini bergerak turun sekitar 0,77 persen dan diperdagangkan di bawah level 6.200 dolar AS per ton, atau tepatnya bertengger di kisaran 6.140 dolar AS per metrik ton. Meskipun harga kakao saat ini telah terkoreksi dari rekor tertinggi ekstremnya pada periode tahun 2024 hingga 2025, secara struktural komoditas bahan baku cokelat ini masih tergolong mahal jika dibandingkan dengan rata-rata historis jangka panjangnya. Pasar kakao global saat ini tengah berada dalam masa transisi menuju titik keseimbangan baru setelah mengalami krisis pasokan yang cukup parah dalam dua tahun terakhir.

Penurunan harga kakao pada sesi perdagangan hari ini utamanya dipicu oleh faktor membaiknya pasokan dari Pantai Gading, produsen kakao terbesar di dunia. Data terbaru di lapangan menunjukkan bahwa para petani di negara tersebut telah berhasil mengirimkan 2,14 juta ton kakao ke pelabuhan hingga tanggal 30 Agustus lalu, mencatatkan kenaikan yang signifikan sebesar 19 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Tingginya arus pengiriman ini secara langsung menambah kelonggaran di pasar fisik global.

Kondisi kelonggaran pasokan tersebut juga tercermin jelas pada persediaan kakao yang terdaftar resmi di bursa ICE, yang dilaporkan melonjak ke level tertinggi dalam dua tahun terakhir hingga mencapai 3.411.776 kantong per 1 September. Penumpukan stok di gudang bursa ini dinilai cukup efektif dalam meredam kepanikan para pelaku industri manufaktur cokelat yang sebelumnya sempat melanda pasar pada awal tahun.

Di samping faktor fundamental melimpahnya pasokan, pergerakan harga juga tertekan oleh aksi ambil untung dari para pelaku pasar berjangka. Setelah komoditas pertanian ini sempat membukukan kenaikan jangka pendek sekitar 3,5 persen selama satu bulan terakhir, para spekulator dan pengelola dana investasi memanfaatkan momentum membaiknya situasi pasokan untuk mencairkan keuntungan mereka, yang turut mendorong harga bergerak menembus zona merah hari ini.

Sementara itu, Pantai Gading juga mengumumkan sebuah langkah strategis jangka panjang untuk menggandakan kapasitas pengolahan atau hilirisasi kakao domestiknya. Negara tersebut berencana meningkatkan kapasitas pengolahan menjadi 1,3 juta ton pada musim 2026/2027 mendatang, naik cukup tajam dari kapasitas sebelumnya yang hanya sebesar 650.000 ton.

Meskipun didera oleh berbagai sentimen negatif yang menekan harga, laju koreksi kakao terpantau tidak anjlok terlalu dalam karena para pelaku pasar masih diselimuti oleh kekhawatiran terkait kondisi cuaca ekstrem di Afrika Barat. Curah hujan yang terlalu deras dan tingkat kelembapan yang tinggi di wilayah perkebunan telah meningkatkan risiko meluasnya penyebaran penyakit tanaman seperti penyakit busuk buah. Selain itu, adanya peringatan dari lembaga riset mengenai potensi datangnya fenomena iklim El Nino yang baru terus memberikan bayangan ancaman terhadap proyeksi total panen untuk periode musim 2026/2027.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya, pergerakan harga kakao berpotensi bergerak konsolidasi dengan kecenderungan melemah menguji level support terdekat seiring kuatnya sentimen melimpahnya stok di bursa ICE dan derasnya pasokan awal panen. Harga kakao diperkirakan akan bergerak menguji kisaran support di 6.100 hingga 6.000 dolar AS per metrik ton. Namun apabila sentimen kekhawatiran cuaca dan ancaman penyakit tanaman kembali memicu aksi beli spekulatif, pergerakan harga akan mencoba berbalik arah menguji kisaran resistance di 6.200 hingga 6.280 dolar AS per metrik ton.